Lebih Dari 350 Ilmuwan India Desak PM Modi Bersikap Terbuka Soal Data Covid

Lebih dari 350 ilmuwan India meminta Perdana Menteri Narendra Modi untuk bersikap terbuka dalam menyampaikan data-data Covid-19 di Tanah Bollywood.

Termasuk urutan varian virus, pengujian spesimen, pasien yang pulih, dan respon orang terhadap vaksin.

Permintaan tersebut disampaikan para ilmuwan India via petisi online. 

Data yang benar, akan membantu para ilmuwan menyelamatkan lebih banyak nyawa warga India, di tengah lonjakan kasus Covid yang naik terus menerus.

Tsunami Covid di India mendorong tentara membuka berbagai rumah sakit, di tengah upaya putus asa dalam mengatasi krisis kemanusiaan ini.

Per hari ini, Jumat (30/4), India melaporkan lebih dari 18,7 juta kasus terkonfirmasi sejak pandemi Covid berlangsung.

India kini berada di peringkat dua negara paling terdampak Covid, setelah Amerika Serikat (AS).

Kementerian Kesehatan India melaporkan, dalam 24 jam terakhir, India mencatat 3.498 kasus kematian. Sehingga, total angka kematian kini tembus 208.330.

Para ahli haqqul yakin, angka-angka ini jauh di bawah angka yang sebenarnya. Namun, mereka tak tahu angka persisnya.

“Data rinci pengujian spesimen tidak bisa diakses oleh para ahli. Baik di dalam atau di luar pemerintahan. Analisis model yang memprediksi lonjakan kasus yang dibuat pemerintah bersama para ahli, dibuat tanpa informasi yang memadai. Ini juga menyulitkan para ilmuwan dalam memperkirakan jumlah bed RS, kebutuhan oksigen, atau fasilitas perawatan intensif yang diperlukan,” demikian petikan petisi online tersebut, seperti dikutip AP, Jumat (30/4).

Selain itu, para ilmuwan juga mendesak pemerintah untuk memperbesar organisasi yang mengurutkan virus, untuk mempelajari evolusinya dan meningkatkan jumlah sampel yang sedang dipelajari.

Pembatasan impor bahan mentah berbasis saintifik yang diniatkan Modi untuk memandirikan India, jadi satu kendala tersendiri di tengah situasi Covid.

Sementara keluarga pasien Covid membanjiri media sosial dan aplikasi pesan dengan permintaan bantuan oksigen, bed RS, obat-obatan, unit perawatan intensif, dan kayu untuk kremasi.

 

Kepala Angkatan Bersenjata India MM Naravane telah bertemu PM Narendra Modi untuk membahas krisis Covid pada Kamis (30/4).

Dalam pertemuan tersebut, Naravane mengatakan, warga yang sakit dapat berobat ke RS militer terdekat. Tentara disiagakan untuk membantu pasien dengan tanker oksigen impor dan kendaraan yang membutuhkan keterampilan khusus.

Selama lebih dari sepekan, India telah mencatat rekor harian Covid dengan rata-rata di atas 350 ribu kasus per hari. Sementara kasus kematian harian di negara tersebut, nyaris 3 kali lipat dibanding 3 pekan sebelumnya.

Seperti dilansir koran Times of India, di Uttar Pradesh, negara bagian India yang paling banyak jumlah penduduknya, organisasi guru melaporkan lebih dari 550 anggotanya meninggal dunia setelah terinfeksi Covid, saat membantu pemilihan dewan lokal pada bulan ini.

Para ahli menilai, tsunami Covid di India dipicu oleh varian virus baru yang mudah menular, dan kumpul-kumpul dalam jumlah besar seperti kampanye politik dan event keagamaan.

Kamis (29/4) lalu, jutaan orang mencoblos di Pemilu Benggala Barat. Sedikit sekali yang melaksanakan social distancing.

Di negara bagian selatan Karnataka, Menteri Pendapatan R Ashoka mengatakan, hampir 2.000 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah telah mematikan ponsel mereka dan tidak dapat dilacak.

“Polisi berusaha melacak keberadaan mereka karena mereka mungkin mencari tempat rawat inap sendiri,” kata Ashoka.

Di negara bagian Madhya Pradesh tengah, tiga desa di distrik Balaghat patungan untuk mengubah sebuah bangunan menjadi pusat perawatan Covid-19.

Mereka telah membeli konsentrator oksigen dan mulai menerima pasien. Dokter pemerintah rutin mengunjungi fasilitas tersebut dua kali sehari.

 

India berencana memperluas cakupan vaksinasi, dengan mengikutsertakan orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, mulai Sabtu (1/5) besok.

Total 150 juta dosis vaksin, telah diluncurkan India dalam program vaksinasi Covid.

Asal tahu saja, sejak menjalani program vaksinasi pada Januari 2021, hampir 10 persen warga India telah menerima satu dosis.

Namun, yang sudah lengkap vaksinasinya baru 1,5 persen. Padahal, India adalah salah satu produsen vaksin terbesar di dunia.

Menteri Kesehatan Harash Vardhan berharap, bantuan yang dikirimkan oleh lebih dari 40 negara akan menutup kekurangan pasokan medis.

Amerika Serikat mengirim peralatan medis senilai lebih dari 100 juta dolar AS atau Rp 1,45 triliun. Bantuan medis itu mencakup 1.000 tabung oksigen, 15 juta masker N95, dan 1 juta tes diagnostik cepat.

Sementara Jepang, menyatakan siap mengirim 300 ventilator dan 300 konsentrator oksigen pada Jumat (30/4), sebagai respon atas permintaan bantuan dari pemerintah India.

“Jepang mendukung India, teman dan mitra kami,” kata Kementerian Luar Negeri Jepang, seperti dikutip AP.

Prancis, Jerman, Irlandia, dan Australia juga menjanjikan bantuan. Sedangkan Rusia, mengirim dua pesawat yang membawa peralatan penghasil oksigen.

Angkatan udara India juga mengangkut kontainer oksigen dari Singapura, Dubai dan Bangkok.

Media pemerintah China mengatakan, gelombang pertama 25 ribu konsentrator oksigen yang dijanjikan oleh Beijing ke India, tiba pada Jumat (30/4).

AP menyebut, hingga saat ini belum ada komentar langsung dari India.Namun, diplomasi medis ini bisa menjadi langkah untuk mencairkan ketegangan antara kedua negara.

Laporan tersebut mengungkap, China telah mengirim 5.000 ventilator dan 21 ribu generator oksigen ke India. [HES]

]]> Lebih dari 350 ilmuwan India meminta Perdana Menteri Narendra Modi untuk bersikap terbuka dalam menyampaikan data-data Covid-19 di Tanah Bollywood.

Termasuk urutan varian virus, pengujian spesimen, pasien yang pulih, dan respon orang terhadap vaksin.

Permintaan tersebut disampaikan para ilmuwan India via petisi online. 

Data yang benar, akan membantu para ilmuwan menyelamatkan lebih banyak nyawa warga India, di tengah lonjakan kasus Covid yang naik terus menerus.

Tsunami Covid di India mendorong tentara membuka berbagai rumah sakit, di tengah upaya putus asa dalam mengatasi krisis kemanusiaan ini.

Per hari ini, Jumat (30/4), India melaporkan lebih dari 18,7 juta kasus terkonfirmasi sejak pandemi Covid berlangsung.

India kini berada di peringkat dua negara paling terdampak Covid, setelah Amerika Serikat (AS).

Kementerian Kesehatan India melaporkan, dalam 24 jam terakhir, India mencatat 3.498 kasus kematian. Sehingga, total angka kematian kini tembus 208.330.

Para ahli haqqul yakin, angka-angka ini jauh di bawah angka yang sebenarnya. Namun, mereka tak tahu angka persisnya.

“Data rinci pengujian spesimen tidak bisa diakses oleh para ahli. Baik di dalam atau di luar pemerintahan. Analisis model yang memprediksi lonjakan kasus yang dibuat pemerintah bersama para ahli, dibuat tanpa informasi yang memadai. Ini juga menyulitkan para ilmuwan dalam memperkirakan jumlah bed RS, kebutuhan oksigen, atau fasilitas perawatan intensif yang diperlukan,” demikian petikan petisi online tersebut, seperti dikutip AP, Jumat (30/4).

Selain itu, para ilmuwan juga mendesak pemerintah untuk memperbesar organisasi yang mengurutkan virus, untuk mempelajari evolusinya dan meningkatkan jumlah sampel yang sedang dipelajari.

Pembatasan impor bahan mentah berbasis saintifik yang diniatkan Modi untuk memandirikan India, jadi satu kendala tersendiri di tengah situasi Covid.

Sementara keluarga pasien Covid membanjiri media sosial dan aplikasi pesan dengan permintaan bantuan oksigen, bed RS, obat-obatan, unit perawatan intensif, dan kayu untuk kremasi.

 

Kepala Angkatan Bersenjata India MM Naravane telah bertemu PM Narendra Modi untuk membahas krisis Covid pada Kamis (30/4).

Dalam pertemuan tersebut, Naravane mengatakan, warga yang sakit dapat berobat ke RS militer terdekat. Tentara disiagakan untuk membantu pasien dengan tanker oksigen impor dan kendaraan yang membutuhkan keterampilan khusus.

Selama lebih dari sepekan, India telah mencatat rekor harian Covid dengan rata-rata di atas 350 ribu kasus per hari. Sementara kasus kematian harian di negara tersebut, nyaris 3 kali lipat dibanding 3 pekan sebelumnya.

Seperti dilansir koran Times of India, di Uttar Pradesh, negara bagian India yang paling banyak jumlah penduduknya, organisasi guru melaporkan lebih dari 550 anggotanya meninggal dunia setelah terinfeksi Covid, saat membantu pemilihan dewan lokal pada bulan ini.

Para ahli menilai, tsunami Covid di India dipicu oleh varian virus baru yang mudah menular, dan kumpul-kumpul dalam jumlah besar seperti kampanye politik dan event keagamaan.

Kamis (29/4) lalu, jutaan orang mencoblos di Pemilu Benggala Barat. Sedikit sekali yang melaksanakan social distancing.

Di negara bagian selatan Karnataka, Menteri Pendapatan R Ashoka mengatakan, hampir 2.000 pasien Covid-19 yang dirawat di rumah telah mematikan ponsel mereka dan tidak dapat dilacak.

“Polisi berusaha melacak keberadaan mereka karena mereka mungkin mencari tempat rawat inap sendiri,” kata Ashoka.

Di negara bagian Madhya Pradesh tengah, tiga desa di distrik Balaghat patungan untuk mengubah sebuah bangunan menjadi pusat perawatan Covid-19.

Mereka telah membeli konsentrator oksigen dan mulai menerima pasien. Dokter pemerintah rutin mengunjungi fasilitas tersebut dua kali sehari.

 

India berencana memperluas cakupan vaksinasi, dengan mengikutsertakan orang dewasa berusia 18 tahun ke atas, mulai Sabtu (1/5) besok.

Total 150 juta dosis vaksin, telah diluncurkan India dalam program vaksinasi Covid.

Asal tahu saja, sejak menjalani program vaksinasi pada Januari 2021, hampir 10 persen warga India telah menerima satu dosis.

Namun, yang sudah lengkap vaksinasinya baru 1,5 persen. Padahal, India adalah salah satu produsen vaksin terbesar di dunia.

Menteri Kesehatan Harash Vardhan berharap, bantuan yang dikirimkan oleh lebih dari 40 negara akan menutup kekurangan pasokan medis.

Amerika Serikat mengirim peralatan medis senilai lebih dari 100 juta dolar AS atau Rp 1,45 triliun. Bantuan medis itu mencakup 1.000 tabung oksigen, 15 juta masker N95, dan 1 juta tes diagnostik cepat.

Sementara Jepang, menyatakan siap mengirim 300 ventilator dan 300 konsentrator oksigen pada Jumat (30/4), sebagai respon atas permintaan bantuan dari pemerintah India.

“Jepang mendukung India, teman dan mitra kami,” kata Kementerian Luar Negeri Jepang, seperti dikutip AP.

Prancis, Jerman, Irlandia, dan Australia juga menjanjikan bantuan. Sedangkan Rusia, mengirim dua pesawat yang membawa peralatan penghasil oksigen.

Angkatan udara India juga mengangkut kontainer oksigen dari Singapura, Dubai dan Bangkok.

Media pemerintah China mengatakan, gelombang pertama 25 ribu konsentrator oksigen yang dijanjikan oleh Beijing ke India, tiba pada Jumat (30/4).

AP menyebut, hingga saat ini belum ada komentar langsung dari India.Namun, diplomasi medis ini bisa menjadi langkah untuk mencairkan ketegangan antara kedua negara.

Laporan tersebut mengungkap, China telah mengirim 5.000 ventilator dan 21 ribu generator oksigen ke India. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories