Webinar MWA UI Urgensi Sinergi Triple Helix Dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya melakukan sinergi triple helix yang kuat antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi Covid-19. Dalam melakukan ini, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) telah menginisiasi konsorsium riset dan inovasi yang telah dilaksanakan mulai Maret 2020. Konsorsium ini merupakan kolaborasi antara pemerintah, universitas, lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK), industri, diaspora, asosiasi profesional, dan rumah sakit. 

Dalam umur konsorsium yang relatif singkat, telah lahir lebih dari 60 produk inovasi yang sedang dan telah dikembangkan untuk penanggulangan Covid-19. Beberapa produk inovasi tersebut di antaranya adalah alat kesehatan untuk skrining Covid-19 yaitu PCR Test Kit, Uji CePAD (Covid-19 Antigen), dari Universitas Padjadjaran (Unpad), GeNose dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Floked Swab dari Universitas Indonesia (UI). Lalu, untuk alat kesehatan pendukung, seperti ventilator, telah dikembangkan beberapa universitas, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), UI, dan yang lain. 

Untuk inovasi terapi, terdapat Convalescent Plasma dan Mesenchymal stem cells, yakni inovasi dari UI, yang dapat memperbaiki jaringan paru-paru dan bisa meningkatkan kesembuhan 2,5 kali lipat khusus pasien Covid-19 dengan kategori berat. “Inovasi ini diharap dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia selama masa pandemi dan untuk kebutuhan jangka panjang,” ujar Bambang, dalam Webinar Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI), Kamis (25/3).

Presiden Direktur PT Dexa Medica Ferry A Soetikno memaparkan kontribusi perusahaannya yang ikut membangun industri bahan baku obat di Indonesia. Menurutnya, pasar farmasi Indonesia memiliki potensi pertumbuhan menjanjikan. Dalam kaitan dengan sumber bahan baku obat, ini merupakan peluang untuk bisa menyuplai pasar dengan bahan baku yang lebih kompetitif dengan mempertahankan mutu dan lain sebagainya. 

Ferry menambahkan, kesadaran akan hidup sehat juga tengah meningkat, sehingga kebutuhan konsumen terhadap suplemen preventif memiliki peluang besar. “Urgensi untuk membangun kemandirian industri bahan baku obat tidak bisa ditawar lagi. Saya berterima kasih kepada Bapak Menristek yang telah mengayomi kita membentuk platform/atmosfer yang melibatkan banyak stakeholder,” ujarnya. 

Dexa mengembangkan bahan baku obat herbal dari biodiversitas Indonesia yang bersumber dari kekayaan sumber daya alam hayati dengan berbasis riset dan didukung medical evidence-based. Ferry menjelaskan, bahwa Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) adalah obat yang akan dipakai untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pasar yang lain. OMAI terbuat dari bahan alam berupa ekstrak/fraksi tanaman asli dan tumbuh di Indonesia. Saat ini, OMAI telah memperoleh status sebagai Fitofarmaka atau Obat Herbal Terstandar. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Indonesian Medical Education and Research Institute Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IMERI-FKUI) Prof Budi Wiweko menjelaskan tentang teknologi big data dalam potensi pelayanan kesehatan di masa mendatang. Ia memaparkan, di masa depan, big data akan menjadi pelayanan kesehatan baru. Sumber big data dalam bidang kesehatan diperoleh dari rumah sakit, laboratorium, emergency, disease registries, biobank, dan lain sebagainya. 

Budi menerangkan, perpaduan perilaku, manusia, teknologi, dan big data akan menghasilkan “Kedokteran Presisi”. Yaitu kedokteran yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasien, yang dapat memprediksi masa depan kesehatan pasien. Big data yang telah diolah dapat menjadi ‘model’ dan dapat digunakan untuk pengobatan. Misalnya, dari big data dapat diketahui bahwa dalam 10 tahun ke depan seseorang dapat mengidap suatu penyakit seperti cenderung rentan darah tinggi atau rentan mengidap kanker payudara, dan lain-lain. 

Ini dapat dipakai sebuah negara untuk mengelola kesehatan daerahnya melalui “presisi public health”. Tenaga kesehatan di masa depan akan sangat dibutuhkan kemampuan dalam bidang teknologi, perilaku manusia, dan pemahaman data. [USU]

]]> Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Bambang Brodjonegoro menekankan pentingnya melakukan sinergi triple helix yang kuat antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi Covid-19. Dalam melakukan ini, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) telah menginisiasi konsorsium riset dan inovasi yang telah dilaksanakan mulai Maret 2020. Konsorsium ini merupakan kolaborasi antara pemerintah, universitas, lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK), industri, diaspora, asosiasi profesional, dan rumah sakit. 

Dalam umur konsorsium yang relatif singkat, telah lahir lebih dari 60 produk inovasi yang sedang dan telah dikembangkan untuk penanggulangan Covid-19. Beberapa produk inovasi tersebut di antaranya adalah alat kesehatan untuk skrining Covid-19 yaitu PCR Test Kit, Uji CePAD (Covid-19 Antigen), dari Universitas Padjadjaran (Unpad), GeNose dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Floked Swab dari Universitas Indonesia (UI). Lalu, untuk alat kesehatan pendukung, seperti ventilator, telah dikembangkan beberapa universitas, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), UI, dan yang lain. 

Untuk inovasi terapi, terdapat Convalescent Plasma dan Mesenchymal stem cells, yakni inovasi dari UI, yang dapat memperbaiki jaringan paru-paru dan bisa meningkatkan kesembuhan 2,5 kali lipat khusus pasien Covid-19 dengan kategori berat. “Inovasi ini diharap dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia selama masa pandemi dan untuk kebutuhan jangka panjang,” ujar Bambang, dalam Webinar Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI), Kamis (25/3).

Presiden Direktur PT Dexa Medica Ferry A Soetikno memaparkan kontribusi perusahaannya yang ikut membangun industri bahan baku obat di Indonesia. Menurutnya, pasar farmasi Indonesia memiliki potensi pertumbuhan menjanjikan. Dalam kaitan dengan sumber bahan baku obat, ini merupakan peluang untuk bisa menyuplai pasar dengan bahan baku yang lebih kompetitif dengan mempertahankan mutu dan lain sebagainya. 

Ferry menambahkan, kesadaran akan hidup sehat juga tengah meningkat, sehingga kebutuhan konsumen terhadap suplemen preventif memiliki peluang besar. “Urgensi untuk membangun kemandirian industri bahan baku obat tidak bisa ditawar lagi. Saya berterima kasih kepada Bapak Menristek yang telah mengayomi kita membentuk platform/atmosfer yang melibatkan banyak stakeholder,” ujarnya. 

Dexa mengembangkan bahan baku obat herbal dari biodiversitas Indonesia yang bersumber dari kekayaan sumber daya alam hayati dengan berbasis riset dan didukung medical evidence-based. Ferry menjelaskan, bahwa Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) adalah obat yang akan dipakai untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pasar yang lain. OMAI terbuat dari bahan alam berupa ekstrak/fraksi tanaman asli dan tumbuh di Indonesia. Saat ini, OMAI telah memperoleh status sebagai Fitofarmaka atau Obat Herbal Terstandar. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Indonesian Medical Education and Research Institute Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IMERI-FKUI) Prof Budi Wiweko menjelaskan tentang teknologi big data dalam potensi pelayanan kesehatan di masa mendatang. Ia memaparkan, di masa depan, big data akan menjadi pelayanan kesehatan baru. Sumber big data dalam bidang kesehatan diperoleh dari rumah sakit, laboratorium, emergency, disease registries, biobank, dan lain sebagainya. 

Budi menerangkan, perpaduan perilaku, manusia, teknologi, dan big data akan menghasilkan “Kedokteran Presisi”. Yaitu kedokteran yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasien, yang dapat memprediksi masa depan kesehatan pasien. Big data yang telah diolah dapat menjadi ‘model’ dan dapat digunakan untuk pengobatan. Misalnya, dari big data dapat diketahui bahwa dalam 10 tahun ke depan seseorang dapat mengidap suatu penyakit seperti cenderung rentan darah tinggi atau rentan mengidap kanker payudara, dan lain-lain. 

Ini dapat dipakai sebuah negara untuk mengelola kesehatan daerahnya melalui “presisi public health”. Tenaga kesehatan di masa depan akan sangat dibutuhkan kemampuan dalam bidang teknologi, perilaku manusia, dan pemahaman data. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories