Warga Rame-rame Liburan Satgas Covid Cemas

Meskipun cuma 3 hari, mobilitas warga saat libur Paskah ini, cukup tinggi. Jalan tol, stasiun hingga bandara, dipenuhi warga yang rame-rame ingin pergi liburan ke luar kota. Kejadian ini bikin Satgas Covid-19 cemas. Corona yang sudah mulai turun, dikhawatirkan naik lagi pasca liburan.

Sejak Kamis (1/4) malam, PT Jasa Marga mencatat ada sekitar 351.256 kendaraan yang meninggalkan Jakarta. Para pelancong lokal ini melewati beberapa gerbang tol barier/utama, yaitu GT Cikupa (arah Barat), GT Ciawi (arah Selatan), GT Cikampek Utama, dan GT Kalihurip Utama (arah Timur). Angka ini naik 25,16 persen dibandingkan hari-hari biasa.

Warga yang berpergian dengan kereta api juga tidak kalah banyak. Berdasarkan data Daops 1 Jakarta, jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Gambir dan Senen pada 2-3 April mencapai 14.020 orang. Sedangkan penumpang yang tiba, pada periode yang sama sebanyak 10.291 orang.

Di bandara, lonjakan penumpang yang ke luar kota, juga meningkat. Berdasarkan data Angkasa Pura (AP I), trafik penumpang di 15 bandara yang mereka kelola, tembus 105.612 orang, pada Kamis (1/4). Angka tersebut lebih tinggi 39,8 persen dibanding trafik rata-rata harian pada Maret 2021 lalu yang hanya 75.522 penumpang per hari.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander K Ginting sampai geleng-geleng kepala melihat tingginya mobilitas warga saat libur Paskah ini. Dia khawatir, mobilitas serentak dalam waktu tertentu, akan mengakibatkan kerumunan, pelonggaran protokol kesehatan, dan saling menularkan. Hasilnya, kenaikan kasus tidak bisa dihindarkan.

Menurutnya, setiap libur panjang, kasus harian pasti melonjak. Contohnya libur Idul Fitri 22-25 Mei 2020,

kenaikan kasus mencapai 68-93 persen, dan angka kematian tumbuh 28-66 persen. Begitu juga saat libur kemerdekaan 20-23 Agustus, kasus harian naik 60-100 persen.

Lonjakan kasus juga terjadi pasca libur Maulid Nabi 28 Oktober-1 November. Puncaknya, saat libur Natal dan Tahun baru, yakni 24 Desember 2020-3 Januari 2021, kenaikan kasus tembus 78 persen, dan kematiannya naik 50 persen.

“Tentu membuat khawatir terjadi lonjakan. Karena mobilitas, kerumunan. Maka nantinya, ada masa inkubasi 2 minggu, nanti 2 minggu berikutnya sakit semua. Akhirnya, naik lagi. Padahal ini sudah melandai,” papar Alexander kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kata dia, penularan virus dari strain baru. Karena mutasi virus Corona terbukti lebih cepat menular. Dampaknya, yang terinfeksi banyak, dan beban rumah sakit bertambah.

“Jangan sampai strain baru jadi penumpang gelap di kelompok yang berlibur. Tahun 2020 itu belum ada strain baru. Kalau sampai terjadi, ini akan menjadi second wave atau third wave yang membuat kita sulit nantinya,” tegasnya.

 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menuturkan, sejak Januari hingga Maret 2021, kasus harian Corona terus menurun. Bahkan Wiku membantah, penurunan kasus positif itu karena rendahnya testing.

“Artinya, penularan Covid-19 yang saat ini cukup rendah, disebabkan menurunnya laju penularan dan bukan karena upaya penjaringan kasusnya (testing) yang rendah,” ujar Wiku.

Wiku mengingatkan, perkembangan ini menjadi kabar baik. Sebab, di tengah badai peningkatan kasus yang terjadi di dunia, Indonesia malah mampu bertahan selama dua bulan terakhir dengan jumlah kasus yang tidak meningkat.

Namun, Indonesia dalam waktu dekat akan mengahadapi dua tantangan, yakni libur Paskah dan Idul Fitri. Menurut dia, satu-satunya cara untuk menjawab tantangan ini dengan tidak bepergian dan berkumpul.

“Mari kita jaga hasil kerja keras ini dengan tidak terlena, malah sebaliknya menguatkan tekad kita bersama untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M maupun menjalankan 3T dan vaksinasi semaksimal mungkin,” ucap dia.

Wiku jiga mengingatkan, mutasi virus Corona varian E484K lebih cepat menular dibandingkan varian-varian sebelumnya, seperti B117. “Varian E484K merupakan hasil mutasi dari varian B117. Mutasi E484K yang terjadi pada protein spike adalah mutasi yang sama seperti yang ditemukan pada varian Afrika Selatan maupun Brasil. Dan berdasarkan penelitian, varian ini lebih cepat menular,” ujarnya.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, pekerjaan rumah (PR) saat ini adalah mengedukasi masyarakat tentang pentinya 5M. Memang, diakuinya, tantangan ini jauh lebih berat karena akan memasuki tahun kedua.

Ada dua faktor yang menyebabkan tantangannya semakin menantang: pandemi belum terkendali dan kejenuhan masyarakat. Kata Dicky, liburan saat ini merupakan contoh kecil potensi yang akan dihadapi saat Lebaran.

“Dampaknya akan infeksi, jelas itu. Lonjakan kasus. Yang menjadi keprihatinan, kita belum bisa mendeteksi sebagian besar kasus. Kenaikan harian belum terlihat. Karena deteksi kita masih terbatas. Hukum biologi berlaku, tidak pilih-pilih,” cetusnya.

Untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus baru, Dicky berharap, masyarakat yang habis berlibur untuk karantina diri, setidaknya 7 hari. Kemudian pada hari 3-5, memeriksakan diri menggunakan swab antigen atau PCR. Setelah itu lapor ke Puskemas untuk pendataan, dan tindak lanjut. [MEN]

]]> Meskipun cuma 3 hari, mobilitas warga saat libur Paskah ini, cukup tinggi. Jalan tol, stasiun hingga bandara, dipenuhi warga yang rame-rame ingin pergi liburan ke luar kota. Kejadian ini bikin Satgas Covid-19 cemas. Corona yang sudah mulai turun, dikhawatirkan naik lagi pasca liburan.

Sejak Kamis (1/4) malam, PT Jasa Marga mencatat ada sekitar 351.256 kendaraan yang meninggalkan Jakarta. Para pelancong lokal ini melewati beberapa gerbang tol barier/utama, yaitu GT Cikupa (arah Barat), GT Ciawi (arah Selatan), GT Cikampek Utama, dan GT Kalihurip Utama (arah Timur). Angka ini naik 25,16 persen dibandingkan hari-hari biasa.

Warga yang berpergian dengan kereta api juga tidak kalah banyak. Berdasarkan data Daops 1 Jakarta, jumlah penumpang yang berangkat dari Stasiun Gambir dan Senen pada 2-3 April mencapai 14.020 orang. Sedangkan penumpang yang tiba, pada periode yang sama sebanyak 10.291 orang.

Di bandara, lonjakan penumpang yang ke luar kota, juga meningkat. Berdasarkan data Angkasa Pura (AP I), trafik penumpang di 15 bandara yang mereka kelola, tembus 105.612 orang, pada Kamis (1/4). Angka tersebut lebih tinggi 39,8 persen dibanding trafik rata-rata harian pada Maret 2021 lalu yang hanya 75.522 penumpang per hari.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander K Ginting sampai geleng-geleng kepala melihat tingginya mobilitas warga saat libur Paskah ini. Dia khawatir, mobilitas serentak dalam waktu tertentu, akan mengakibatkan kerumunan, pelonggaran protokol kesehatan, dan saling menularkan. Hasilnya, kenaikan kasus tidak bisa dihindarkan.

Menurutnya, setiap libur panjang, kasus harian pasti melonjak. Contohnya libur Idul Fitri 22-25 Mei 2020,

kenaikan kasus mencapai 68-93 persen, dan angka kematian tumbuh 28-66 persen. Begitu juga saat libur kemerdekaan 20-23 Agustus, kasus harian naik 60-100 persen.

Lonjakan kasus juga terjadi pasca libur Maulid Nabi 28 Oktober-1 November. Puncaknya, saat libur Natal dan Tahun baru, yakni 24 Desember 2020-3 Januari 2021, kenaikan kasus tembus 78 persen, dan kematiannya naik 50 persen.

“Tentu membuat khawatir terjadi lonjakan. Karena mobilitas, kerumunan. Maka nantinya, ada masa inkubasi 2 minggu, nanti 2 minggu berikutnya sakit semua. Akhirnya, naik lagi. Padahal ini sudah melandai,” papar Alexander kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kata dia, penularan virus dari strain baru. Karena mutasi virus Corona terbukti lebih cepat menular. Dampaknya, yang terinfeksi banyak, dan beban rumah sakit bertambah.

“Jangan sampai strain baru jadi penumpang gelap di kelompok yang berlibur. Tahun 2020 itu belum ada strain baru. Kalau sampai terjadi, ini akan menjadi second wave atau third wave yang membuat kita sulit nantinya,” tegasnya.

 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menuturkan, sejak Januari hingga Maret 2021, kasus harian Corona terus menurun. Bahkan Wiku membantah, penurunan kasus positif itu karena rendahnya testing.

“Artinya, penularan Covid-19 yang saat ini cukup rendah, disebabkan menurunnya laju penularan dan bukan karena upaya penjaringan kasusnya (testing) yang rendah,” ujar Wiku.

Wiku mengingatkan, perkembangan ini menjadi kabar baik. Sebab, di tengah badai peningkatan kasus yang terjadi di dunia, Indonesia malah mampu bertahan selama dua bulan terakhir dengan jumlah kasus yang tidak meningkat.

Namun, Indonesia dalam waktu dekat akan mengahadapi dua tantangan, yakni libur Paskah dan Idul Fitri. Menurut dia, satu-satunya cara untuk menjawab tantangan ini dengan tidak bepergian dan berkumpul.

“Mari kita jaga hasil kerja keras ini dengan tidak terlena, malah sebaliknya menguatkan tekad kita bersama untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M maupun menjalankan 3T dan vaksinasi semaksimal mungkin,” ucap dia.

Wiku jiga mengingatkan, mutasi virus Corona varian E484K lebih cepat menular dibandingkan varian-varian sebelumnya, seperti B117. “Varian E484K merupakan hasil mutasi dari varian B117. Mutasi E484K yang terjadi pada protein spike adalah mutasi yang sama seperti yang ditemukan pada varian Afrika Selatan maupun Brasil. Dan berdasarkan penelitian, varian ini lebih cepat menular,” ujarnya.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, pekerjaan rumah (PR) saat ini adalah mengedukasi masyarakat tentang pentinya 5M. Memang, diakuinya, tantangan ini jauh lebih berat karena akan memasuki tahun kedua.

Ada dua faktor yang menyebabkan tantangannya semakin menantang: pandemi belum terkendali dan kejenuhan masyarakat. Kata Dicky, liburan saat ini merupakan contoh kecil potensi yang akan dihadapi saat Lebaran.

“Dampaknya akan infeksi, jelas itu. Lonjakan kasus. Yang menjadi keprihatinan, kita belum bisa mendeteksi sebagian besar kasus. Kenaikan harian belum terlihat. Karena deteksi kita masih terbatas. Hukum biologi berlaku, tidak pilih-pilih,” cetusnya.

Untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus baru, Dicky berharap, masyarakat yang habis berlibur untuk karantina diri, setidaknya 7 hari. Kemudian pada hari 3-5, memeriksakan diri menggunakan swab antigen atau PCR. Setelah itu lapor ke Puskemas untuk pendataan, dan tindak lanjut. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories