Yuk Kenali Gejala Hemofilia Dan Cara Mengatasinya

<p>Hemofilia atau kelainan pembekuan darah di Indonesia cukup banyak. Data resmi tahun 2021 terdapat 27.636 kasus.</p>

<p>Ada sebagian pasien kerap datang dalam kondisi terlambat dan berisiko disabilitas hingga kematian.</p>

<p>Dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp. A (K), mengatakan,&nbsp;setiap bulannya ada 2 hingga 3 kasus baru. 50 persennya datang dalam kondisi terlambat.</p>

<p>&ldquo;Sudah komplikasi. Pendarahan otot yang akhirnya menjepit syaraf atau pendarahan sendi yang berulang yang mengakibatkan sendi mengalami kerusakan atau artropati hemofilik,&rdquo; ujar Novie, dalam keterangannya, Rabu (31/5/).</p>

<p>Penyakit ini juga berbiaya mahal. Dari data BPJS Kesehatan pada 2020, hemofilia merupakan penyakit keenam terbesar dalam klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).</p>

<p>Gejala hemofilia biasanya muncul pada anak laki-laki yang memiliki ibu carier atau pembawa. Penyebab hemofilia adalah kekurangan faktor pembeku darah dalam plasma darah.</p>

<p>Ada tiga derajat tingkat keparahan hemofilia, yakni ringan (kadar faktor pembekuan darah 5-40 persen), sedang (kadar faktor pembekuan darah 1-5 persen), dan berat (kadar faktor pembekuan darah 1 persen).</p>

<p>Pada keadaan berat, pendarahan dalam otot dapat terjadi meski tidak ada sebab.</p>

<p>&quot;Sejauh ini belum ada skrining khusus untuk melihat apakah memiliki hemofilia atau tidak,&quot; ujar Novie.</p>

<p>Menurutnya sejauh ini yang dilakukan adalah skrining melalui riwayat keluarga yang sering mengalami perdarahan. Bisa juga dengan mengamati kondisi anak yang mudah terluka.</p>

<p>&ldquo;Jika di sekitar kita ada bayi atau balita laki-laki, mudah memar, dan sendi besar (lutut dan siku) bengkak, segera dikonsultasikan ke dokter,&rdquo; ujar Novie.</p>

<p>Novie mewanti-wanti apabila anak sudah terdiagnosa sejak dini, diharapkan orang tua memberikan ruang yang aman bagi pergerakan anak.</p>

<p>Sebab menurutnya, pada pasien hemofilia, benturan atau trauma ringan saja dapat menyebabkan pendarahan dalam ototnya.</p>

<p>&ldquo;Di sini kami memiliki panduan yang baru agar pengobatannya tidak berbasis sudah muncul gejala yang berat baru diobati, tapi berusaha dicegah,&rdquo; ungkapnya.</p>

<p>Novie menegaskan pentingnya pendidikan dan pemberdayaan individu terkait hemofilia, keluarga mereka, dan penyedia layanan kesehatan tentang manajemen perdarahan akut.</p>

<p>Tujuannya untuk intervensi tepat waktu dan mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.</p>

<p>&ldquo;Harus banyak pihak yang terus mengingatkan pentingnya hal ini,&rdquo; ujar Novie.</p>

<p>Sementara itu, Vice President &amp; General Manager, Novo Nordisk Indonesia, Sreerekha Sreenivasan berharap dapat memberdayakan orang dengan hemofilia. Sehingga mereka bisa hidup tanpa batasan.</p>

<p>&ldquo;Yang terpenting mereka kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan yang mereka sukai dan mencapai potensi mereka sepenuhnya,&quot; katanya.</p>

<p>Novo Nordisk, terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan bekerja sama secara erat dengan profesional perawatan kesehatan, organisasi pasien, dan organisasi yang bergelut di bidang hemofilia.</p>

<p>&quot;Merayakan tahun ke-100, Novo Nordiks ingin memberikan dukungan, edukasi, dan solusi inovatif guna meningkatkan mereka yang menderita penyakit kelainan darah,&quot; ujar Sreerekha dalam keterangannya, Rabu (31/5).</p>

<p>Salah satu wujudnya, kata Sreerekha, dengan menyediakan artikel tentang hemofilia yang terjadi pada anak-anak yang tersedia di aplikasi PrimaKu yang didukung oleh Novo Nordisk.</p>

<p>&quot;Selain itu juga mengembangkan inisiatif seperti Changing Haemophilia untuk mengatasi kebutuhan yang belum terpenuhi dari penderita hemofilia dan kelainan darah langka lainnya,&quot; ujar Sreerekha. ■</p> <p>Hemofilia atau kelainan pembekuan darah di Indonesia cukup banyak. Data resmi tahun 2021 terdapat 27.636 kasus.</p>

<p>Ada sebagian pasien kerap datang dalam kondisi terlambat dan berisiko disabilitas hingga kematian.</p>

<p>Dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi, Dr. dr. Novie Amelia Chozie, Sp. A (K), mengatakan,&nbsp;setiap bulannya ada 2 hingga 3 kasus baru. 50 persennya datang dalam kondisi terlambat.</p>

<p>&ldquo;Sudah komplikasi. Pendarahan otot yang akhirnya menjepit syaraf atau pendarahan sendi yang berulang yang mengakibatkan sendi mengalami kerusakan atau artropati hemofilik,&rdquo; ujar Novie, dalam keterangannya, Rabu (31/5/).</p>

<p>Penyakit ini juga berbiaya mahal. Dari data BPJS Kesehatan pada 2020, hemofilia merupakan penyakit keenam terbesar dalam klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).</p>

<p>Gejala hemofilia biasanya muncul pada anak laki-laki yang memiliki ibu carier atau pembawa. Penyebab hemofilia adalah kekurangan faktor pembeku darah dalam plasma darah.</p>

<p>Ada tiga derajat tingkat keparahan hemofilia, yakni ringan (kadar faktor pembekuan darah 5-40 persen), sedang (kadar faktor pembekuan darah 1-5 persen), dan berat (kadar faktor pembekuan darah 1 persen).</p>

<p>Pada keadaan berat, pendarahan dalam otot dapat terjadi meski tidak ada sebab.</p>

<p>&quot;Sejauh ini belum ada skrining khusus untuk melihat apakah memiliki hemofilia atau tidak,&quot; ujar Novie.</p>

<p>Menurutnya sejauh ini yang dilakukan adalah skrining melalui riwayat keluarga yang sering mengalami perdarahan. Bisa juga dengan mengamati kondisi anak yang mudah terluka.</p>

<p>&ldquo;Jika di sekitar kita ada bayi atau balita laki-laki, mudah memar, dan sendi besar (lutut dan siku) bengkak, segera dikonsultasikan ke dokter,&rdquo; ujar Novie.</p>

<p>Novie mewanti-wanti apabila anak sudah terdiagnosa sejak dini, diharapkan orang tua memberikan ruang yang aman bagi pergerakan anak.</p>

<p>Sebab menurutnya, pada pasien hemofilia, benturan atau trauma ringan saja dapat menyebabkan pendarahan dalam ototnya.</p>

<p>&ldquo;Di sini kami memiliki panduan yang baru agar pengobatannya tidak berbasis sudah muncul gejala yang berat baru diobati, tapi berusaha dicegah,&rdquo; ungkapnya.</p>

<p>Novie menegaskan pentingnya pendidikan dan pemberdayaan individu terkait hemofilia, keluarga mereka, dan penyedia layanan kesehatan tentang manajemen perdarahan akut.</p>

<p>Tujuannya untuk intervensi tepat waktu dan mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.</p>

<p>&ldquo;Harus banyak pihak yang terus mengingatkan pentingnya hal ini,&rdquo; ujar Novie.</p>

<p>Sementara itu, Vice President &amp; General Manager, Novo Nordisk Indonesia, Sreerekha Sreenivasan berharap dapat memberdayakan orang dengan hemofilia. Sehingga mereka bisa hidup tanpa batasan.</p>

<p>&ldquo;Yang terpenting mereka kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan yang mereka sukai dan mencapai potensi mereka sepenuhnya,&quot; katanya.</p>

<p>Novo Nordisk, terus berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan bekerja sama secara erat dengan profesional perawatan kesehatan, organisasi pasien, dan organisasi yang bergelut di bidang hemofilia.</p>

<p>&quot;Merayakan tahun ke-100, Novo Nordiks ingin memberikan dukungan, edukasi, dan solusi inovatif guna meningkatkan mereka yang menderita penyakit kelainan darah,&quot; ujar Sreerekha dalam keterangannya, Rabu (31/5).</p>

<p>Salah satu wujudnya, kata Sreerekha, dengan menyediakan artikel tentang hemofilia yang terjadi pada anak-anak yang tersedia di aplikasi PrimaKu yang didukung oleh Novo Nordisk.</p>

<p>&quot;Selain itu juga mengembangkan inisiatif seperti Changing Haemophilia untuk mengatasi kebutuhan yang belum terpenuhi dari penderita hemofilia dan kelainan darah langka lainnya,&quot; ujar Sreerekha. ■</p>.

Sumber : Berita Lifestyle, Kuliner, Travel, Kesehatan, Tips .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories