Yuk, Kuatkan Literasi Digital Dan Bijak Gunakan Medsos

Di era sekarang, media sosial (medsos) sudah menjadi “teman” sehari-hari masyarakat. Namun, gara-gara medsos, sering muncul kasus perselisihan bahkan sampai masuk ke ranah hukum. 

Melihat kondisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan Siberkreasi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Webinar Digital Skills “Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak, Kreatif dan Inovatif” Kamis (25/3). Webinar ini ditujukan untuk mengedukasi masyarakat agar bijak dalam bermedsos. Webinar ditayangkan secara live melalui di Kanal YouTube Siberkreasi, Kemenkominfo TV, Direktorat Sekolah Dasar, dan Pendidikan.id.

Pada pembukaan, Dirjen Aptika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pengerapan menyampaikan pesan bahwa salah satu pilar penting dalam mendukung terwujudnya agenda transformasi digital adalah menciptakan masyarakat digital. Kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya.

“Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat, literasi digital merupakan kunci dan pondasi utama yang harus kita semua miliki. Pemerintah akan terus melakukan upaya meningkatkan literasi digital masyarakat lewat berbagai macam inisiatif kegiatan,” jelasnya.

Widyaprada Ahli Utama Kemendikbud Hurip Danu Ismadi menambahkan, penggunaan medsos harus disikapi dengan bijaksana, kreatif, dan inovatif. Terutama di dalam abad disinformasi seperti sekarang, ketika banyak terjadi dampak negatif dari informasi digital seperti berita bohong yang menyesatkan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

Hurip berpendapat bahwa ke depannya diperlukan identitas baru yang menguatkan karakter masyarakat. “Di abad ke-21 ini, yang kita butuhkan ada tiga hal. Pertama, karakter yang harus dibangun secara kuat. Kedua, kompetensi yang harus dimiliki anak-anak kita yang mencerminkan karakter bangsa. Ketiga, pengembangan literasi agar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. 

Koordinator Gerakan #BijakBersosmed Enda Nasution menambahkan, salah satu kunci untuk bijak dan santun dalam bermedia sosial adalah dari segi pendidikan.

Menurut Enda, hampir 200 juta pengguna internet di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perilaku, latar belakang, dan lokasi, sehingga sangat mungkin dan tidak mengherankan jika terjadi kesalahpahaman atau konflik horizontal terjadi saat bertemu di satu tempat atau platform.

“Dengan jumlah pengguna yang makin besar ini, tentunya cara kita bernavigasi di dunia maya sangatlah penting. Agar tidak menimbulkan masalah terutama dari sisi pendidikan,” kata Enda.  

Menurutnya, saat ini tenaga pendidik dan peserta didik harus melakukan kegiatan secara daring. Artinya, yang dulu tidak terbiasa, kini harus mulai menyesuaikan. “Solusi terbaik yang bisa kita lakukan secara pribadi dan non-pribadi adalah dengan meningkatkan pemahaman akan bermedia sosial, lebih aware dengan yang terjadi, memiliki empati lebih terhadap yang disampaikan pada media sosial, dan menahan diri untuk tidak menyerang,” jelas Enda.

Digital Content Creator Zata Ligouw menegaskan, peran orang tua sangatlah penting dalam mengajarkan etika bermedia sosial pada anak. “Saat anak meminta untuk memiliki gadget dan media sosial sendiri, yang utama harus dilakukan adalah lihat sisi kesiapannya. Lalu sesuaikan dengan value keluarga, tetap dimonitor namun beri ruang. Terakhir, relakan,” jelas Zata. [USU]

]]> Di era sekarang, media sosial (medsos) sudah menjadi “teman” sehari-hari masyarakat. Namun, gara-gara medsos, sering muncul kasus perselisihan bahkan sampai masuk ke ranah hukum. 

Melihat kondisi, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan Siberkreasi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Webinar Digital Skills “Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak, Kreatif dan Inovatif” Kamis (25/3). Webinar ini ditujukan untuk mengedukasi masyarakat agar bijak dalam bermedsos. Webinar ditayangkan secara live melalui di Kanal YouTube Siberkreasi, Kemenkominfo TV, Direktorat Sekolah Dasar, dan Pendidikan.id.

Pada pembukaan, Dirjen Aptika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pengerapan menyampaikan pesan bahwa salah satu pilar penting dalam mendukung terwujudnya agenda transformasi digital adalah menciptakan masyarakat digital. Kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya.

“Dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sangat cepat, literasi digital merupakan kunci dan pondasi utama yang harus kita semua miliki. Pemerintah akan terus melakukan upaya meningkatkan literasi digital masyarakat lewat berbagai macam inisiatif kegiatan,” jelasnya.

Widyaprada Ahli Utama Kemendikbud Hurip Danu Ismadi menambahkan, penggunaan medsos harus disikapi dengan bijaksana, kreatif, dan inovatif. Terutama di dalam abad disinformasi seperti sekarang, ketika banyak terjadi dampak negatif dari informasi digital seperti berita bohong yang menyesatkan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

Hurip berpendapat bahwa ke depannya diperlukan identitas baru yang menguatkan karakter masyarakat. “Di abad ke-21 ini, yang kita butuhkan ada tiga hal. Pertama, karakter yang harus dibangun secara kuat. Kedua, kompetensi yang harus dimiliki anak-anak kita yang mencerminkan karakter bangsa. Ketiga, pengembangan literasi agar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. 

Koordinator Gerakan #BijakBersosmed Enda Nasution menambahkan, salah satu kunci untuk bijak dan santun dalam bermedia sosial adalah dari segi pendidikan.

Menurut Enda, hampir 200 juta pengguna internet di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perilaku, latar belakang, dan lokasi, sehingga sangat mungkin dan tidak mengherankan jika terjadi kesalahpahaman atau konflik horizontal terjadi saat bertemu di satu tempat atau platform.

“Dengan jumlah pengguna yang makin besar ini, tentunya cara kita bernavigasi di dunia maya sangatlah penting. Agar tidak menimbulkan masalah terutama dari sisi pendidikan,” kata Enda.  

Menurutnya, saat ini tenaga pendidik dan peserta didik harus melakukan kegiatan secara daring. Artinya, yang dulu tidak terbiasa, kini harus mulai menyesuaikan. “Solusi terbaik yang bisa kita lakukan secara pribadi dan non-pribadi adalah dengan meningkatkan pemahaman akan bermedia sosial, lebih aware dengan yang terjadi, memiliki empati lebih terhadap yang disampaikan pada media sosial, dan menahan diri untuk tidak menyerang,” jelas Enda.

Digital Content Creator Zata Ligouw menegaskan, peran orang tua sangatlah penting dalam mengajarkan etika bermedia sosial pada anak. “Saat anak meminta untuk memiliki gadget dan media sosial sendiri, yang utama harus dilakukan adalah lihat sisi kesiapannya. Lalu sesuaikan dengan value keluarga, tetap dimonitor namun beri ruang. Terakhir, relakan,” jelas Zata. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories