Yield Obligasi AS Naik, Rupiah Makin Loyo

Pagi ini, nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,1 persen di level Rp 14.263 per dolar AS dibanding perdagangan kemarin di level Rp 14.249 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia tercatat melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina turun 0,09 persen, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen, dolar Singapura minus 0,06 persen, won Korea Selatan minus 0,33 persen dari dolar AS, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Indeks dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya naik 0,42 persen menjadi 96,53. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus 0,09 persen ke level Rp 15.992, terhadap poundsterling Inggris melemah 0,13 persen ke level Rp 19.069, dan terhadap dolar Australia melemah 0,15 persen ke level Rp 10.288.

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS memberikan sentimen negatif untuk rupiah. Saat ini, yield obligasi AS tenor 10 tahun sudah kembali ke atas 1,6 persen.

“Rupiah kembali tertekan. Kenaikan yield obligasi AS juga dipengaruhi spekulasi pasar terhadap potensi terpilihnya kembali Jerome Powell menjadi Gubernur The Fed untuk periode kedua,” jelasnya, di Jakarta, Selasa (23/11).

Pelaku pasar menganggap Powell akan mendukung rencana bank sentral AS, untuk melakukan pengetatan moneter karena inflasi terus naik di Negeri Paman Sam.

Ia pun memproyeksi, sepanjang hari ini rupiah bergerak melemah ke kisaran Rp 14.300 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 14.220 per dolar AS. [DWI]

]]> Pagi ini, nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,1 persen di level Rp 14.263 per dolar AS dibanding perdagangan kemarin di level Rp 14.249 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia tercatat melemah terhadap dolar AS. Peso Filipina turun 0,09 persen, ringgit Malaysia melemah 0,05 persen, dolar Singapura minus 0,06 persen, won Korea Selatan minus 0,33 persen dari dolar AS, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Indeks dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya naik 0,42 persen menjadi 96,53. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus 0,09 persen ke level Rp 15.992, terhadap poundsterling Inggris melemah 0,13 persen ke level Rp 19.069, dan terhadap dolar Australia melemah 0,15 persen ke level Rp 10.288.

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kenaikan tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS memberikan sentimen negatif untuk rupiah. Saat ini, yield obligasi AS tenor 10 tahun sudah kembali ke atas 1,6 persen.

“Rupiah kembali tertekan. Kenaikan yield obligasi AS juga dipengaruhi spekulasi pasar terhadap potensi terpilihnya kembali Jerome Powell menjadi Gubernur The Fed untuk periode kedua,” jelasnya, di Jakarta, Selasa (23/11).

Pelaku pasar menganggap Powell akan mendukung rencana bank sentral AS, untuk melakukan pengetatan moneter karena inflasi terus naik di Negeri Paman Sam.

Ia pun memproyeksi, sepanjang hari ini rupiah bergerak melemah ke kisaran Rp 14.300 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 14.220 per dolar AS. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories