Vaksinasi Ala Pemilu

Antusiasme masyarakat untuk divaksin Covid-19 begitu besar. Banyak yang tidak sabar. Walaupun ada yang ragu, tapi sepertinya sedikit. Kebanyakan mau divaksin. Setidaknya, itu yang saya dengar di lingkungan saya tinggal.

Hebatnya, masyarakat juga sadar kalau vaksin itu tidak menyembuhkan. Tetapi, mencegah agar tidak mengalami dampak parah jika terpapar Corona. Kesadaran ini bisa dibilang proses dialektika yang terjadi di masyarakat.

Faktanya, virus sudah mendekat ke tetangga-tetangga. Bahkan, orang terdekat sudah terpapar. Tidak sedikit juga yang gugur. Jadi, soal dasar seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak harusnya sudah tuntas. Saat ini, waktunya divaksin. Ya, minimal merasa tenang sedikit.

Ada juga yang komentar soal asal vaksin. China-Eropa. Tapi, intinya mereka mau divaksin. Capek juga berdebat soal asal muasal vaksin. Intinya, divaksin. Kira-kira begitulah kesimpulan masyarakat yang saya tangkap.

Nah, masyarakat juga sudah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan vaksin. Setahu orang-orang, suntik vaksin dilakukan di Puskesmas terdekat. Seperti halnya balita mendapatkan vaksinasi wajib. Antre satu-satu, disuntik, pulang. Standar.

Ada yang bilang, ini prosesnya lama. Apalagi, data yang terpapar terus menggila. Lebih dari 1,2 juta orang. Sebanyak 2,7 persen di antaranya meninggal dunia. Tentunya, perlu gerak cepat.

Biar cepat. Ada juga yang punya usulan nyentrik. Diadopsi dari cara coblosan saat Pemilu. Bagaimana kalau nyuntik vaksin itu dilakukan ala tempat pemungutan suara (TPS). Katanya, pemilu satu hari saja beres. Nah, vaksinasi ini dua kali. Berarti dua kali digelar juga. Simple mikirnya.

Tapi, ada yang celetuk juga, berapa sih tenaga medis kita? Menilik laman setkab. go.id, jumlah sumber daya manusia kesehatan (SDMK) yang akan lebih dahulu divaksinasi sebanyak 1.592.934 orang. Kalau benar penyuntiknya itu lebih dari 1 juta jiwa. Obrolan rakyat vaksinasi ala TPSbisa saja dilakukan. Di Pemilu 2019, jumlah total TPS baik di dalam maupun luar negeri ada 809.500 unit. Coblosan pun beres dalam satu hari.

Ada kelakar, jika urusan kesehatan ini disamakan dengan kepentingan Pemilu. Pasti cepat beres. Buktinya, di Pemilu 2024 yang masih tiga tahun lagi, sudah diomongin, bahkan diorbitkan. Mulai dari calon presiden, hingga parpol dan calon parpol peserta Pemilu.

Mudah-mudahan saja, vaksinasi nanti semaraknya seperti coblosan saat Pemilu. Rakyatnya semangat, penyelenggaranya juga. Semoga Indonesia segera pulih dari pageblug ini. Aamiin. [Boy Sakti Hapsoro/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> Antusiasme masyarakat untuk divaksin Covid-19 begitu besar. Banyak yang tidak sabar. Walaupun ada yang ragu, tapi sepertinya sedikit. Kebanyakan mau divaksin. Setidaknya, itu yang saya dengar di lingkungan saya tinggal.

Hebatnya, masyarakat juga sadar kalau vaksin itu tidak menyembuhkan. Tetapi, mencegah agar tidak mengalami dampak parah jika terpapar Corona. Kesadaran ini bisa dibilang proses dialektika yang terjadi di masyarakat.

Faktanya, virus sudah mendekat ke tetangga-tetangga. Bahkan, orang terdekat sudah terpapar. Tidak sedikit juga yang gugur. Jadi, soal dasar seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak harusnya sudah tuntas. Saat ini, waktunya divaksin. Ya, minimal merasa tenang sedikit.

Ada juga yang komentar soal asal vaksin. China-Eropa. Tapi, intinya mereka mau divaksin. Capek juga berdebat soal asal muasal vaksin. Intinya, divaksin. Kira-kira begitulah kesimpulan masyarakat yang saya tangkap.

Nah, masyarakat juga sudah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan vaksin. Setahu orang-orang, suntik vaksin dilakukan di Puskesmas terdekat. Seperti halnya balita mendapatkan vaksinasi wajib. Antre satu-satu, disuntik, pulang. Standar.

Ada yang bilang, ini prosesnya lama. Apalagi, data yang terpapar terus menggila. Lebih dari 1,2 juta orang. Sebanyak 2,7 persen di antaranya meninggal dunia. Tentunya, perlu gerak cepat.

Biar cepat. Ada juga yang punya usulan nyentrik. Diadopsi dari cara coblosan saat Pemilu. Bagaimana kalau nyuntik vaksin itu dilakukan ala tempat pemungutan suara (TPS). Katanya, pemilu satu hari saja beres. Nah, vaksinasi ini dua kali. Berarti dua kali digelar juga. Simple mikirnya.

Tapi, ada yang celetuk juga, berapa sih tenaga medis kita? Menilik laman setkab. go.id, jumlah sumber daya manusia kesehatan (SDMK) yang akan lebih dahulu divaksinasi sebanyak 1.592.934 orang. Kalau benar penyuntiknya itu lebih dari 1 juta jiwa. Obrolan rakyat vaksinasi ala TPSbisa saja dilakukan. Di Pemilu 2019, jumlah total TPS baik di dalam maupun luar negeri ada 809.500 unit. Coblosan pun beres dalam satu hari.

Ada kelakar, jika urusan kesehatan ini disamakan dengan kepentingan Pemilu. Pasti cepat beres. Buktinya, di Pemilu 2024 yang masih tiga tahun lagi, sudah diomongin, bahkan diorbitkan. Mulai dari calon presiden, hingga parpol dan calon parpol peserta Pemilu.

Mudah-mudahan saja, vaksinasi nanti semaraknya seperti coblosan saat Pemilu. Rakyatnya semangat, penyelenggaranya juga. Semoga Indonesia segera pulih dari pageblug ini. Aamiin. [Boy Sakti Hapsoro/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories