Wamen LHK Kunjungi TPST Terbesar Di Bali, Dukung Industri Kelola Sampah

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong berkunjung ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Samtaku (Sampahku Tanggung Jawabku), di Jimbaran, Bali, Senin (31/1). Ini merupakan rangkaian dari kunjungan ke berbagai lokasi di Bali terkait dengan pengelolaan sampah sebagai persiapan perhelatan G20 serta untuk mewujudkan komitmen Pemerintah mengurangi sampah plastik di lautan hingga 70 persen pada 2025.

Dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, pembangunan fasilitas ini merupakan kolaborasi antara Danone-AQUA dan PT Reciki Mantap Jaya (Reciki), selaku pelaksana operasional TPST, didukung Pemkab Badung, Pemprov Bali, dan berbagai institusi serta komunitas yang turut bergerak dalam upaya pengelolaan sampah di Bali secara berkelanjutan. Dengan kapasitas pengelolaan sampah maksimum mencapai 120 ton per hari, TPST Samtaku Jimbaran saat ini telah menjadi TPST terbesar di Bali.

Dalam kunjungannya, Alue Dohong mengatakan, inisiatif Danone-AQUA dan Reciki dalam membangun TPST Samtaku di Jimbaran dapat menjadi contoh  bagaimana Pemda berkolaborasi dengan industri dalam mengelola dan menangani permasalahan sampah yang ada. Inisiatif ini semakin relevan seiring semakin meningkatkatnya beban timbunan sampah di tempat Pembuangan Akhir (TPA), seperti yang terjadi di TPA Suwung, Bali.

“Dengan adanya inisiatif seperti TPST Samtaku di Jimbaran ini, diharapkan timbulan sampah dapat ditangani hampir seluruhnya. Sehingga kita tidak lagi tergantung dengan TPA selain itu dampak buruk gas methan yang sangat berbahaya dan merusak lapisan ozon bisa dikurangi,” kata Alu Dohong.

TPST yang sebelumnya telah diresmikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada 10 September 2021, menggunakan model ekonomi sirkular dan Zero Waste to Landfill. Artinya, sampah yang terkumpul di fasilitas ini nantinya akan dikelola dan dapat dimanfaatkan kembali seluruhnya sehingga tidak ada yang terbuang ke lingkungan atau berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Sustainable Development Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan, selain menjadi solusi pengelolaan sampah, TPST Samtaku Jimbaran juga menjadi sarana dalam menyebarluaskan pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan model bahwa dengan kolaborasi yang kuat, bisa memberikan solusi inivatif. “Inisiatif ini semakin mengukuhkan komitmen Danone-AQUA untuk terus berkontribusi menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia dengan memperluas kolaborasi antar pemangku kepentingan,” ujarnya.

Hasil pemisahan sampah plastik yang dilakukan di TPST Jimbaran di antaranya adalah botol plastik bekas yang kemudian dikirim ke pabrik daur ulang milik Veolia, mitra daur ulang kemasan pasca konsumsi Danone-AQUA yang berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur. Botol itu diolah kembali menjadi material rPET (recycled PET) sebagai bahan baku botol plastik baru.

Di sisi lain, sampah organik akan dikelola menjadi kompos dan sebagian kecil akan diproses bersama dengan sampah residu dengan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) untuk menghasilkan bahan bakar. Saat ini, Danone-AQUA telah menjalankan kemitraan bisnis daur ulang botol plastik bekas melalui pengembangan bank sampah, TPS3R/TPST, dan pengepul sampah plastik di 17 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, serta berhasil mengumpulkan setidaknya 15.000 ton botol plastik bekas per tahun sambil turut memberdayakan lebih dari 10.000 pemulung secara inklusif. [SAR]

]]> Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong berkunjung ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Samtaku (Sampahku Tanggung Jawabku), di Jimbaran, Bali, Senin (31/1). Ini merupakan rangkaian dari kunjungan ke berbagai lokasi di Bali terkait dengan pengelolaan sampah sebagai persiapan perhelatan G20 serta untuk mewujudkan komitmen Pemerintah mengurangi sampah plastik di lautan hingga 70 persen pada 2025.

Dibangun di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, pembangunan fasilitas ini merupakan kolaborasi antara Danone-AQUA dan PT Reciki Mantap Jaya (Reciki), selaku pelaksana operasional TPST, didukung Pemkab Badung, Pemprov Bali, dan berbagai institusi serta komunitas yang turut bergerak dalam upaya pengelolaan sampah di Bali secara berkelanjutan. Dengan kapasitas pengelolaan sampah maksimum mencapai 120 ton per hari, TPST Samtaku Jimbaran saat ini telah menjadi TPST terbesar di Bali.

Dalam kunjungannya, Alue Dohong mengatakan, inisiatif Danone-AQUA dan Reciki dalam membangun TPST Samtaku di Jimbaran dapat menjadi contoh  bagaimana Pemda berkolaborasi dengan industri dalam mengelola dan menangani permasalahan sampah yang ada. Inisiatif ini semakin relevan seiring semakin meningkatkatnya beban timbunan sampah di tempat Pembuangan Akhir (TPA), seperti yang terjadi di TPA Suwung, Bali.

“Dengan adanya inisiatif seperti TPST Samtaku di Jimbaran ini, diharapkan timbulan sampah dapat ditangani hampir seluruhnya. Sehingga kita tidak lagi tergantung dengan TPA selain itu dampak buruk gas methan yang sangat berbahaya dan merusak lapisan ozon bisa dikurangi,” kata Alu Dohong.

TPST yang sebelumnya telah diresmikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada 10 September 2021, menggunakan model ekonomi sirkular dan Zero Waste to Landfill. Artinya, sampah yang terkumpul di fasilitas ini nantinya akan dikelola dan dapat dimanfaatkan kembali seluruhnya sehingga tidak ada yang terbuang ke lingkungan atau berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Sustainable Development Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan, selain menjadi solusi pengelolaan sampah, TPST Samtaku Jimbaran juga menjadi sarana dalam menyebarluaskan pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan model bahwa dengan kolaborasi yang kuat, bisa memberikan solusi inivatif. “Inisiatif ini semakin mengukuhkan komitmen Danone-AQUA untuk terus berkontribusi menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia dengan memperluas kolaborasi antar pemangku kepentingan,” ujarnya.

Hasil pemisahan sampah plastik yang dilakukan di TPST Jimbaran di antaranya adalah botol plastik bekas yang kemudian dikirim ke pabrik daur ulang milik Veolia, mitra daur ulang kemasan pasca konsumsi Danone-AQUA yang berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur. Botol itu diolah kembali menjadi material rPET (recycled PET) sebagai bahan baku botol plastik baru.

Di sisi lain, sampah organik akan dikelola menjadi kompos dan sebagian kecil akan diproses bersama dengan sampah residu dengan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) untuk menghasilkan bahan bakar. Saat ini, Danone-AQUA telah menjalankan kemitraan bisnis daur ulang botol plastik bekas melalui pengembangan bank sampah, TPS3R/TPST, dan pengepul sampah plastik di 17 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia, serta berhasil mengumpulkan setidaknya 15.000 ton botol plastik bekas per tahun sambil turut memberdayakan lebih dari 10.000 pemulung secara inklusif. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories