Yorrys: Urgent, TNI/Polri Harus Ada Di Bidang Kedaruratan BNPB .

Ketua Komite II DPD Yorrys Raweyai terkesan dengan kinerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di bawah komando Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo.

Yorrys adalah salah satu peserta rombongan kunjungan Kepala BNPB ke lokasi bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bertolak dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (5/4) pukul 05.00 WIB.

Yorrys langsung merasakan denyut irama kerja BNPB, dalam menanggulangi bencana secara langsung. Termasuk, dinamika jadwal kunjungan serta kondisi-kondisi kedaruratan lainnya.

Dalam sebuah kesempatan, Yorrys memuji kesigapan Kepala BNPB dalam mengkoordinasi penanggulangan bencana. Termasuk, melibatkan secara penuh unsur TNI/Polri dalam proses tanggap darurat.

“Tanpa prajurit TNI/Polri, entah apa jadinya…,” ujar Yorrys yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua itu.

Mengingat kondisi Indonesia yang rawan bencana sepanjang tahun, Yorrys menilai kehadiran TNI/Polri aktif di jajaran BNPB, sangat diperlukan. Utamanya, untuk menduduki posisi-posisi jabatan bidang kedaruratan.

Seperti tersentak dari lamunan, mendadak ia bertanya, “Sampai di mana pembahasan revisi UU Penanggulangan Bencana?”

Seperti diketahui, pembahasan revisi UU Penanggulangan Bencana dibahas di Komisi VIII DPR.

“Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 tahun 2007, memang perlu direvisi untuk memperkuat posisi BNPB dengan dimasukkannya unsur TNI/Polri menduduki jabatan bidang kedaruratan di BNPB. Inti urgent,” tegasnya.

Terlebih, setelah Yorrys mengetahui, tak ada satu pun pejabat eselon 1 dan 2 di BNPB yang berasal dari unsur TNI-Polri aktif.

“Mungkin karena Undang-Undang sebelumnya tidak memungkinkan. Tetapi, dengan kesempatan revisi ini, menurut saya, mutlak harus dibuka kemungkinan aparat TNI-Polri aktif menduduki jabatan eselon I dan II bidang kedaruratan di BNPB. Saya kasihan melihat Pak Doni,” ujar Yorrys.

Mempertegas statement-nya, Yorrys berkali-kali mengatakan, tanpa dukungan TNI-Polri, derita korban bencana akan lebih parah.

Dalam banyak kasus bencana, terbukti TNI-Polri berhasil menerobos medan-medan sulit. Bahkan, menjadi yang pertama yang memberi pertolongan di daerah yang terisolir.

Begitu pula yang ia saksikan di NTT.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri kehandalan para prajurit TNI dan anggota Polri. Bahu-membahu bersama elemen lain mengatasi bencana utamanya, pada fase tanggap darurat,” ujarnya.

 

Yorrys yang juga dikenal sebagai dedengkot Pemuda Pancasila itu bahkan menyitir ikhwal “8 Wajib TNI”.

“Satu di antara delapan wajib TNI adalah ‘menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya. Tidak ada pilihan lain, BNPB-lah wadahnya,” pungkas Yorrys.

Sedianya, kunjungan hanya berlangsung setengah hari. Berangkat pagi, pulang sore.

Namun, demi melihat perkembangan situasi di lokasi bencana, Kepala BNPB memutuskan tinggal di Larantuka, Flores Timur.

Begitu datang, Doni langsung memimpin rapat koordinasi penanggulangan bencana NTT di rumah jabatan Bupati Flores Timur.

Keesokan harinya, langsung mengunjungi lokasi banjir di Kabupaten Lembata. Dilanjutkan, hari berikutnya ke Kabupaten Alor. Menyusul kemudian, Pulau Adonara. [HES]

]]> .
Ketua Komite II DPD Yorrys Raweyai terkesan dengan kinerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di bawah komando Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo.

Yorrys adalah salah satu peserta rombongan kunjungan Kepala BNPB ke lokasi bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bertolak dari bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (5/4) pukul 05.00 WIB.

Yorrys langsung merasakan denyut irama kerja BNPB, dalam menanggulangi bencana secara langsung. Termasuk, dinamika jadwal kunjungan serta kondisi-kondisi kedaruratan lainnya.

Dalam sebuah kesempatan, Yorrys memuji kesigapan Kepala BNPB dalam mengkoordinasi penanggulangan bencana. Termasuk, melibatkan secara penuh unsur TNI/Polri dalam proses tanggap darurat.

“Tanpa prajurit TNI/Polri, entah apa jadinya…,” ujar Yorrys yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua itu.

Mengingat kondisi Indonesia yang rawan bencana sepanjang tahun, Yorrys menilai kehadiran TNI/Polri aktif di jajaran BNPB, sangat diperlukan. Utamanya, untuk menduduki posisi-posisi jabatan bidang kedaruratan.

Seperti tersentak dari lamunan, mendadak ia bertanya, “Sampai di mana pembahasan revisi UU Penanggulangan Bencana?”

Seperti diketahui, pembahasan revisi UU Penanggulangan Bencana dibahas di Komisi VIII DPR.

“Undang-Undang Penanggulangan Bencana Nomor 24 tahun 2007, memang perlu direvisi untuk memperkuat posisi BNPB dengan dimasukkannya unsur TNI/Polri menduduki jabatan bidang kedaruratan di BNPB. Inti urgent,” tegasnya.

Terlebih, setelah Yorrys mengetahui, tak ada satu pun pejabat eselon 1 dan 2 di BNPB yang berasal dari unsur TNI-Polri aktif.

“Mungkin karena Undang-Undang sebelumnya tidak memungkinkan. Tetapi, dengan kesempatan revisi ini, menurut saya, mutlak harus dibuka kemungkinan aparat TNI-Polri aktif menduduki jabatan eselon I dan II bidang kedaruratan di BNPB. Saya kasihan melihat Pak Doni,” ujar Yorrys.

Mempertegas statement-nya, Yorrys berkali-kali mengatakan, tanpa dukungan TNI-Polri, derita korban bencana akan lebih parah.

Dalam banyak kasus bencana, terbukti TNI-Polri berhasil menerobos medan-medan sulit. Bahkan, menjadi yang pertama yang memberi pertolongan di daerah yang terisolir.

Begitu pula yang ia saksikan di NTT.

“Saya melihat dengan mata kepala sendiri kehandalan para prajurit TNI dan anggota Polri. Bahu-membahu bersama elemen lain mengatasi bencana utamanya, pada fase tanggap darurat,” ujarnya.

 

Yorrys yang juga dikenal sebagai dedengkot Pemuda Pancasila itu bahkan menyitir ikhwal “8 Wajib TNI”.

“Satu di antara delapan wajib TNI adalah ‘menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya. Tidak ada pilihan lain, BNPB-lah wadahnya,” pungkas Yorrys.

Sedianya, kunjungan hanya berlangsung setengah hari. Berangkat pagi, pulang sore.

Namun, demi melihat perkembangan situasi di lokasi bencana, Kepala BNPB memutuskan tinggal di Larantuka, Flores Timur.

Begitu datang, Doni langsung memimpin rapat koordinasi penanggulangan bencana NTT di rumah jabatan Bupati Flores Timur.

Keesokan harinya, langsung mengunjungi lokasi banjir di Kabupaten Lembata. Dilanjutkan, hari berikutnya ke Kabupaten Alor. Menyusul kemudian, Pulau Adonara. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories