Wokeisme Dan Nabi Palsu

Obsesi lahirnya paham wokeisme dipicu oleh transformasi budaya dan ekonomi begitu cepat. Wokeisme adalah pemahaman tentang agama baru seperti provokasi yang dilakukan oleh Joseph Paul Zhang. Selain menistakan agama Islam, Paul mengaku sebagai nabi ke-26 untuk menyempurnakan ajaran nabi sebelumnya. Ajaran agama baru ini menyamar dengan kedok kasih sayang dan keadilan. Padahal ideologi yang diajarkan adalah murni kejahatan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya maupun agama. Kemajuan teknologi mendorong wokeisme menyebar masuk ke berbagai lini masyarakat melalui budaya.

“Mungkin stres karena pandemi, Mo. Mengaku sebagai nabi,” celetuk Petruk. Romo Semar diam tidak menanggapi komentar anaknya Petruk. Romo Semar sedang galau dengan gonta-ganti peraturan warga yang mau mudik. Ada pejabat yang memperbolehkan mudik sebelum tanggal 6 Mei. Besoknya langsung diralat tidak diperbolehkan mudik. Romo Semar sebagai pamong menjadi tempat berkeluh kesah wong cilik. Selama bulan suci Ramadan, Romo Semar sengaja tidak mengisap rokok klobotnya. Romo Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana kerajaan Hastina kedatangan Begawan Dora Wacana sebagai utusan dewa.

Kocap kacarito, Prabu Duryudana khawatir dengan semakin dekatnya perang saudara yaitu perang Baratayuda. Perang antardarah Barata satria Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan tahta kerajaan Hastina. Dari segi jumlah pasukan, Kurawa jauh lebih besar dibanding dengan kekuatan Pandawa. Belum lagi kekuatan dari kerajaan sekutu Kurawa yang bersedia membantu melawan pasukan Pandawa. Di sisi lain, kesaktian para satria Pandawa tidak bisa dianggap remeh.

Itu sebabnya kehadiran Begawan Dora Wacana di kerajaan Hastina membuat gembira Prabu Duryudana. Dora Wacana mengaku sebagai utusan para dewa dapat membatalkan perang Baratayuda. Sebagai syarat batalnya Baratayuda, Prabu Duryudana harus dapat menghadirkan para Pandawa ke kerajaan Hastina. Selain itu ada syarat lain untuk batalnya perang saudara yaitu perlu tumbalnya Prabu Kresna dan Semar. Karena kedua pamong Pandawa inilah sebagai penyebab terjadinya perang saudara.

 

Para Pandawa sudah berkumpul di Hastina. Selama berada di Hastina, para Pandawa otaknya dicuci dengan paham sesat Begawan Dora Wacana. Akibatnya apa pun yang diperintahkan Dora Wacana akan dilaksanakan oleh para Pandawa. Bima diperintahkan untuk membunuh Semar. Sedangkan Arjuna diberi tugas menyeret Prabu Kresna.

Gatotkaca dan Angkawijaya sebagai putra Pandawa tidak tinggal diam melihat Pandawa di-brainwash oleh Kurawa. Gatotkaca mencari jago untuk mengalahkan Begawan Dora Wacana dan merebut kembali Pandawa. Dalam perjalanannya ketemu dengan pandita sakti yang bernama Ismaya Jati. Setelah menceritakan niatnya, Ismaya Jati bersedia membantu Gatotkaca merebut kembali para Pandawa.

Ismaya Jati melabrak Dora Wacana. Terjadilah pertarungan antara dua pendita sakti. Keduanya sama-sama kuat dan digdaya. Namun Ismaya Jati sempat keteter melawan Dora Wacana. Dalam keadaan kritis Ismaya Jati melepas senjata panah pamungkas. Panah sakti berubah wujud menjadi Hanoman si kera putih. Dan Dora Wacana berubah wujud yang sebenarnya yakni badan halusnya Prabu Rahwana. Sedangkan Ismaya Jati merupakan nama lain dari Semar.

“Dora Wacana menyebarkan ajaran sesat untuk melemahkan Pandawa, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Dampak pandemi yang berkepanjangan menyebabkan doktrin yang aneh-aneh. Pelajaran bagi kita semua untuk tetap fokus mengendalikan pandemi supaya cepat berlalu. Sehingga ekonomi segera pulih dalam rangka menyongsong tatanan hidup baru.” Oye

]]> Obsesi lahirnya paham wokeisme dipicu oleh transformasi budaya dan ekonomi begitu cepat. Wokeisme adalah pemahaman tentang agama baru seperti provokasi yang dilakukan oleh Joseph Paul Zhang. Selain menistakan agama Islam, Paul mengaku sebagai nabi ke-26 untuk menyempurnakan ajaran nabi sebelumnya. Ajaran agama baru ini menyamar dengan kedok kasih sayang dan keadilan. Padahal ideologi yang diajarkan adalah murni kejahatan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya maupun agama. Kemajuan teknologi mendorong wokeisme menyebar masuk ke berbagai lini masyarakat melalui budaya.

“Mungkin stres karena pandemi, Mo. Mengaku sebagai nabi,” celetuk Petruk. Romo Semar diam tidak menanggapi komentar anaknya Petruk. Romo Semar sedang galau dengan gonta-ganti peraturan warga yang mau mudik. Ada pejabat yang memperbolehkan mudik sebelum tanggal 6 Mei. Besoknya langsung diralat tidak diperbolehkan mudik. Romo Semar sebagai pamong menjadi tempat berkeluh kesah wong cilik. Selama bulan suci Ramadan, Romo Semar sengaja tidak mengisap rokok klobotnya. Romo Semar flashback ke zaman Mahabarata di mana kerajaan Hastina kedatangan Begawan Dora Wacana sebagai utusan dewa.

Kocap kacarito, Prabu Duryudana khawatir dengan semakin dekatnya perang saudara yaitu perang Baratayuda. Perang antardarah Barata satria Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan tahta kerajaan Hastina. Dari segi jumlah pasukan, Kurawa jauh lebih besar dibanding dengan kekuatan Pandawa. Belum lagi kekuatan dari kerajaan sekutu Kurawa yang bersedia membantu melawan pasukan Pandawa. Di sisi lain, kesaktian para satria Pandawa tidak bisa dianggap remeh.

Itu sebabnya kehadiran Begawan Dora Wacana di kerajaan Hastina membuat gembira Prabu Duryudana. Dora Wacana mengaku sebagai utusan para dewa dapat membatalkan perang Baratayuda. Sebagai syarat batalnya Baratayuda, Prabu Duryudana harus dapat menghadirkan para Pandawa ke kerajaan Hastina. Selain itu ada syarat lain untuk batalnya perang saudara yaitu perlu tumbalnya Prabu Kresna dan Semar. Karena kedua pamong Pandawa inilah sebagai penyebab terjadinya perang saudara.

 

Para Pandawa sudah berkumpul di Hastina. Selama berada di Hastina, para Pandawa otaknya dicuci dengan paham sesat Begawan Dora Wacana. Akibatnya apa pun yang diperintahkan Dora Wacana akan dilaksanakan oleh para Pandawa. Bima diperintahkan untuk membunuh Semar. Sedangkan Arjuna diberi tugas menyeret Prabu Kresna.

Gatotkaca dan Angkawijaya sebagai putra Pandawa tidak tinggal diam melihat Pandawa di-brainwash oleh Kurawa. Gatotkaca mencari jago untuk mengalahkan Begawan Dora Wacana dan merebut kembali Pandawa. Dalam perjalanannya ketemu dengan pandita sakti yang bernama Ismaya Jati. Setelah menceritakan niatnya, Ismaya Jati bersedia membantu Gatotkaca merebut kembali para Pandawa.

Ismaya Jati melabrak Dora Wacana. Terjadilah pertarungan antara dua pendita sakti. Keduanya sama-sama kuat dan digdaya. Namun Ismaya Jati sempat keteter melawan Dora Wacana. Dalam keadaan kritis Ismaya Jati melepas senjata panah pamungkas. Panah sakti berubah wujud menjadi Hanoman si kera putih. Dan Dora Wacana berubah wujud yang sebenarnya yakni badan halusnya Prabu Rahwana. Sedangkan Ismaya Jati merupakan nama lain dari Semar.

“Dora Wacana menyebarkan ajaran sesat untuk melemahkan Pandawa, Mo,” celetuk Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Dampak pandemi yang berkepanjangan menyebabkan doktrin yang aneh-aneh. Pelajaran bagi kita semua untuk tetap fokus mengendalikan pandemi supaya cepat berlalu. Sehingga ekonomi segera pulih dalam rangka menyongsong tatanan hidup baru.” Oye
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories