Wanita Dibidik Teroris Kekurangan Stok Laki-laki

Pola perekrutan calon teroris sudah bergeser. Kini, wanita paling banyak dibidik untuk direkrut menjadi teroris. Terbukti, dalam sejumlah aksi teror yang terjadi belakangan ini, kalangan wanita selalu dipilih jadi “pengantinnya”. Kenapa wanita yang dipilih? Rupanya, teroris mulai kekurangan stok laki-laki.

Aksi terorisme pertama dengan pelakunya wanita terjadi pada tahun 2018 di Surabaya, Jawa Timur. Pelaku dari aksi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya itu, adalah Puji Kuswati. Wanita berusia 43 tahun ini, melakukan aksi keji itu bersama putra-putrinya.

Tak lama berselang, suami Puji, Dita Oepriarto, meledakkan dirinya di GPPS di Jalan Arjuno, Surabaya. Hampir bersamaan, dua putra pasangan Dita dan Puji, Yusuf Fadhil dan Firman Halim, meledakkan diri di Gereja Katolik di Ngagel, Surabaya. Akibatnya, satu keluarga tewas.

Di tahun yang sama, perempuan kedua tercatat sebagai bomber wanita adalah Tri Ernawati (43 tahun). Erna dan suaminya, Tri Murtiono meledakkan diri di gerbang komplek Markas Polisi Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya.

Pada 2019, aksi bom bunuh diri juga dilakukan teroris wanita bernama Solimah di Sibolga, Sumatera Utara. Dalam peristiwa itu, Solimah bersama anaknya melakukan aksi bom bunuh diri setelah 10 jam rumahnya dikepung Tim Densus 88. Solimah memilih bunuh diri, ketimbang menyerahkan diri.

Dua aksi teroris terbaru dengan melibatkan wanita, yakni peristiwa yang terjadi di Gereja Katedral, Kota Makassar dan penyerangan Mabes Polri, pekan lalu. Di Makasar, dua pelaku yang tewas akibat melakukan aksi bom bunuh diri adalah penganten baru bersana L dan YSF.

Selang empat hari, Mabes Polri diserang sosok wanita bernama Zakiah Aini yang mengacungkan senjatanya ke polisi yang berjaga. Namun, aksinya itu gagal lantaran Zakiah berhasil dilumpuhkan dengan timah panas hingga tewas di tempat.

Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto menjelaskan soal fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kata dia, baik di Indonesia maupun dunia, pelaku bomber sudah identik dengan wanita.

Kenapa? Jaringan teroris seperti ISIS memang sedang membidik wanita untuk dijadikan bomber. Penyebabnya, karena adanya kekosongan tenaga pria. Para teroris pria sudah banyak yang tewas dan tertangkap aparat.

“Ya, perempuan ini jadi sentral setelah banyak tewasnya pendukung ISIS yang khusus pria,” kata Wawan, dalam sebuah diskusi daring, kemarin.

Tak hanya itu, Wawan mengatakan, perempuan lebih memiliki rasa emosional dan militan ketimbang laki-laki. Bahkan, bomber wanita kerap lebih dulu mengajak laki-laki untuk melancarkan aksinya.

“Termasuk juga di kasus bom panci, yang punya daya ledak menggelegar. Ini efek peniruannya, pergerakannya dan tren meningkat. Malah disebut wanita yang mengajak sekarang ini. Ada seperti itu,” ujarnya. [UMM]

]]> Pola perekrutan calon teroris sudah bergeser. Kini, wanita paling banyak dibidik untuk direkrut menjadi teroris. Terbukti, dalam sejumlah aksi teror yang terjadi belakangan ini, kalangan wanita selalu dipilih jadi “pengantinnya”. Kenapa wanita yang dipilih? Rupanya, teroris mulai kekurangan stok laki-laki.

Aksi terorisme pertama dengan pelakunya wanita terjadi pada tahun 2018 di Surabaya, Jawa Timur. Pelaku dari aksi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, Surabaya itu, adalah Puji Kuswati. Wanita berusia 43 tahun ini, melakukan aksi keji itu bersama putra-putrinya.

Tak lama berselang, suami Puji, Dita Oepriarto, meledakkan dirinya di GPPS di Jalan Arjuno, Surabaya. Hampir bersamaan, dua putra pasangan Dita dan Puji, Yusuf Fadhil dan Firman Halim, meledakkan diri di Gereja Katolik di Ngagel, Surabaya. Akibatnya, satu keluarga tewas.

Di tahun yang sama, perempuan kedua tercatat sebagai bomber wanita adalah Tri Ernawati (43 tahun). Erna dan suaminya, Tri Murtiono meledakkan diri di gerbang komplek Markas Polisi Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya.

Pada 2019, aksi bom bunuh diri juga dilakukan teroris wanita bernama Solimah di Sibolga, Sumatera Utara. Dalam peristiwa itu, Solimah bersama anaknya melakukan aksi bom bunuh diri setelah 10 jam rumahnya dikepung Tim Densus 88. Solimah memilih bunuh diri, ketimbang menyerahkan diri.

Dua aksi teroris terbaru dengan melibatkan wanita, yakni peristiwa yang terjadi di Gereja Katedral, Kota Makassar dan penyerangan Mabes Polri, pekan lalu. Di Makasar, dua pelaku yang tewas akibat melakukan aksi bom bunuh diri adalah penganten baru bersana L dan YSF.

Selang empat hari, Mabes Polri diserang sosok wanita bernama Zakiah Aini yang mengacungkan senjatanya ke polisi yang berjaga. Namun, aksinya itu gagal lantaran Zakiah berhasil dilumpuhkan dengan timah panas hingga tewas di tempat.

Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Purwanto menjelaskan soal fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Kata dia, baik di Indonesia maupun dunia, pelaku bomber sudah identik dengan wanita.

Kenapa? Jaringan teroris seperti ISIS memang sedang membidik wanita untuk dijadikan bomber. Penyebabnya, karena adanya kekosongan tenaga pria. Para teroris pria sudah banyak yang tewas dan tertangkap aparat.

“Ya, perempuan ini jadi sentral setelah banyak tewasnya pendukung ISIS yang khusus pria,” kata Wawan, dalam sebuah diskusi daring, kemarin.

Tak hanya itu, Wawan mengatakan, perempuan lebih memiliki rasa emosional dan militan ketimbang laki-laki. Bahkan, bomber wanita kerap lebih dulu mengajak laki-laki untuk melancarkan aksinya.

“Termasuk juga di kasus bom panci, yang punya daya ledak menggelegar. Ini efek peniruannya, pergerakannya dan tren meningkat. Malah disebut wanita yang mengajak sekarang ini. Ada seperti itu,” ujarnya. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories