Wapres: Terorisme Kadang Ngumpet, Kadang Muncul Tiba-tiba

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan, tindak kejahatan terorisme dan penyebaran paham radikalisme tidak berkaitan dengan agama. Sebab, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan.

“Terorisme itu tidak ada kaitannya dengan agama. Tidak ada agama yang memberikan toleransi untuk terjadinya aksi terorisme, kekerasan. Apalagi sampai membunuh orang lain, bahkan membunuh dirinya sendiri,” tegas Kiai Ma’ruf, usai meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19, di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa (30/2), seperti dikutip Antara.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengatakan, Pemerintah terus berupaya mengatasi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Salah satunya dilakukan melalui pemahaman, pendidikan, dan pembinaan kepada masyarakat.

Selain itu, upaya deradikalisasi diberikan kepada orang-orang yang pernah terpapar paham radikalisme. “Karena ternyata, sel-sel (radikal) itu masih ada. Kadang-kadang dia tidak muncul, tetapi suatu ketika dia tiba-tiba muncul. Maka, pemerintah akan terus melakukan upaya-upaya untuk kontraradikal-terorisme ini,” tuturnya.

Sebelumnya, serangan bom bunuh terjadi di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) sekitar pukul 10:30 WITA. Bom tersebut menewaskan dua orang yang diduga pelaku. Tim Densus 88 Antiteror Polri kemudian menangkap 13 orang terduga teroris di empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), DKI Jakarta, dan Jawa Barat. [USU

]]> Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan, tindak kejahatan terorisme dan penyebaran paham radikalisme tidak berkaitan dengan agama. Sebab, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan.

“Terorisme itu tidak ada kaitannya dengan agama. Tidak ada agama yang memberikan toleransi untuk terjadinya aksi terorisme, kekerasan. Apalagi sampai membunuh orang lain, bahkan membunuh dirinya sendiri,” tegas Kiai Ma’ruf, usai meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19, di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa (30/2), seperti dikutip Antara.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mengatakan, Pemerintah terus berupaya mengatasi radikalisme dan terorisme di Indonesia. Salah satunya dilakukan melalui pemahaman, pendidikan, dan pembinaan kepada masyarakat.

Selain itu, upaya deradikalisasi diberikan kepada orang-orang yang pernah terpapar paham radikalisme. “Karena ternyata, sel-sel (radikal) itu masih ada. Kadang-kadang dia tidak muncul, tetapi suatu ketika dia tiba-tiba muncul. Maka, pemerintah akan terus melakukan upaya-upaya untuk kontraradikal-terorisme ini,” tuturnya.

Sebelumnya, serangan bom bunuh terjadi di gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3) sekitar pukul 10:30 WITA. Bom tersebut menewaskan dua orang yang diduga pelaku. Tim Densus 88 Antiteror Polri kemudian menangkap 13 orang terduga teroris di empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), DKI Jakarta, dan Jawa Barat. [USU] 
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories