Yang Wafat 1.400 Orang, Kasus Baru Nyaris 50.000 Orang Lagi Corona Turun Karena Testing Turun, Ya Sama Saja Bohong

Beberapa hari ini, kasus Corona agak “melandai”. Namun, penurunan ini dianggap semu. Sebab, di saat yang sama, jumlah testing yang dilakukan juga turun. Para pakar mengingatkan, sama saja bohong kalau menurunkan data kasus Corona baru dengan mengurangi testing.

Kabar penurunan kasus harian ini disampaikan Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, saat memberikan keterangan pers secara virtual, kemarin. Kepada wartawan, Wiku memaparkan sejumlah data. Pertama, penurunan kasus. Kata dia, dalam seminggu terakhir, terjadi penurunan kasus yang cukup signifikan. Pada 15 Juli, jumlah kasus harian mencapai 56.757. Sepekan kemudian, jumlah kasus harian tinggal 33.772. “Sudah terjadi penurunan kasus sebesar 40 persen,” ujarnya. 

Kedua, data keterisian tempat tidur alias bed occupancy rate (BOR) secara nasional yang konsisten mengalami penurunan selama tujuh hari terakhir. Ketiga, jumlah pasien sembuh yang terus meningkat. 

Tingkat BOR turun dari 76 menjadi 72 persen. Sementara, angka kesembuhan meningkat 70 persen.  “Adanya perkembangan yang baik ini patut diapresiasi. Saya berterima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang tidak kenal lelah merawat pasien juga kepada seluruh pemerintah daerah yang telah bergerak cepat dalam membantu pelaporan pasien serta kontak erat,” ucapnya.

Co-Founder LaporCovid-19, Irma Hidayana menganggap, data-data yang disampaikan Wiku belum menggembirakan. Sebab, jumlah kasus harian menurun karena jumlah testing yang merosot. 

Irma membeberkan, menyebut jumlah testing PCR pada Rabu (21/7) hanya sekitar 65.000, dengan positivity rate yang sangat tinggi, yaitu sekitar 40 persen. Dengan kondisi ini, penurunan kasus tadi sama juga dengan bohong. “Nggak ada gunanya kita melihat angka kasus turun tapi disertai turunnya jumlah tes,” kata Irma, kemarin. 

Merujuk data Satgas Covid-19, sepekan terakhir, memang terjadi penurunan testing. Pada Kamis (15/7), jumlah pemeriksaan spesimen sebanyak 249.059 sampel. Sehari kemudian, naik menjadi 258.532 sampel. Pada Sabtu (17/7), jumlah pemeriksaan mulai turun menjadi 251.392 sampel. Minggu (18/7), anjlok menjadi 192.918 sampel. 

Data pemeriksaan semakin turun pada Senin (19/7) yakni 160.686 sampel. Selanjutnya, Selasa (20/1) semakin merosot menjadi 179.275 sampel. Lalu, Rabu (21/7) menjadi yang terendah dengan hanya 153.330 sampel. Untungnya, kemarin naik lagi menjadi 294.470 sampel.

 

Melihat fakta ini, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Hariadi Wibisono mengingatkan, penurunan kasus Corona bisa jadi hanya semu. “Kalau yang diperiksa berkurang, ya pasti angka yang positif juga akan berkurang. Ada penurunan, tapi bukan yang riil, mungkin juga ini penurunan yang sifatnya semu,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris tidak bisa mentolerir penurunan testing ini. Kata politisi PDIP ini, untuk meningkatkan pencegahan, seharusnya jumlah testing diperbanyak. Bukan malah anjlok. “Yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir justru kondisi sebaliknya, yakni jumlah testing yang semakin menurun,” kata Charles, kemarin. 

Menurut anak buah Megawati Soekarnoputri ini, penurunan jumlah testing dan tracing tak boleh terjadi dengan alasan apa pun. Dia mengatakan, jumlah testing dan tracing mestinya ditingkatkan berkali lipat di tengah kondisi darurat saat ini. “Kalau perlu, hingga satu juta testing per hari,” ucapnya. 

Ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riyono ikut bicara. Dia mempertanyakan penurunan testing yang dilakukan Pemerintah. Menurut dia, seharusnya jumlah testing ditingkatkan selama masa masa darurat ini. “Nggak boleh menurun, disengaja atau tidak,” tegas Pandu. 

Pandu mendesak, Presiden Jokowi seharusnya mempertanyakan mengapa jumlah testing Covid-19 menurun dalam beberapa hari terakhir. Sebab, data itu akan dijadikan acuan untuk mengambil kebijakan dalam penanganan pandemi.

Di saat jumlah testing turun, angka kematian justru menolanjak. Kemarin, angka kematian harian memecahkan rekor dengan mencapai 1.449 orang. Dengan penambahan ini, jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 79.032 orang.

Wiku mencatat, angka kematian di atas 1.000 ini sudah terjadi dalam 6 hari berturut-turut. “Ini tidak bisa ditoleransi lagi. Karena ini bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega, dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita,” ucapnya. [BCG]

]]> Beberapa hari ini, kasus Corona agak “melandai”. Namun, penurunan ini dianggap semu. Sebab, di saat yang sama, jumlah testing yang dilakukan juga turun. Para pakar mengingatkan, sama saja bohong kalau menurunkan data kasus Corona baru dengan mengurangi testing.

Kabar penurunan kasus harian ini disampaikan Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, saat memberikan keterangan pers secara virtual, kemarin. Kepada wartawan, Wiku memaparkan sejumlah data. Pertama, penurunan kasus. Kata dia, dalam seminggu terakhir, terjadi penurunan kasus yang cukup signifikan. Pada 15 Juli, jumlah kasus harian mencapai 56.757. Sepekan kemudian, jumlah kasus harian tinggal 33.772. “Sudah terjadi penurunan kasus sebesar 40 persen,” ujarnya. 

Kedua, data keterisian tempat tidur alias bed occupancy rate (BOR) secara nasional yang konsisten mengalami penurunan selama tujuh hari terakhir. Ketiga, jumlah pasien sembuh yang terus meningkat. 

Tingkat BOR turun dari 76 menjadi 72 persen. Sementara, angka kesembuhan meningkat 70 persen.  “Adanya perkembangan yang baik ini patut diapresiasi. Saya berterima kasih kepada seluruh tenaga kesehatan yang tidak kenal lelah merawat pasien juga kepada seluruh pemerintah daerah yang telah bergerak cepat dalam membantu pelaporan pasien serta kontak erat,” ucapnya.

Co-Founder LaporCovid-19, Irma Hidayana menganggap, data-data yang disampaikan Wiku belum menggembirakan. Sebab, jumlah kasus harian menurun karena jumlah testing yang merosot. 

Irma membeberkan, menyebut jumlah testing PCR pada Rabu (21/7) hanya sekitar 65.000, dengan positivity rate yang sangat tinggi, yaitu sekitar 40 persen. Dengan kondisi ini, penurunan kasus tadi sama juga dengan bohong. “Nggak ada gunanya kita melihat angka kasus turun tapi disertai turunnya jumlah tes,” kata Irma, kemarin. 

Merujuk data Satgas Covid-19, sepekan terakhir, memang terjadi penurunan testing. Pada Kamis (15/7), jumlah pemeriksaan spesimen sebanyak 249.059 sampel. Sehari kemudian, naik menjadi 258.532 sampel. Pada Sabtu (17/7), jumlah pemeriksaan mulai turun menjadi 251.392 sampel. Minggu (18/7), anjlok menjadi 192.918 sampel. 

Data pemeriksaan semakin turun pada Senin (19/7) yakni 160.686 sampel. Selanjutnya, Selasa (20/1) semakin merosot menjadi 179.275 sampel. Lalu, Rabu (21/7) menjadi yang terendah dengan hanya 153.330 sampel. Untungnya, kemarin naik lagi menjadi 294.470 sampel.

 

Melihat fakta ini, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Hariadi Wibisono mengingatkan, penurunan kasus Corona bisa jadi hanya semu. “Kalau yang diperiksa berkurang, ya pasti angka yang positif juga akan berkurang. Ada penurunan, tapi bukan yang riil, mungkin juga ini penurunan yang sifatnya semu,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris tidak bisa mentolerir penurunan testing ini. Kata politisi PDIP ini, untuk meningkatkan pencegahan, seharusnya jumlah testing diperbanyak. Bukan malah anjlok. “Yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir justru kondisi sebaliknya, yakni jumlah testing yang semakin menurun,” kata Charles, kemarin. 

Menurut anak buah Megawati Soekarnoputri ini, penurunan jumlah testing dan tracing tak boleh terjadi dengan alasan apa pun. Dia mengatakan, jumlah testing dan tracing mestinya ditingkatkan berkali lipat di tengah kondisi darurat saat ini. “Kalau perlu, hingga satu juta testing per hari,” ucapnya. 

Ahli epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riyono ikut bicara. Dia mempertanyakan penurunan testing yang dilakukan Pemerintah. Menurut dia, seharusnya jumlah testing ditingkatkan selama masa masa darurat ini. “Nggak boleh menurun, disengaja atau tidak,” tegas Pandu. 

Pandu mendesak, Presiden Jokowi seharusnya mempertanyakan mengapa jumlah testing Covid-19 menurun dalam beberapa hari terakhir. Sebab, data itu akan dijadikan acuan untuk mengambil kebijakan dalam penanganan pandemi.

Di saat jumlah testing turun, angka kematian justru menolanjak. Kemarin, angka kematian harian memecahkan rekor dengan mencapai 1.449 orang. Dengan penambahan ini, jumlah pasien Covid-19 di Indonesia yang meninggal dunia sebanyak 79.032 orang.

Wiku mencatat, angka kematian di atas 1.000 ini sudah terjadi dalam 6 hari berturut-turut. “Ini tidak bisa ditoleransi lagi. Karena ini bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega, dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita,” ucapnya. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories