Warga Desak-desakan Beli Baju Lebaran Di Tanah Abang, Corona Itu Seperti Sudah Tiada

Corona masih menggila. Di beberapa negara, seperti India dan Brazil, bahkan datang seperti tsunami. Yang kena ratusan ribu per harinya, yang meninggal pun ribuan. Mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Yang tak tertangani di rumah sakit mengular. Anehnya, di saat kondisi masih kritis ini, di sini, di Indonesia, justru terlihat warganya santai-santai saja, bahkan ada kesan seperti tak ada yang namanya Corona.

Mau bukti? Lihat saja ke Pasar Tanah Abang, Jakarta. Di situ warga berjubel, berdesak-desakan tanpa sedikitpun mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Melihat video dan foto-foto tumpleknya warga di Tanah Abang yang tersebar di medsos, membuat banyak pihak mengerutkan dahi. Menyayangkan, juga menyedihkan.

Video padatnya warga di Pasar Tanah Abang tersebar di medsos, kemarin. Dalam video berdurasi 0.22 detik itu memperlihatkan warga sedang berburu baju buat Lebaran. Terlihat, mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu.

Di lantai dasar, saking padatnya, para pengunjung harus berdesak-desakkan. Lantai ruangan yang berwarna putih pun sampai tak terlihat.

Kondisi yang sama terlihat di lantai atasnya. Eskalator penuh dinaiki pengunjung. “Tanah Abang full,” ujar suara perekam video.

Tidak hanya di dalam, kepadatan juga terjadi di luar Pasar Tanah Abang. Dilihat dari postingan akun Instagram Jakarta Info, terlihat masyarakat juga menyerbu penjual baju yang ada di luar. Akibatnya jalan Pasar Tanah Abang macet total.

Padatnya pengunjung Pasar Tanah Abang merembet ke Stasiun Tanah Abang. Masyarakat yang habis beli baju Lebaran langsung memadati Stasiun Tanah Abang. Akibatnya, terjadi antrean masuk ke Stasiun Tanah Abang.

Video dan foto-foto kondisi Pasar Tanah Abang itu, viral di medsos. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut. Pasalnya, kerumunan itu bisa menciptakan kluster baru Corona.

Bagaimana tanggapan petugas keamanan soal padatnya Pasar Tanah Abang? Kapolsek Tanah Abang, Kompol Singgih Hermawan mengaku sudah mengingatkan pengelola pasar dan para pedagang untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung. Pasalnya, rentan terjadinya pelanggaran protokol kesehatan (Prokes).

“Sudah diingatkan semua itu,” kata Singgih, kemarin.

 

Selain ke pihak pengelola dan pedagang, Singgih juga meminta agar Pemkot Jakpus meningkatkan pengawasan di pasar. Salah satu caranya dengan menambah personel Satpol PP.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria angkat bicara mengenai padatnya Pasar Tanah Abang. Dia meminta warga dapat mengendalikan diri agar tidak berekerumun jelang Lebaran.

Ia juga meminta kepada pengelola pusat perbelanjaan untuk membatasi jumlah pengunjung, jangan sampai terjadi penumpukan yang luar biasa.

“Kami juga sudah minta kepada pihak pengelola PD Pasar Jaya, untuk mengelola dan menambah suatu sistem. Sehingga mengurangi adanya kerumunan,” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Mendengar Pasar Tanah Abang penuh, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito sangat kecewa. Ia meminta masyarakat lebih sadar dan mentaati protokol kesehatan. Mengingat, pasar merupakan salah satu tempat yang bisa menimbulkan klaster Corona.

Wiku juga meminta, aparat hingga pengelola melakukan evaluasi dan penindakan. Seperti kapasitas pengunjung, menyediakan tempat cuci tangan, dan menyemprot disinfektan secara rutin.

“Baik pihak Satgas Daerah, aparat penegak hukum, serta pengelola pasar, perlu menjaga agar protokol kesehatan di pasar berjalan dengan kondusif. Tingkatkan pengawasan, terutama menjelang Idul Fitri,” pesannya.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman juga menyesalkan kejadian ini. Menurutnya, warga yang keluar rumah untuk beli baju, pulangnya berpotensi membawa Corona. Riset terbaru yang ia dapat, orang tidak bergejala, lama kelamaan gangguan kesehatan seperti di jantung, paru-paru, dan pembuluh darah akan semakin besar.

 

Seharusnya, lanjut Dicky, ketika pusat perbelanjaan, khususnya Pasar Tanah Abang dibuka, harus dibarengi protokol kesehatannya. Karena sebagus apapun kebijakan yang dilakukan pemerintah, jika tidak dipatuhi, justru akan memperburuk pandemi.

“Yang datang ke Pasar Tanah Abang kan bukan dari Jakarta saja. Berarti, pengalihan bisnis ke online tidak ada. Satgas juga harus memberi arahan kepada kepala daerah, atau Satgas di daerah. Akses masyarakat, pedagang, harus diatur,” pungkas Dicky.

Kasus Corona Naik

Di sisi lain, penambahan kasus Corona di Jakarta mengalami tren kenaikan, setelah sebelumnya melandai.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani mengatakan, telah melakukan tes terhadap 12.140 spesimen, kemarin.

Dari jumlah tes tersebut, 9.712 orang dites PCR untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 789 positif dan 8.923 negatif.

“Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 350.113. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 62.401. Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta naik sejumlah 230 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 6.948 orang yang masih dirawat/isolasi,” rinci Dwi.

Sampai kemarin, warga Jakarta yang terkonfirmasi positif mencapai 408.620 kasus. Yang dinyatakan sembuh sebanyak 394.939 pasien atau 96,7 persen. Sedangkan yang meninggal dunia tercatat 6.733 orang, dengan tingkat kematian 1,6 persen. Untuk positivity rate dalam sepekan terakhir di Jakarta sebesar 8,6 persen. [MEN]

]]> Corona masih menggila. Di beberapa negara, seperti India dan Brazil, bahkan datang seperti tsunami. Yang kena ratusan ribu per harinya, yang meninggal pun ribuan. Mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Yang tak tertangani di rumah sakit mengular. Anehnya, di saat kondisi masih kritis ini, di sini, di Indonesia, justru terlihat warganya santai-santai saja, bahkan ada kesan seperti tak ada yang namanya Corona.

Mau bukti? Lihat saja ke Pasar Tanah Abang, Jakarta. Di situ warga berjubel, berdesak-desakan tanpa sedikitpun mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Melihat video dan foto-foto tumpleknya warga di Tanah Abang yang tersebar di medsos, membuat banyak pihak mengerutkan dahi. Menyayangkan, juga menyedihkan.

Video padatnya warga di Pasar Tanah Abang tersebar di medsos, kemarin. Dalam video berdurasi 0.22 detik itu memperlihatkan warga sedang berburu baju buat Lebaran. Terlihat, mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu.

Di lantai dasar, saking padatnya, para pengunjung harus berdesak-desakkan. Lantai ruangan yang berwarna putih pun sampai tak terlihat.

Kondisi yang sama terlihat di lantai atasnya. Eskalator penuh dinaiki pengunjung. “Tanah Abang full,” ujar suara perekam video.

Tidak hanya di dalam, kepadatan juga terjadi di luar Pasar Tanah Abang. Dilihat dari postingan akun Instagram Jakarta Info, terlihat masyarakat juga menyerbu penjual baju yang ada di luar. Akibatnya jalan Pasar Tanah Abang macet total.

Padatnya pengunjung Pasar Tanah Abang merembet ke Stasiun Tanah Abang. Masyarakat yang habis beli baju Lebaran langsung memadati Stasiun Tanah Abang. Akibatnya, terjadi antrean masuk ke Stasiun Tanah Abang.

Video dan foto-foto kondisi Pasar Tanah Abang itu, viral di medsos. Banyak yang menyayangkan kejadian tersebut. Pasalnya, kerumunan itu bisa menciptakan kluster baru Corona.

Bagaimana tanggapan petugas keamanan soal padatnya Pasar Tanah Abang? Kapolsek Tanah Abang, Kompol Singgih Hermawan mengaku sudah mengingatkan pengelola pasar dan para pedagang untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung. Pasalnya, rentan terjadinya pelanggaran protokol kesehatan (Prokes).

“Sudah diingatkan semua itu,” kata Singgih, kemarin.

 

Selain ke pihak pengelola dan pedagang, Singgih juga meminta agar Pemkot Jakpus meningkatkan pengawasan di pasar. Salah satu caranya dengan menambah personel Satpol PP.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria angkat bicara mengenai padatnya Pasar Tanah Abang. Dia meminta warga dapat mengendalikan diri agar tidak berekerumun jelang Lebaran.

Ia juga meminta kepada pengelola pusat perbelanjaan untuk membatasi jumlah pengunjung, jangan sampai terjadi penumpukan yang luar biasa.

“Kami juga sudah minta kepada pihak pengelola PD Pasar Jaya, untuk mengelola dan menambah suatu sistem. Sehingga mengurangi adanya kerumunan,” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Mendengar Pasar Tanah Abang penuh, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito sangat kecewa. Ia meminta masyarakat lebih sadar dan mentaati protokol kesehatan. Mengingat, pasar merupakan salah satu tempat yang bisa menimbulkan klaster Corona.

Wiku juga meminta, aparat hingga pengelola melakukan evaluasi dan penindakan. Seperti kapasitas pengunjung, menyediakan tempat cuci tangan, dan menyemprot disinfektan secara rutin.

“Baik pihak Satgas Daerah, aparat penegak hukum, serta pengelola pasar, perlu menjaga agar protokol kesehatan di pasar berjalan dengan kondusif. Tingkatkan pengawasan, terutama menjelang Idul Fitri,” pesannya.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman juga menyesalkan kejadian ini. Menurutnya, warga yang keluar rumah untuk beli baju, pulangnya berpotensi membawa Corona. Riset terbaru yang ia dapat, orang tidak bergejala, lama kelamaan gangguan kesehatan seperti di jantung, paru-paru, dan pembuluh darah akan semakin besar.

 

Seharusnya, lanjut Dicky, ketika pusat perbelanjaan, khususnya Pasar Tanah Abang dibuka, harus dibarengi protokol kesehatannya. Karena sebagus apapun kebijakan yang dilakukan pemerintah, jika tidak dipatuhi, justru akan memperburuk pandemi.

“Yang datang ke Pasar Tanah Abang kan bukan dari Jakarta saja. Berarti, pengalihan bisnis ke online tidak ada. Satgas juga harus memberi arahan kepada kepala daerah, atau Satgas di daerah. Akses masyarakat, pedagang, harus diatur,” pungkas Dicky.

Kasus Corona Naik

Di sisi lain, penambahan kasus Corona di Jakarta mengalami tren kenaikan, setelah sebelumnya melandai.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani mengatakan, telah melakukan tes terhadap 12.140 spesimen, kemarin.

Dari jumlah tes tersebut, 9.712 orang dites PCR untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 789 positif dan 8.923 negatif.

“Untuk rate tes PCR total per 1 juta penduduk sebanyak 350.113. Jumlah orang yang dites PCR sepekan terakhir sebanyak 62.401. Adapun jumlah kasus aktif di Jakarta naik sejumlah 230 kasus, sehingga jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 6.948 orang yang masih dirawat/isolasi,” rinci Dwi.

Sampai kemarin, warga Jakarta yang terkonfirmasi positif mencapai 408.620 kasus. Yang dinyatakan sembuh sebanyak 394.939 pasien atau 96,7 persen. Sedangkan yang meninggal dunia tercatat 6.733 orang, dengan tingkat kematian 1,6 persen. Untuk positivity rate dalam sepekan terakhir di Jakarta sebesar 8,6 persen. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories