Wow, Bangun MCK Santri Telan Biaya Hingga Rp 1,2 Triliun

Defisit APBN yang melonjak 89,7 persen tidak mengganggu pembangunan sarana prasarana air bersih dan sanitasi di Pondok Pesantren/Lembaga Pendidikan Keagamaan (LPK). Pembangunan santisasi pesantren terus berjalan.

Pemerintah menganggarkan sebesar Rp 1,2 triliun untuk membangun 6.000 unit sanitasi pesantren di seluruh Indonesia melalui Program Padat Karya Tunai (PKT).

Selain untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bersih dan sehat, program PKT ini juga bertujuan untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat pandemi Covi-19.

“Program PKT sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pembangunan infrastruktur ini untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam keterangan, Minggu (25/4).

Pada tahun 2021, akan dibangun 6.000 unit bangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) di Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Anggarannya mencapai Rp 1,2 triliun. 

Kegiatan ini akan menyerap 36.000 tenaga kerja. Program ini meliputi pembangunan bangunan MCK yang terdiri dari bilik mandi dan kakus/toilet, tempat wudhu, tempat cuci tangan dan tempat cuci pakaian, serta instalasi pengolahan air limbah domestik dengan alokasi anggaran setiap unit sekitar Rp 200 juta.

“Untuk program sanitasi pondok pesantren sampai saat ini masih tahap penyesuaian desain dan RAB yang dilakukan oleh konsultan perencana dan penyediaan tenaga fasilitator lapangan. Kami targetkan konstruksi dapat dimulai menjelang Idulfitri,” ujar Direktur Jenderal Cipta Karya, Diana Kusumastuti.

Di samping sanitasi pondok pesantren/LPK, terdapat enam kegiatan PKT lain yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya dengan total anggaran Rp 3,8 triliun dengan target penyerapan 183.821 tenaga kerja. 

Kegiatan tersebut, meliputi Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), Tempat Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle (TPS3R), Sanitasi Perdesaan Padat Karya (Sanimas), SPAM Perdesaan Padat Karya (Pamsimas) dan kegiatan kontraktual dengan skema padat karya.

Kotaku dilaksanakan di 2.099 lokasi dengan anggaran Rp 976,6 miliar, PISEW dilaksanakan di 1.500 kecamatan dengan anggaran Rp 900 miliar, TPS3R di 147 lokasi dengan anggaran Rp 90 miliar. Kemudian Sanimas dilaksanakan di 5.510 lokasi dengan anggaran Rp 713,73 miliar, Pamsimas di 4.525 desa dengan anggaran Rp 943 miliar dan kegiatan kontraktual dengan skema padat karya di 155 lokasi dengan anggaran Rp 224,9 miliar.  [MFA]
 

]]> Defisit APBN yang melonjak 89,7 persen tidak mengganggu pembangunan sarana prasarana air bersih dan sanitasi di Pondok Pesantren/Lembaga Pendidikan Keagamaan (LPK). Pembangunan santisasi pesantren terus berjalan.

Pemerintah menganggarkan sebesar Rp 1,2 triliun untuk membangun 6.000 unit sanitasi pesantren di seluruh Indonesia melalui Program Padat Karya Tunai (PKT).

Selain untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bersih dan sehat, program PKT ini juga bertujuan untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat pandemi Covi-19.

“Program PKT sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pembangunan infrastruktur ini untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat,” ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, dalam keterangan, Minggu (25/4).

Pada tahun 2021, akan dibangun 6.000 unit bangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) di Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Anggarannya mencapai Rp 1,2 triliun. 

Kegiatan ini akan menyerap 36.000 tenaga kerja. Program ini meliputi pembangunan bangunan MCK yang terdiri dari bilik mandi dan kakus/toilet, tempat wudhu, tempat cuci tangan dan tempat cuci pakaian, serta instalasi pengolahan air limbah domestik dengan alokasi anggaran setiap unit sekitar Rp 200 juta.

“Untuk program sanitasi pondok pesantren sampai saat ini masih tahap penyesuaian desain dan RAB yang dilakukan oleh konsultan perencana dan penyediaan tenaga fasilitator lapangan. Kami targetkan konstruksi dapat dimulai menjelang Idulfitri,” ujar Direktur Jenderal Cipta Karya, Diana Kusumastuti.

Di samping sanitasi pondok pesantren/LPK, terdapat enam kegiatan PKT lain yang dilaksanakan Ditjen Cipta Karya dengan total anggaran Rp 3,8 triliun dengan target penyerapan 183.821 tenaga kerja. 

Kegiatan tersebut, meliputi Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), Tempat Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle (TPS3R), Sanitasi Perdesaan Padat Karya (Sanimas), SPAM Perdesaan Padat Karya (Pamsimas) dan kegiatan kontraktual dengan skema padat karya.

Kotaku dilaksanakan di 2.099 lokasi dengan anggaran Rp 976,6 miliar, PISEW dilaksanakan di 1.500 kecamatan dengan anggaran Rp 900 miliar, TPS3R di 147 lokasi dengan anggaran Rp 90 miliar. Kemudian Sanimas dilaksanakan di 5.510 lokasi dengan anggaran Rp 713,73 miliar, Pamsimas di 4.525 desa dengan anggaran Rp 943 miliar dan kegiatan kontraktual dengan skema padat karya di 155 lokasi dengan anggaran Rp 224,9 miliar.  [MFA]
 
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories