Vaksin Nusantara Bukan Proyek TNI Terawan: Bule Cuma Nonton

Eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memastikan Vaksin Nusantara 100 persen buatan lokal. Peneliti asing hanya jadi penonton. Karena itu, dia ngotot lanjutin Vaksin Nusantara. Di sisi lain, Mabes TNI menyatakan Vaksin Nusantara bukan proyek Mabes TNI.

Pernyataan Terawan ini terekam dalam sebuah video yang diupload akun YouTube Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) Media, Sabtu (17/4).

Dalam video yang berdurasi kurang dari 1 menit atau tepatnya 0,59 detik itu, terlihat Terawan sedang berbincang dengan Anang Hermansyah yang akan diambil darahnya untuk Vaksin Nusantara.

“Mereka (orang asing) masuk lihat bagaimana orang Indonesia bekerja, ditonton orang bule.

Berbeda dengan pendapat orang, orang bule yang bekerja, orang yang bekerja,” ujar Terawan ke Anang.

Anang yang mendengarkan pun serius menyimaknya sambil senderan dan menyedekapkan tangannya.

Terawan mengatakan, Vaksin Nusantara murni buatan Indonesia. “Di sini semua 100 persen yang bekerja orang Indonesia,” ujarnya, dengan nada tinggi.

“100 persen yang kerja orang Indonesia, bulenya ngelihat doang,” timpal Anang yang menirukan pernyataan Terawan. Dalam video itu juga terlihat Terawan sedang mengambil darah istri Anang, Ashanty.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI Nyoto Widyo Astoro memastikan, penelitian Vaksin Nusantara yang menggunakan fasilitas RSPAD Gatot Soebroto mengikuti kaidah ilmiah. Sebenarnya, sel dendritik digunakan untuk pengobatan kanker. Namun, saat ini dikembangkan untuk penanganan Covid-19.

Sebab itu, Nyoto mengatakan, pengembangan Vaksin Nusantara harus dilakukan sesuai kaidah ilmiah yang berlaku. “Diterima secara ilmiah, kemudian memang harus disetujui oleh beberapa pemangku untuk melegalkan denditrik tersebut untuk pembuatan vaksin dalam hal ini,” tuturnya.

 

Dia mengakui, Vaksin Nusantara juga memiliki efek samping, alias gejala yang muncul setelahnya. Seperti rasa sakit, demam, dan lainnya, yang penting kan bisa diatasi. Hal semacam ini juga terjadi pada vaksin Covid-19 lainnya. Artinya, masih dalam tahap kewajaran.

Nyoto berjanji, apapun efek samping dalam penelitian akan dilaporkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Semua gejala-gejala tidak ada yang ditutupi, atau tidak dilaporkan. Jadi semua gejala akan dilaporkan. Tentu saja yang nanti akan menilai adalah BPOM, apakah gejala ini bisa layak dan sebagainya dalam vaksin ya, tapi itu hal yang biasa,” cetusnya.

Bagaimana tanggapan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin? Dia tidak ingin masuk pada peta konflik. Ia hanya meminta seluruh pengembang vaksin, termasuk Vaksin Nusantara, memperhatikan aturan main yang berlaku. “Itu benar-benar harus dibikin berdasarkan kaidah ilmiah, dan protokol kesehatan yang baku dan tetap. Itu tolong jangan di-shortcut,” pinta pria yang akrab disapa BGS.

Selain itu, ia juga meminta perdebatan Vaksin Nusantara harus secara ilmiah, bukan justru berada di ranah politik. “Jangan dilakukan di tataran media atau tataran politik. Masa yang debat pemred (pemimpin redaksi) atau ahli media, politisi. Ini kan nggak cocok. Ini sesuatu yang sifatnya sangat ilmiah, jadi biarkan para ilmuan berdebat di tataran ilmiah,” pesannya.

Meski begitu, BGS menegaskan, semua yang terkait proses pengembangan vaksin Covid-19 di dalam negeri, kewenangannya berada di BPOM. “Kalau Vaksin Nusantara posisi aku sama, hal-hal yang terkait vaksin, BPOM wewenang dia. Ini sangat ilmiah,” kata eks dirut Bank Mandiri ini.

Pihak TNI juga angkat bicara mengenai tudingan Vaksin Nusantara di-back up TNI. Kapuspen TNI, Mayjen Achmad Riad menegaskan, Vaksin Nusantara bukanlah program TNI. Lagipula, pihaknya tidak akan sembarangan memberi dukungan.

“Sesuai dengan sikap pemerintah, terkait berbagai bentuk inovasi dalam negeri seperti vaksin dan obat-obatan, untuk penanggulangan Covid-19, maka TNI akan selalu mendukungnya. Dengan catatan, telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh BPOM,” cetusnya.

Untuk menghentikan kisruh Vaksin Nusantara, kemarin, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito meneken Nota Kesepahaman Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas terhadap virus Corona.

Penandatanganan yang disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy itu berlangsung di Mabes TNI AD.

Selain mempedomani kaidah penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan, penelitian yang akan dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto ini juga bersifat autologus, yang hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri. Sehingga, tidak dapat dikomersialkan dan tidak diperlukan persetujuan izin edar. [MEN]

]]> Eks Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto memastikan Vaksin Nusantara 100 persen buatan lokal. Peneliti asing hanya jadi penonton. Karena itu, dia ngotot lanjutin Vaksin Nusantara. Di sisi lain, Mabes TNI menyatakan Vaksin Nusantara bukan proyek Mabes TNI.

Pernyataan Terawan ini terekam dalam sebuah video yang diupload akun YouTube Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN) Media, Sabtu (17/4).

Dalam video yang berdurasi kurang dari 1 menit atau tepatnya 0,59 detik itu, terlihat Terawan sedang berbincang dengan Anang Hermansyah yang akan diambil darahnya untuk Vaksin Nusantara.

“Mereka (orang asing) masuk lihat bagaimana orang Indonesia bekerja, ditonton orang bule.

Berbeda dengan pendapat orang, orang bule yang bekerja, orang yang bekerja,” ujar Terawan ke Anang.

Anang yang mendengarkan pun serius menyimaknya sambil senderan dan menyedekapkan tangannya.

Terawan mengatakan, Vaksin Nusantara murni buatan Indonesia. “Di sini semua 100 persen yang bekerja orang Indonesia,” ujarnya, dengan nada tinggi.

“100 persen yang kerja orang Indonesia, bulenya ngelihat doang,” timpal Anang yang menirukan pernyataan Terawan. Dalam video itu juga terlihat Terawan sedang mengambil darah istri Anang, Ashanty.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI Nyoto Widyo Astoro memastikan, penelitian Vaksin Nusantara yang menggunakan fasilitas RSPAD Gatot Soebroto mengikuti kaidah ilmiah. Sebenarnya, sel dendritik digunakan untuk pengobatan kanker. Namun, saat ini dikembangkan untuk penanganan Covid-19.

Sebab itu, Nyoto mengatakan, pengembangan Vaksin Nusantara harus dilakukan sesuai kaidah ilmiah yang berlaku. “Diterima secara ilmiah, kemudian memang harus disetujui oleh beberapa pemangku untuk melegalkan denditrik tersebut untuk pembuatan vaksin dalam hal ini,” tuturnya.

 

Dia mengakui, Vaksin Nusantara juga memiliki efek samping, alias gejala yang muncul setelahnya. Seperti rasa sakit, demam, dan lainnya, yang penting kan bisa diatasi. Hal semacam ini juga terjadi pada vaksin Covid-19 lainnya. Artinya, masih dalam tahap kewajaran.

Nyoto berjanji, apapun efek samping dalam penelitian akan dilaporkan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Semua gejala-gejala tidak ada yang ditutupi, atau tidak dilaporkan. Jadi semua gejala akan dilaporkan. Tentu saja yang nanti akan menilai adalah BPOM, apakah gejala ini bisa layak dan sebagainya dalam vaksin ya, tapi itu hal yang biasa,” cetusnya.

Bagaimana tanggapan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin? Dia tidak ingin masuk pada peta konflik. Ia hanya meminta seluruh pengembang vaksin, termasuk Vaksin Nusantara, memperhatikan aturan main yang berlaku. “Itu benar-benar harus dibikin berdasarkan kaidah ilmiah, dan protokol kesehatan yang baku dan tetap. Itu tolong jangan di-shortcut,” pinta pria yang akrab disapa BGS.

Selain itu, ia juga meminta perdebatan Vaksin Nusantara harus secara ilmiah, bukan justru berada di ranah politik. “Jangan dilakukan di tataran media atau tataran politik. Masa yang debat pemred (pemimpin redaksi) atau ahli media, politisi. Ini kan nggak cocok. Ini sesuatu yang sifatnya sangat ilmiah, jadi biarkan para ilmuan berdebat di tataran ilmiah,” pesannya.

Meski begitu, BGS menegaskan, semua yang terkait proses pengembangan vaksin Covid-19 di dalam negeri, kewenangannya berada di BPOM. “Kalau Vaksin Nusantara posisi aku sama, hal-hal yang terkait vaksin, BPOM wewenang dia. Ini sangat ilmiah,” kata eks dirut Bank Mandiri ini.

Pihak TNI juga angkat bicara mengenai tudingan Vaksin Nusantara di-back up TNI. Kapuspen TNI, Mayjen Achmad Riad menegaskan, Vaksin Nusantara bukanlah program TNI. Lagipula, pihaknya tidak akan sembarangan memberi dukungan.

“Sesuai dengan sikap pemerintah, terkait berbagai bentuk inovasi dalam negeri seperti vaksin dan obat-obatan, untuk penanggulangan Covid-19, maka TNI akan selalu mendukungnya. Dengan catatan, telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh BPOM,” cetusnya.

Untuk menghentikan kisruh Vaksin Nusantara, kemarin, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito meneken Nota Kesepahaman Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas terhadap virus Corona.

Penandatanganan yang disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy itu berlangsung di Mabes TNI AD.

Selain mempedomani kaidah penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan, penelitian yang akan dilakukan di RSPAD Gatot Soebroto ini juga bersifat autologus, yang hanya dipergunakan untuk diri pasien sendiri. Sehingga, tidak dapat dikomersialkan dan tidak diperlukan persetujuan izin edar. [MEN]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories