Wisata Religi Beresiko Penyebaran Corona, Ini Solusi Sandiaga .

Wisata religi yang umumnya dilakukan sebelum dan sesudah bulan Ramadan dinilai berisiko menularkan virus Covid-19.

Hal itu disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menyikapi tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun itu. 

“Sangat berisiko (terjadinya penularan)” kata Sandi dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/4).

Diketahui, wisata religi identik dengan kunjungan membeludak hingga sulit menerapkan protokol kesehatan. Sementara di masa pandemi ini, mobilitas hingga kerumunan perlu dibatasi. 

“Ke depan seperti wisata religi harus menyesuaikan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, termasuk menerapkan prokes ketat dan disiplin,” ujarnya. 

Dia memastikan, pemerintah bakal berinovasi untuk meminimalisir risiko akibat dari kegiatan wisata religi. “Kita juga harus memastikan jumlah dari kunjungan wisatawan tidak membludak. Ada pendekatan pembatasan dan informasi yang nantinya akan berbasis aplikasi teknologi,” ungkap mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu. 

Karenanya, Sandi menyebut penggunaan Cleanliness, Helath, Safety and Environment Sustainability (CHSE) sudah menjadi sebuah keharusan. Tidak hanya di destinasi-destinasi utama seperti Ancol, Kota Tua, namun juga di beberapa destinasi unggulan lainnya, termasuk situs-situs religi. 

“Kuncinya adalah bagaimana sosialisasi dan edukasi kami kepada para pengelola destinasi wisata terutama wisata religi,” tutur Mas Menteri, sapaan akrab Sandi. [UMM]

]]> .
Wisata religi yang umumnya dilakukan sebelum dan sesudah bulan Ramadan dinilai berisiko menularkan virus Covid-19.

Hal itu disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menyikapi tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun itu. 

“Sangat berisiko (terjadinya penularan)” kata Sandi dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/4).

Diketahui, wisata religi identik dengan kunjungan membeludak hingga sulit menerapkan protokol kesehatan. Sementara di masa pandemi ini, mobilitas hingga kerumunan perlu dibatasi. 

“Ke depan seperti wisata religi harus menyesuaikan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, termasuk menerapkan prokes ketat dan disiplin,” ujarnya. 

Dia memastikan, pemerintah bakal berinovasi untuk meminimalisir risiko akibat dari kegiatan wisata religi. “Kita juga harus memastikan jumlah dari kunjungan wisatawan tidak membludak. Ada pendekatan pembatasan dan informasi yang nantinya akan berbasis aplikasi teknologi,” ungkap mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu. 

Karenanya, Sandi menyebut penggunaan Cleanliness, Helath, Safety and Environment Sustainability (CHSE) sudah menjadi sebuah keharusan. Tidak hanya di destinasi-destinasi utama seperti Ancol, Kota Tua, namun juga di beberapa destinasi unggulan lainnya, termasuk situs-situs religi. 

“Kuncinya adalah bagaimana sosialisasi dan edukasi kami kepada para pengelola destinasi wisata terutama wisata religi,” tutur Mas Menteri, sapaan akrab Sandi. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories