Waskita Rugi Rp 7 T, Kelilit Utang Rp 90 T Tolong… Tolong… Tolong…

Sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Begitulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan kondisi PT Waskita Karya (Persero) sekarang. Akibat pandemi, BUMN karya ini menanggung rugi Rp 7 triliun, lalu kelilit utang jumbo hingga Rp 90 triliun. Dan, sialnya lagi, anak perusahaannya, malah digugat pailit oleh vendor gara-gara nggak bisa bayar utang. 

Kondisi ini dibeberkan sendiri oleh Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono dalam webinar bertajuk “Mengukur Infrastruktur” yang digelar Kementerian BUMN, Kamis (7/4). Di awal-awal, omongan Desti didominasi rasa optimisme. Ia yakin, perusahaan yang melantai di bursa dengan kode saham WSKT itu, bisa segera melunasi utang dan kembali untung.

Desti lalu memamerkan proyek-proyek yang dikerjakan sejak 2014 hingga 2020. Atau sejak Presiden Jokowi berkuasa. Catatannya, dalam 6 tahun ini, Waskita sudah membangun 421 kilometer konstruksi jalan tol non komersil, 41,3 kilometer rel kereta api, dan 23,4 kilometer LRT. Waskita juga kebagian 12 proyek bandara, 3 pelabuhan, 905 kilometer infrastruktur EPC (transmisi), dan 22 infrastruktur pengairan. 

Lalu, sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) hingga renovasi Masjid Istiqlal tidak lepas dari campur tangan mereka. Termasuk membangun Rumah Sakit Covid-19 di Pulau Galang. 

“Dalam 6 tahun ini, menurut saya, ini adalah hal yang luar biasa. Belum pernah dicapai oleh perusahaan konstruksi lain,” klaim Desti.

Namun, ucapan Desti berubah saat bicara soal beban. Banyaknya proyek tadi ternyata tidak membuat kantong Waskita penuh. Yang terjadi, Waskita malah kelilit utang mencapai Rp 90 triliun di 2020. Dengan utang sebesar itu, mereka menanggung beban bunga hingga Rp 4,7 triliun. “Jadi, memang sangat-sangat berat,” curhatnya.

Pandemi Covid-19 memperparah derita Waskita. Sebanyak 5 ruas tol tidak laku tahun lalu. Sebab, para investor yang sudah kepincut membeli, menunda rencananya karena virus Corona merebak.

 

Kendati demikian, Desti masih punya harapan. Ruas tol yang nggak laku itu akan diakuisisi Indonesia Investment Authority (INA). Selain itu, 4 ruas tol lagi juga akan didivestasi tahun ini buat bayar utang.

Hitungannya, divestasi sembilan ruas tol tersebut dapat melepas utang sekitar Rp 20 triliun dari buku perseroan. “Kalau itu terjadi, maka ini akan mengurangi beban utang Waskita,” harapnya.

Selain utang induk, PT Waskita Beton Precast Tbk atau WSBP, anak usaha Waskita, digugat pailit vendor karena masalah pembayaran utang. Vendornya itu adalah PT Hartono Naga Persada. Gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, sudah masuk pada 31 Maret 2021. 

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade memaklumi Waskita berdarah-darah. Sebab, selama ini Waskita mendapat banyak penugasan dari Presiden Jokowi. Khususnya di periode pertama. “Banyak bangun tol dan sebagainya. (Ketika) ingin menjual tol yang sudah dibangun, tapi terhambat Covid,” kata Andre, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Politisi Gerindra itu memastikan, DPR terus mengawasi kondisi Waskita. Sejauh ini, ia masih optimis, direktur utama yang baru Waskita bisa segera menyelesaikan sengkarut utang jumbo itu. “Kita lihat Pak Dirut baru sudah bekerja keras untuk restrukturisasi, termasuk jalan tol yang sudah terbangun agar bisa dijual. Kami optimis,” sambungnya. [SAR]

]]> Sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Begitulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan kondisi PT Waskita Karya (Persero) sekarang. Akibat pandemi, BUMN karya ini menanggung rugi Rp 7 triliun, lalu kelilit utang jumbo hingga Rp 90 triliun. Dan, sialnya lagi, anak perusahaannya, malah digugat pailit oleh vendor gara-gara nggak bisa bayar utang. 

Kondisi ini dibeberkan sendiri oleh Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono dalam webinar bertajuk “Mengukur Infrastruktur” yang digelar Kementerian BUMN, Kamis (7/4). Di awal-awal, omongan Desti didominasi rasa optimisme. Ia yakin, perusahaan yang melantai di bursa dengan kode saham WSKT itu, bisa segera melunasi utang dan kembali untung.

Desti lalu memamerkan proyek-proyek yang dikerjakan sejak 2014 hingga 2020. Atau sejak Presiden Jokowi berkuasa. Catatannya, dalam 6 tahun ini, Waskita sudah membangun 421 kilometer konstruksi jalan tol non komersil, 41,3 kilometer rel kereta api, dan 23,4 kilometer LRT. Waskita juga kebagian 12 proyek bandara, 3 pelabuhan, 905 kilometer infrastruktur EPC (transmisi), dan 22 infrastruktur pengairan. 

Lalu, sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) hingga renovasi Masjid Istiqlal tidak lepas dari campur tangan mereka. Termasuk membangun Rumah Sakit Covid-19 di Pulau Galang. 

“Dalam 6 tahun ini, menurut saya, ini adalah hal yang luar biasa. Belum pernah dicapai oleh perusahaan konstruksi lain,” klaim Desti.

Namun, ucapan Desti berubah saat bicara soal beban. Banyaknya proyek tadi ternyata tidak membuat kantong Waskita penuh. Yang terjadi, Waskita malah kelilit utang mencapai Rp 90 triliun di 2020. Dengan utang sebesar itu, mereka menanggung beban bunga hingga Rp 4,7 triliun. “Jadi, memang sangat-sangat berat,” curhatnya.

Pandemi Covid-19 memperparah derita Waskita. Sebanyak 5 ruas tol tidak laku tahun lalu. Sebab, para investor yang sudah kepincut membeli, menunda rencananya karena virus Corona merebak.

 

Kendati demikian, Desti masih punya harapan. Ruas tol yang nggak laku itu akan diakuisisi Indonesia Investment Authority (INA). Selain itu, 4 ruas tol lagi juga akan didivestasi tahun ini buat bayar utang.

Hitungannya, divestasi sembilan ruas tol tersebut dapat melepas utang sekitar Rp 20 triliun dari buku perseroan. “Kalau itu terjadi, maka ini akan mengurangi beban utang Waskita,” harapnya.

Selain utang induk, PT Waskita Beton Precast Tbk atau WSBP, anak usaha Waskita, digugat pailit vendor karena masalah pembayaran utang. Vendornya itu adalah PT Hartono Naga Persada. Gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, sudah masuk pada 31 Maret 2021. 

Anggota Komisi VI DPR Andre Rosiade memaklumi Waskita berdarah-darah. Sebab, selama ini Waskita mendapat banyak penugasan dari Presiden Jokowi. Khususnya di periode pertama. “Banyak bangun tol dan sebagainya. (Ketika) ingin menjual tol yang sudah dibangun, tapi terhambat Covid,” kata Andre, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Politisi Gerindra itu memastikan, DPR terus mengawasi kondisi Waskita. Sejauh ini, ia masih optimis, direktur utama yang baru Waskita bisa segera menyelesaikan sengkarut utang jumbo itu. “Kita lihat Pak Dirut baru sudah bekerja keras untuk restrukturisasi, termasuk jalan tol yang sudah terbangun agar bisa dijual. Kami optimis,” sambungnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories