WHO Galau Izinkan Rusia Join COVAX

Di saat masih banyak negara membutuhkan vaksin Covid-19 untuk menekan penularan, Rusia mengaku siap berbagi vaksin Sputnik V. Sayangnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) justru masih galau.

WHO belum siap mengizinkan Negeri Beruang Putih itu ikut serta dalam inisiasi COVAX, inisiasi global negara-negara besar demi penyediaan akses vaksin Covid-19 yang setara.

“Vaksin Sputnik V sudah dipakai di 70 negara dan terbukti mampu mengurangi fatalitas infeksi virus Corona,” terang CEO Badan Investasi Langsung Rusia (RDIF) Kirill Dmitriev dalam konferensi pers virtualnya, Rabu (13/10/2021).

Sebelumnya WHO menyatakan, proses pendaftaran penggunaan darurat untuk vaksin produksi Rusia, Sputnik V ditunda dulu, sambil menunggu beberapa data dan prosedur hukum yang diharapkan segera diselesaikan.

“Kami bekerja hampir setiap hari dengan Kementerian Kesehatan Rusia untuk mengatasi masalah tersisa yang harus dipenuhi oleh Dana Investasi Langsung Rusia,” ujar Asisten Dirjen WHO untuk Akses Obat dan Produk Kesehatan, Mariangela Simao.

Segera setelah kesepakatan tercapai, ujarnya, WHO akan memproses pendaftaran tersebut dan menilai data yang diajukan. WHO juga akan melanjutkan inspeksi lokasi manufaktur di Rusia.

 

Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengatakan, semua hambatan untuk mendaftarkan vaksin ke WHO telah dibereskan, dan hanya beberapa dokumen yang harus diselesaikan.

Pemberian izin Sputnik terkendala keluhan sejumlah negara, terutama negara-negara di Amerika Latin, yang mengeluhkan sejumlah efek samping dari Sputnik V. Namun RDIF menegaskan, vaksin Sputnik versi Light menunjukkan efektivitas 70 persen terhadap varian Delta tiga bulan setelah injeksi.

Data yang dikirimkan pengembang, Institut Gamaleya ke server pra-cetak medRxiv akan menjalani proses tinjauan oleh institusi medis yang ditunjuk WHO. Data diambil dari 28.000 peserta yang menerima dosis Sputnik Light. Selanjutnya, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 5,6 juta orang yang tidak divaksinasi.

Dmitriev berharap WHO tidak mengulur waktu pemberian izin pemakaian vaksin Sputnik. Dia mengharapkan persetujuan WHO akan datang dalam dua bulan ke depan. Program COVAX tidak dapat menggunakan vaksin yang tidak disetujui oleh WHO.

“Kami percaya bahwa kami dapat memasok COVAX sekitar 200 juta dosis per tahun, 200 hingga 300 juta. Kami hanya perlu persetujuan WHO untuk bekerja dengan COVAX,” tegasnya. [DAY]

]]> Di saat masih banyak negara membutuhkan vaksin Covid-19 untuk menekan penularan, Rusia mengaku siap berbagi vaksin Sputnik V. Sayangnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) justru masih galau.

WHO belum siap mengizinkan Negeri Beruang Putih itu ikut serta dalam inisiasi COVAX, inisiasi global negara-negara besar demi penyediaan akses vaksin Covid-19 yang setara.

“Vaksin Sputnik V sudah dipakai di 70 negara dan terbukti mampu mengurangi fatalitas infeksi virus Corona,” terang CEO Badan Investasi Langsung Rusia (RDIF) Kirill Dmitriev dalam konferensi pers virtualnya, Rabu (13/10/2021).

Sebelumnya WHO menyatakan, proses pendaftaran penggunaan darurat untuk vaksin produksi Rusia, Sputnik V ditunda dulu, sambil menunggu beberapa data dan prosedur hukum yang diharapkan segera diselesaikan.

“Kami bekerja hampir setiap hari dengan Kementerian Kesehatan Rusia untuk mengatasi masalah tersisa yang harus dipenuhi oleh Dana Investasi Langsung Rusia,” ujar Asisten Dirjen WHO untuk Akses Obat dan Produk Kesehatan, Mariangela Simao.

Segera setelah kesepakatan tercapai, ujarnya, WHO akan memproses pendaftaran tersebut dan menilai data yang diajukan. WHO juga akan melanjutkan inspeksi lokasi manufaktur di Rusia.

 

Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengatakan, semua hambatan untuk mendaftarkan vaksin ke WHO telah dibereskan, dan hanya beberapa dokumen yang harus diselesaikan.

Pemberian izin Sputnik terkendala keluhan sejumlah negara, terutama negara-negara di Amerika Latin, yang mengeluhkan sejumlah efek samping dari Sputnik V. Namun RDIF menegaskan, vaksin Sputnik versi Light menunjukkan efektivitas 70 persen terhadap varian Delta tiga bulan setelah injeksi.

Data yang dikirimkan pengembang, Institut Gamaleya ke server pra-cetak medRxiv akan menjalani proses tinjauan oleh institusi medis yang ditunjuk WHO. Data diambil dari 28.000 peserta yang menerima dosis Sputnik Light. Selanjutnya, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 5,6 juta orang yang tidak divaksinasi.

Dmitriev berharap WHO tidak mengulur waktu pemberian izin pemakaian vaksin Sputnik. Dia mengharapkan persetujuan WHO akan datang dalam dua bulan ke depan. Program COVAX tidak dapat menggunakan vaksin yang tidak disetujui oleh WHO.

“Kami percaya bahwa kami dapat memasok COVAX sekitar 200 juta dosis per tahun, 200 hingga 300 juta. Kami hanya perlu persetujuan WHO untuk bekerja dengan COVAX,” tegasnya. [DAY]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories