Webinar FKUB Kalbar Kerukunan Umat Beragama Harus Terus Dijaga .

Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat (FKUB Kalbar) menyelenggarakan webinar dengan tema “Pengarusutamaan Moderasi Beragama”, Senin (15/3). Webinar dihadiri lebih dari 250 peserta. Ada pun pembicaranya antara lain Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Barat Hermanus, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Syarif, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, Plt. Kepala Pusat Masyarakat dan Budaya (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Najib Burhani, dan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Rumadi Ahmad.

Webinar dibuka Ketua FKUB Kalimantan Barat Ismail Ruslan. Dalam sambutannya, Ismail menjelaskan, FKUB mempunyai tanggung jawab menyampaikan gagasan berbangsa dan bernegara secara baik. “Kami memiliki tanggung jawab menyampaikan gagasan berbangsa dan bernegara,” ucapnya, seperti keterangan yang diterima RM.id, Senin (15/3).

Hermanus, yang mewakili Gubernur Kalimantan Barat, menjelaskan bahwa keragaman adalah pemberian Tuhan yang perlu dijaga. “Terwujudnya umat beragama yang rukun merupakan cita-cita dan perlu dijaga, termasuk di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Sedangkan Syarif menjelaskan mengenai sejarah pembentukan Indonesia. Menurutnya, negara ini dibangun oleh orang yang beragama. Karena itu, tidak boleh ada penganut agama yang merasa lebih berhak tinggal di Indonesia.

Terkait dengan peninternalisasian nilai agama dijelaskan Antonius Benny Susetyo. Menurutnya, nilai agama harus menjadi inspirasi dalam kehidupan bangsa. “Nilai-nilai agama harus menjadi inspirasi dalam kehidupan dan menjadi nilai etis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Benny menambahkan, internalisasi nilai agama harus dihayati dalam kehidupan. “Keragaman menjadi modal dalam membangun kerukunan dalam kemajemukan,” terang rohaniawan Katolik ini.

Di era digitalisasi ini, kata Benny, penuh dengan kebisingan. Masyarakat tereduksi oleh kebisingan. “Masalahnya adalah kemanusiaan yang tereduksi dengan teknologi. Orang bergerak tanpa rasa kemanusiaan dan hanya merespons secara spontan tanpa dipikirkan,” tambahnya.

Sementara Ahmad Najib Burhani menjelaskan mengenai maraknya sikap intoleransi di masyarakat. “Sikap intoleransi kadang dianggap kebajikan. Seperti pemaksaan pemakaian jilbab. Padahal agama tidak boleh dipaksakan, apalagi untuk yang beda keyakinan,” jelas Ahmad.

Sedangkan Rumadi Ahmad menjelaskan bahwa moderasi beragama harus diperkuat. “Bangsa Indonesia mempunyai modal sosial historis untuk menjadi bangsa yang toleran dan moderat,” ucapnya. 

Rumadi juga menjelaskan, agama dan budaya saling menopang. Nilai-nilai agama dan budaya tidak boleh dipertentangkan. [USU]

]]> .
Forum Kerukunan Umat Beragama Kalimantan Barat (FKUB Kalbar) menyelenggarakan webinar dengan tema “Pengarusutamaan Moderasi Beragama”, Senin (15/3). Webinar dihadiri lebih dari 250 peserta. Ada pun pembicaranya antara lain Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Barat Hermanus, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Syarif, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo, Plt. Kepala Pusat Masyarakat dan Budaya (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Najib Burhani, dan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Rumadi Ahmad.

Webinar dibuka Ketua FKUB Kalimantan Barat Ismail Ruslan. Dalam sambutannya, Ismail menjelaskan, FKUB mempunyai tanggung jawab menyampaikan gagasan berbangsa dan bernegara secara baik. “Kami memiliki tanggung jawab menyampaikan gagasan berbangsa dan bernegara,” ucapnya, seperti keterangan yang diterima RM.id, Senin (15/3).

Hermanus, yang mewakili Gubernur Kalimantan Barat, menjelaskan bahwa keragaman adalah pemberian Tuhan yang perlu dijaga. “Terwujudnya umat beragama yang rukun merupakan cita-cita dan perlu dijaga, termasuk di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Sedangkan Syarif menjelaskan mengenai sejarah pembentukan Indonesia. Menurutnya, negara ini dibangun oleh orang yang beragama. Karena itu, tidak boleh ada penganut agama yang merasa lebih berhak tinggal di Indonesia.

Terkait dengan peninternalisasian nilai agama dijelaskan Antonius Benny Susetyo. Menurutnya, nilai agama harus menjadi inspirasi dalam kehidupan bangsa. “Nilai-nilai agama harus menjadi inspirasi dalam kehidupan dan menjadi nilai etis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Benny menambahkan, internalisasi nilai agama harus dihayati dalam kehidupan. “Keragaman menjadi modal dalam membangun kerukunan dalam kemajemukan,” terang rohaniawan Katolik ini.

Di era digitalisasi ini, kata Benny, penuh dengan kebisingan. Masyarakat tereduksi oleh kebisingan. “Masalahnya adalah kemanusiaan yang tereduksi dengan teknologi. Orang bergerak tanpa rasa kemanusiaan dan hanya merespons secara spontan tanpa dipikirkan,” tambahnya.

Sementara Ahmad Najib Burhani menjelaskan mengenai maraknya sikap intoleransi di masyarakat. “Sikap intoleransi kadang dianggap kebajikan. Seperti pemaksaan pemakaian jilbab. Padahal agama tidak boleh dipaksakan, apalagi untuk yang beda keyakinan,” jelas Ahmad.

Sedangkan Rumadi Ahmad menjelaskan bahwa moderasi beragama harus diperkuat. “Bangsa Indonesia mempunyai modal sosial historis untuk menjadi bangsa yang toleran dan moderat,” ucapnya. 

Rumadi juga menjelaskan, agama dan budaya saling menopang. Nilai-nilai agama dan budaya tidak boleh dipertentangkan. [USU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories