Yenny Wahid Ungkap Karakter Pelaku Teror Di Katedral Makassar Dan Mabes Polri Via Tulisan Tangan

Sebelum melakukan aksinya, dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021, dan pelaku serangan di Mabes Polri yang akhirnya ditembak mati pada 31 Maret 2021, meninggalkan surat untuk keluarganya dengan tulisan tangan.

Surat wasiat ini menarik dibahas. Tak hanya soal isinya yang mengungkap permintaan maaf kepada keluarga, serta wasiat dan ajakan kepada seluruh keluarganya untuk menjauhi pemerintah, tetapi juga celah mengungkap kepribadian teroris via tulisan tangan.

Dalam Diskusi Kebangsaan Lintas Agama virtual di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Jawa Timur pada Sabtu (3/4), Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid yang merupakan putri kedua Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur membenarkan, tulisan tangan dapat memaparkan karakter seseorang.

Tulisan tangan, dapat dianalisis dan mengidentifikasi kondisi psikologis seseorang.

“Misalnya, ada yang jiwanya ceria, tenang-tenang tapi menghanyutkan, ada yang punya kharisma seperti bupati, dan sebagainya, itu bisa diketahui dari tulisan tangan, bisa dianalisa,” ungkap Yenny.

Yenny mengungkap, ia telah berkomunikasi dengan seorang ahli grafologi atau ahli tulisan tangan Deborah Dewi, terkait tulisan dua teroris tersebut.

Hasilnya, ada 3 karakter yang dimiliki oleh dua teroris itu.

Pertama, keduanya adalah sosok yang egois, tidak terbuka dengan pola pikir yang berbeda dengan dirinya. Keduanya enggan berpikir dengan perspektif lain, kecuali pikirannya sendiri. Kedua, rasa percaya dirinya sangat rendah dan ketiga, punya kegelisahan yang berlebihan.

Kata Yenny, kegelisahan yang berlebihan itu kemudian direspons oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka berdalih menolong dengan doktrin agama yang sudah diselewengkan dari maksud yang sesungguhnya. Sehingga pelaku merasa mendapatkan rasa aman dan percaya diri tapi semu.

“Jadi kegelisahan tersebut akhirnya dieksploitasi, dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga dia merasa aman, yang kemudian membuat mereka melakukan penyerangan,” urai perempuan yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974.

Komisaris Independen Garuda Indonesia ini menambahkan, radikalisme bukan dari agama tetapi ajaran agama diselewengkan untuk mengindoktrinasi seseorang. Khususnya yang sedang mengalami rasa cemas, putus asa sehingga bersedia melakukan kekerasan agar dia bisa eksis.

Dalam konteks Indonesia, Yenny menyebut, dalil agama sangat mampu dipakai untuk mengindoktrinasi seseorang, terutama anak-anak muda dan generasi milenial yang sangat rentan dan masih mencari jati diri.

“Ini PR bagi kita semua, terutama keluarga. Karena keluarga adalah tempat pembinaan yang utama. Bangun pondasi yang kuat. Berikan rasa aman dan nyaman. Juga tokoh agama perlu menyediakan diri untuk mendengarkan keluh kesah orang yang putus asa, rentan, dan sebagainya,” urainya. [FAQ]

]]> Sebelum melakukan aksinya, dua pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021, dan pelaku serangan di Mabes Polri yang akhirnya ditembak mati pada 31 Maret 2021, meninggalkan surat untuk keluarganya dengan tulisan tangan.

Surat wasiat ini menarik dibahas. Tak hanya soal isinya yang mengungkap permintaan maaf kepada keluarga, serta wasiat dan ajakan kepada seluruh keluarganya untuk menjauhi pemerintah, tetapi juga celah mengungkap kepribadian teroris via tulisan tangan.

Dalam Diskusi Kebangsaan Lintas Agama virtual di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Jawa Timur pada Sabtu (3/4), Zannuba Arifah Chafsoh atau Yenny Wahid yang merupakan putri kedua Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur membenarkan, tulisan tangan dapat memaparkan karakter seseorang.

Tulisan tangan, dapat dianalisis dan mengidentifikasi kondisi psikologis seseorang.

“Misalnya, ada yang jiwanya ceria, tenang-tenang tapi menghanyutkan, ada yang punya kharisma seperti bupati, dan sebagainya, itu bisa diketahui dari tulisan tangan, bisa dianalisa,” ungkap Yenny.

Yenny mengungkap, ia telah berkomunikasi dengan seorang ahli grafologi atau ahli tulisan tangan Deborah Dewi, terkait tulisan dua teroris tersebut.

Hasilnya, ada 3 karakter yang dimiliki oleh dua teroris itu.

Pertama, keduanya adalah sosok yang egois, tidak terbuka dengan pola pikir yang berbeda dengan dirinya. Keduanya enggan berpikir dengan perspektif lain, kecuali pikirannya sendiri. Kedua, rasa percaya dirinya sangat rendah dan ketiga, punya kegelisahan yang berlebihan.

Kata Yenny, kegelisahan yang berlebihan itu kemudian direspons oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka berdalih menolong dengan doktrin agama yang sudah diselewengkan dari maksud yang sesungguhnya. Sehingga pelaku merasa mendapatkan rasa aman dan percaya diri tapi semu.

“Jadi kegelisahan tersebut akhirnya dieksploitasi, dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga dia merasa aman, yang kemudian membuat mereka melakukan penyerangan,” urai perempuan yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974.

Komisaris Independen Garuda Indonesia ini menambahkan, radikalisme bukan dari agama tetapi ajaran agama diselewengkan untuk mengindoktrinasi seseorang. Khususnya yang sedang mengalami rasa cemas, putus asa sehingga bersedia melakukan kekerasan agar dia bisa eksis.

Dalam konteks Indonesia, Yenny menyebut, dalil agama sangat mampu dipakai untuk mengindoktrinasi seseorang, terutama anak-anak muda dan generasi milenial yang sangat rentan dan masih mencari jati diri.

“Ini PR bagi kita semua, terutama keluarga. Karena keluarga adalah tempat pembinaan yang utama. Bangun pondasi yang kuat. Berikan rasa aman dan nyaman. Juga tokoh agama perlu menyediakan diri untuk mendengarkan keluh kesah orang yang putus asa, rentan, dan sebagainya,” urainya. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories