Wawancara Eksklusif Dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov Indonesia, Jauh Di Mata Tapi Dekat Di Hati .

Indonesia secara tradisional merupakan salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia Pasifik. Kedua negara telah bekerja sama di banyak bidang dalam 70 tahun terakhir. Mulai dari keamanan, ekonomi dan perdagangan, serta kemanusiaan.

Di tengah pandemi Covid-19, hari ini (Selasa, 6/7), Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov menyambangi Jakarta. Salah satu misi penting kunjungan ini adalah untuk lebih memperdalam kerja sama bilateral.

“Kami berencana menjajaki kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, serta antar daerah,” kata Lavrov dalam wawancara eksklusif dengan wartawan Rakyat Merdeka dan RM.ID Kartika Sari, Mellani Eka Mahayana dan Diananda Rahmasari. Penjelasan Menlu Lavrov dalam wawancara secara tertulis ini, diterima redaksi Rakyat Merdeka pada Jumat, 2 Juli 2021.

Kunjungan Lavrov ke Tanah Air adalah bagian dari turnya ke tiga negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, pada 5-8 Juli nanti. Diawali dengan menyambangi Brunei Darussalam, lalu Indonesia, tur Asia Lavrov akan diakhiri di Laos. Berikut penjelasan Lavrov mengenai kunjungannya ke Jakarta.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Anda akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Apa saja agenda dan topik yang akan dibahas dalam pertemuan itu? Apakah ada kerja sama yang ingin Rusia fokuskan dalam kunjungan ini?

Selama ini saya melakukan kontak dengan Ibu Retno Marsudi. Pembicaraan dan pembahasan nanti akan menjadi kelanjutan dari pertemuan kami di Indonesia pada 2017 dan di Moskow pada 2018. Kami berencana membahas isu-isu yang berkaitan dengan agenda bilateral, multilateral dan regional.

Menlu Rusia Sergey Lavrov berbicang-bincang dengan Menlu Retno Marsudi di Jakarta dalam pertemuan tiga tahun lalu. (Foto RM.id/Kemlu RI)

Apa ada isu spesifik lain yang akan dibahas?

Kami juga akan menandatangani Rencana Konsultasi Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Tahun 2021-2023 (Plan of Consultations between the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia for 2021-2023).

Terkait hubungan kedua negara selama ini, bagaimana Anda melihatnya?

Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia secara tradisional merupakan salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia Pasifik. Tahun lalu, Indonesia dan Rusia memperingati 70 tahun hubungan diplomatik. Kami melihat ada perkembangan mengenai dialog politik, kerja sama di bidang keamanan, ekonomi dan perdagangan, serta kemanusiaan.

Kedua negara juga menjalin kerja sama multilateral. Seperti di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ASEAN-Sentris, Kelompok Negara 20 (G20), Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Pertemuan Asia-Eropa dan banyak mekanisme kerja sama lainnya. Faktanya, hubungan kedua negara berada di tingkat kemitraan strategis. Fokus Rusia dan Indonesia saat ini adalah di bidang ekonomi dan perdagangan serta investasi. Selain itu, pada prospek-prospek diversifikasi struktur perdagangan timbal balik, didukung teknologi tinggi.

 

Apa ada prioritas kerja sama kedua negara yang akan dijalankan saat ini?

Prioritas kerja sama kedua negara mencakup bidang energi, migas, transportasi, industri penerbangan, otomotif, teknologi komputer dan telekomunikasi, serta industri halal. Kami juga berencana menjajaki kesempatan untuk memperdalam hubungan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta kerja sama antar daerah.

Tentu kami juga ingin membahas isu-isu yang berkaitan dengan pemberantasan pandemi Covid-19. Rusia siap untuk bekerja sama secara aktif dengan Indonesia di bidang tersebut.

Secara geografis ASEAN cukup jauh dari Rusia. Apa yang membuat Rusia ingin bekerja sama dengan ASEAN? Seberapa penting sih ASEAN bagi Rusia?

Memang, Asia Tenggara bukan kawasan yang berlokasi dekat dengan Rusia. Tapi orang Indonesia bilang: jauh di mata, dekat di hati. Dengan adanya teknologi modern, yang jauh bisa menjadi dekat. Jarak geografis hanya simbolis.

Bagaimana perkembangan hubungan antara ASEAN dan Rusia setelah memasuki usia 30 tahun?

Hubungan Rusia dengan ASEAN yang tahun ini sudah memasuki 30 tahun, merupakan salah satu prioritas kebijakan kami di kawasan Asia Pasifik. Kami menilai, ASEAN merupakan inti proses integrasi regional dan menciptakan sistem hubungan antar negara bersifat keseimbangan dan transparan yang berlandasan pada standar-standar hukum internasional, diakui secara menyeluruh, dan saling menghormati kepentingan semua negara.

Berkaitan dengan itu, Rusia secara konsisten mendukung kokohnya peran utama ASEAN di kawasan Asia Pasifik. Kami mendukung ASEAN di organisasi-organisasi internasional, berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan persatuan ASEAN-Sentris. Yakni, Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur, Forum Regional Keamanan ASEAN, serta Pertemuan Menteri Pertahanan negara-negara ASEAN dengan mitra-mitra dialog.

 

Kami yakin, sangat penting untuk mempertahankan prinsip-prinsip kesetaraan dan konsensus yang memungkinkan suara semua partisipan terdengar demi kerja sama yang konstruktif. Selama 30 tahun, Rusia dan ASEAN telah menjalin hubungan erat dalam berbagai kerangka kerja sama dan di berbagai level.

Pertemuan antara pemimpin negara digelar paling tidak sekali setahun. Ada juga pertemuan para menteri luar negeri dan ekonomi. Kerja sama di bidang politik dan keamanan, ekonomi dan perdagangan, sosial dan budaya berkembang cepat. Kemudian pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Singapura pada 2018, Rusia dan ASEAN menjalin kemitraan strategis.

Sayangnya, potensi kerja sama ekonomi belum berjalan optimal. Masih ada peluang yang sangat besar. Pandemi Covid-19 dan karantina wilayah (lockdown-red) mengakibatkan nilai perdagangan Rusia dengan ASEAN negatif. Namun, pada 2021, ada kecenderungan (kerja sama ekonomi-red) mengalami kenaikan.

Kami menilai, peningkatan kerja sama ASEAN dengan Uni Ekonomi Eurasia dapat memberikan kontribusi pada proses tersebut. Sudah ada dua negara ASEAN, yaitu Vietnam dan Singapura, yang menandatangani Free Trade Agreement (FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia. Indonesia juga tengah menjajaki peluang ini.

Apakah pandemi Covid-19 berdampak terhadap kerja sama ekonomi dan perdagangan? Apalagi karena pandemi, wisatawan dan pelaku bisnis Rusia juga tidak bisa berkunjung ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya

Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 2 juta wisatawan Rusia mengunjungi Asia Tenggara setiap tahun. Namun sayang, hubungan antara masyarakatnya masih di level terendah. Untuk itu, Moskow membentuk ASEAN Center dan menggelar Konferensi Pemuda Rusia-ASEAN.

Sedangkan perluasan kontak antara pebisnis difasilitasi kegiatan Dewan Bisnis Rusia-ASEAN. Masalah apa pun antara Rusia dan ASEAN, akan kita selesaikan dalam suasana bersahabat. Dengan prinsip saling percaya dan sikap konstruktif.

 

Presiden Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden bertemu di Jenewa, Swiss, pada 16 Juni lalu. Kedua pemimpin itu tampak akrab. Menurut Anda, apakah itu pertanda baik bahwa hubungan antara Rusia dan Amerika akan lebih harmonis di masa depan? Karena menurut kami, hubungan antara Rusia dan Amerika seperti Tom & Jerry, film kartun yang terkenal dan populer

Menarik sekali analogi yang Anda gunakan. Menurut Anda, Rusia cocok dengan karakter yang mana (Tom atau Jerry-red)?

Kalau bicara serius, menurut pendapat kami, Konferensi Tingkat Tinggi Rusia-AS berlangsung konstruktif. Kami berhasil membahas secara detail terkait kondisi hubungan bilateral, bertukar pikiran mengenai stabilitas strategis, pengawasan senjata dan konflik-konflik di dunia.

Tentu saja kami tidak sedang berilusi seperti yang disampaikan Presiden Rusia pada konferensi persnya usai berjumpa Presiden Joe Biden. Walaupun begitu, kami puas bahwa kedua pihak secara prinsip menunjukkan niat untuk memahami satu sama lain.

Kami bisa menyatakan, hasil pertemuan itu adalah langkah (walaupun kecil) menuju pemulihan hubungan antara kedua negara. Kami yakin, hal itu tidak akan tercapai tanpa saling menghormati dan peduli terhadap kepentingan satu sama lain.

Isu yang menjadi pembahasan adalah kesepakatan tentang pengembalian Duta Besar masing-masing negara ke Moskow dan Washington. Kedua negara juga akan menggelar Dialog Stabilitas Strategis dalam waktu dekat. Kami berusaha meletakkan dasar untuk pengendalian senjata di masa depan dan langkah-langkah pengurangan risiko. Kami harus mulai bekerja sama dalam bidang keamanan siber.

Pemimpin Rusia dengan jelas menegaskan, kesepakatan di semua bidang bisa dicapai jika ada kepentingan yang dapat diterima kedua pihak. Tidak ada perselisihan atau perdebatan selama diskusi. Namun, setelah acara selesai, para pejabat Amerika, yang di antaranya adalah peserta pertemuan di Jenewa, dengan rasa benci mereka mengatakan, “Moskow, dengan jelas sudah diperingatkan, apa saja hal yang penting.”

Namun sayang, peringatan itu disampaikan dengan bernada ancaman: “Jika Rusia dalam beberapa bulan ke depan tidak menerima aturan yang ditetapkan di Jenewa, mereka akan menetapkan tekanan atau sanksi baru.”

Upaya melakukan dialog bersama kami dengan posisi seperti itu, sudah diprediksi bakal gagal. Kami jelas akan merespons semua sikap dan langkah tidak bersahabat. Kami harus bersikap sejujur mungkin, jika Washington memang ingin hubungan yang stabil dan mudah diprediksi.

Ada laporan beberapa media yang menyebut Pemerintah Rusia mendukung junta militer Myanmar. Sementara anggota ASEAN lainnya mengkritik dan bahkan banyak negara lain mengutuk apa yang dilakukan junta di Myanmar. Apa yang menjadi latar belakang sikap Rusia mendukung junta Myanmar?

Media (informasi) itu salah menafsirkan pendekatan Rusia dan sahabat kami ASEAN soal Myanmar. Rusia tentu saja mendukung peran kunci ASEAN dalam isu-isu di Myanmar. ***

 

]]> .
Indonesia secara tradisional merupakan salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia Pasifik. Kedua negara telah bekerja sama di banyak bidang dalam 70 tahun terakhir. Mulai dari keamanan, ekonomi dan perdagangan, serta kemanusiaan.

Di tengah pandemi Covid-19, hari ini (Selasa, 6/7), Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov menyambangi Jakarta. Salah satu misi penting kunjungan ini adalah untuk lebih memperdalam kerja sama bilateral.

“Kami berencana menjajaki kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, serta antar daerah,” kata Lavrov dalam wawancara eksklusif dengan wartawan Rakyat Merdeka dan RM.ID Kartika Sari, Mellani Eka Mahayana dan Diananda Rahmasari. Penjelasan Menlu Lavrov dalam wawancara secara tertulis ini, diterima redaksi Rakyat Merdeka pada Jumat, 2 Juli 2021.

Kunjungan Lavrov ke Tanah Air adalah bagian dari turnya ke tiga negara Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Persatuan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, pada 5-8 Juli nanti. Diawali dengan menyambangi Brunei Darussalam, lalu Indonesia, tur Asia Lavrov akan diakhiri di Laos. Berikut penjelasan Lavrov mengenai kunjungannya ke Jakarta.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Anda akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Apa saja agenda dan topik yang akan dibahas dalam pertemuan itu? Apakah ada kerja sama yang ingin Rusia fokuskan dalam kunjungan ini?

Selama ini saya melakukan kontak dengan Ibu Retno Marsudi. Pembicaraan dan pembahasan nanti akan menjadi kelanjutan dari pertemuan kami di Indonesia pada 2017 dan di Moskow pada 2018. Kami berencana membahas isu-isu yang berkaitan dengan agenda bilateral, multilateral dan regional.

Menlu Rusia Sergey Lavrov berbicang-bincang dengan Menlu Retno Marsudi di Jakarta dalam pertemuan tiga tahun lalu. (Foto RM.id/Kemlu RI)

Apa ada isu spesifik lain yang akan dibahas?

Kami juga akan menandatangani Rencana Konsultasi Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Tahun 2021-2023 (Plan of Consultations between the Ministry of Foreign Affairs of the Russian Federation and the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia for 2021-2023).
Terkait hubungan kedua negara selama ini, bagaimana Anda melihatnya?

Sejak proklamasi kemerdekaan, Indonesia secara tradisional merupakan salah satu mitra kunci Rusia di kawasan Asia Pasifik. Tahun lalu, Indonesia dan Rusia memperingati 70 tahun hubungan diplomatik. Kami melihat ada perkembangan mengenai dialog politik, kerja sama di bidang keamanan, ekonomi dan perdagangan, serta kemanusiaan.

Kedua negara juga menjalin kerja sama multilateral. Seperti di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ASEAN-Sentris, Kelompok Negara 20 (G20), Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), Pertemuan Asia-Eropa dan banyak mekanisme kerja sama lainnya. Faktanya, hubungan kedua negara berada di tingkat kemitraan strategis. Fokus Rusia dan Indonesia saat ini adalah di bidang ekonomi dan perdagangan serta investasi. Selain itu, pada prospek-prospek diversifikasi struktur perdagangan timbal balik, didukung teknologi tinggi.

 

Apa ada prioritas kerja sama kedua negara yang akan dijalankan saat ini?

Prioritas kerja sama kedua negara mencakup bidang energi, migas, transportasi, industri penerbangan, otomotif, teknologi komputer dan telekomunikasi, serta industri halal. Kami juga berencana menjajaki kesempatan untuk memperdalam hubungan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta kerja sama antar daerah.

Tentu kami juga ingin membahas isu-isu yang berkaitan dengan pemberantasan pandemi Covid-19. Rusia siap untuk bekerja sama secara aktif dengan Indonesia di bidang tersebut.

Secara geografis ASEAN cukup jauh dari Rusia. Apa yang membuat Rusia ingin bekerja sama dengan ASEAN? Seberapa penting sih ASEAN bagi Rusia?

Memang, Asia Tenggara bukan kawasan yang berlokasi dekat dengan Rusia. Tapi orang Indonesia bilang: jauh di mata, dekat di hati. Dengan adanya teknologi modern, yang jauh bisa menjadi dekat. Jarak geografis hanya simbolis.

Bagaimana perkembangan hubungan antara ASEAN dan Rusia setelah memasuki usia 30 tahun?

Hubungan Rusia dengan ASEAN yang tahun ini sudah memasuki 30 tahun, merupakan salah satu prioritas kebijakan kami di kawasan Asia Pasifik. Kami menilai, ASEAN merupakan inti proses integrasi regional dan menciptakan sistem hubungan antar negara bersifat keseimbangan dan transparan yang berlandasan pada standar-standar hukum internasional, diakui secara menyeluruh, dan saling menghormati kepentingan semua negara.

Berkaitan dengan itu, Rusia secara konsisten mendukung kokohnya peran utama ASEAN di kawasan Asia Pasifik. Kami mendukung ASEAN di organisasi-organisasi internasional, berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan persatuan ASEAN-Sentris. Yakni, Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur, Forum Regional Keamanan ASEAN, serta Pertemuan Menteri Pertahanan negara-negara ASEAN dengan mitra-mitra dialog.

 

Kami yakin, sangat penting untuk mempertahankan prinsip-prinsip kesetaraan dan konsensus yang memungkinkan suara semua partisipan terdengar demi kerja sama yang konstruktif. Selama 30 tahun, Rusia dan ASEAN telah menjalin hubungan erat dalam berbagai kerangka kerja sama dan di berbagai level.

Pertemuan antara pemimpin negara digelar paling tidak sekali setahun. Ada juga pertemuan para menteri luar negeri dan ekonomi. Kerja sama di bidang politik dan keamanan, ekonomi dan perdagangan, sosial dan budaya berkembang cepat. Kemudian pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Singapura pada 2018, Rusia dan ASEAN menjalin kemitraan strategis.

Sayangnya, potensi kerja sama ekonomi belum berjalan optimal. Masih ada peluang yang sangat besar. Pandemi Covid-19 dan karantina wilayah (lockdown-red) mengakibatkan nilai perdagangan Rusia dengan ASEAN negatif. Namun, pada 2021, ada kecenderungan (kerja sama ekonomi-red) mengalami kenaikan.

Kami menilai, peningkatan kerja sama ASEAN dengan Uni Ekonomi Eurasia dapat memberikan kontribusi pada proses tersebut. Sudah ada dua negara ASEAN, yaitu Vietnam dan Singapura, yang menandatangani Free Trade Agreement (FTA) dengan Uni Ekonomi Eurasia. Indonesia juga tengah menjajaki peluang ini.

Apakah pandemi Covid-19 berdampak terhadap kerja sama ekonomi dan perdagangan? Apalagi karena pandemi, wisatawan dan pelaku bisnis Rusia juga tidak bisa berkunjung ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya

Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 2 juta wisatawan Rusia mengunjungi Asia Tenggara setiap tahun. Namun sayang, hubungan antara masyarakatnya masih di level terendah. Untuk itu, Moskow membentuk ASEAN Center dan menggelar Konferensi Pemuda Rusia-ASEAN.

Sedangkan perluasan kontak antara pebisnis difasilitasi kegiatan Dewan Bisnis Rusia-ASEAN. Masalah apa pun antara Rusia dan ASEAN, akan kita selesaikan dalam suasana bersahabat. Dengan prinsip saling percaya dan sikap konstruktif.

 

Presiden Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden bertemu di Jenewa, Swiss, pada 16 Juni lalu. Kedua pemimpin itu tampak akrab. Menurut Anda, apakah itu pertanda baik bahwa hubungan antara Rusia dan Amerika akan lebih harmonis di masa depan? Karena menurut kami, hubungan antara Rusia dan Amerika seperti Tom & Jerry, film kartun yang terkenal dan populer

Menarik sekali analogi yang Anda gunakan. Menurut Anda, Rusia cocok dengan karakter yang mana (Tom atau Jerry-red)?

Kalau bicara serius, menurut pendapat kami, Konferensi Tingkat Tinggi Rusia-AS berlangsung konstruktif. Kami berhasil membahas secara detail terkait kondisi hubungan bilateral, bertukar pikiran mengenai stabilitas strategis, pengawasan senjata dan konflik-konflik di dunia.

Tentu saja kami tidak sedang berilusi seperti yang disampaikan Presiden Rusia pada konferensi persnya usai berjumpa Presiden Joe Biden. Walaupun begitu, kami puas bahwa kedua pihak secara prinsip menunjukkan niat untuk memahami satu sama lain.

Kami bisa menyatakan, hasil pertemuan itu adalah langkah (walaupun kecil) menuju pemulihan hubungan antara kedua negara. Kami yakin, hal itu tidak akan tercapai tanpa saling menghormati dan peduli terhadap kepentingan satu sama lain.

Isu yang menjadi pembahasan adalah kesepakatan tentang pengembalian Duta Besar masing-masing negara ke Moskow dan Washington. Kedua negara juga akan menggelar Dialog Stabilitas Strategis dalam waktu dekat. Kami berusaha meletakkan dasar untuk pengendalian senjata di masa depan dan langkah-langkah pengurangan risiko. Kami harus mulai bekerja sama dalam bidang keamanan siber.

Pemimpin Rusia dengan jelas menegaskan, kesepakatan di semua bidang bisa dicapai jika ada kepentingan yang dapat diterima kedua pihak. Tidak ada perselisihan atau perdebatan selama diskusi. Namun, setelah acara selesai, para pejabat Amerika, yang di antaranya adalah peserta pertemuan di Jenewa, dengan rasa benci mereka mengatakan, “Moskow, dengan jelas sudah diperingatkan, apa saja hal yang penting.”

Namun sayang, peringatan itu disampaikan dengan bernada ancaman: “Jika Rusia dalam beberapa bulan ke depan tidak menerima aturan yang ditetapkan di Jenewa, mereka akan menetapkan tekanan atau sanksi baru.”

Upaya melakukan dialog bersama kami dengan posisi seperti itu, sudah diprediksi bakal gagal. Kami jelas akan merespons semua sikap dan langkah tidak bersahabat. Kami harus bersikap sejujur mungkin, jika Washington memang ingin hubungan yang stabil dan mudah diprediksi.

Ada laporan beberapa media yang menyebut Pemerintah Rusia mendukung junta militer Myanmar. Sementara anggota ASEAN lainnya mengkritik dan bahkan banyak negara lain mengutuk apa yang dilakukan junta di Myanmar. Apa yang menjadi latar belakang sikap Rusia mendukung junta Myanmar?

Media (informasi) itu salah menafsirkan pendekatan Rusia dan sahabat kami ASEAN soal Myanmar. Rusia tentu saja mendukung peran kunci ASEAN dalam isu-isu di Myanmar. ***

 

]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories