Utang Turun, Ekspor Naik, Perdagangan Surplus Ekonomi Baik, Itu Angka-angkanya…

Di atas kertas, perekonomian Indonesia baik-baik saja. Datanya ada, dan memuaskan. Mulai dari utang luar negeri yang turun, kinerja ekspor kinclong, sampai surplus neraca perdagangan yang kembali memecahkan rekor.

Catatan Bank Indonesia (BI), utang luar negeri Indonesia pada Juli 2022 turun menjadi 400,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5,965 triliun. Sebelumnya, utang luar negeri kita menyentuh 403,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,013 triliun. Penurunan ini karena berkurangnya utang luar negeri sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) maupun sektor swasta.

Secara tahunan, posisi utang luar negeri Juli 2022 mengalami kontraksi 4,1 persen (yoy). Penurunan ini lebih dalam dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya 3,2 persen (yoy), yakni dari 187,3 miliar dolar AS menjadi 185,6 miliar dolar AS. Penurunan ini akibat pergeseran penempatan dana oleh investor nonresiden di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Utang luar negeri swasta juga melanjutkan tren penurunan. Posisi utang luar negeri swasta pada Juli 2022 tercatat 206,3 miliar dolar AS, turun dari sebelumnya 207,7 miliar dolar AS. Secara tahunan, utang luar negeri swasta terkontraksi 1,2 persen (yoy), lebih dalam dari kontraksi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,7 persen (yoy).

Di bidang perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2022, kinerja ekspor naik 9,17 persen dari bulan sebelumnya. Semula 25,56 miliar dolar AS menjadi 27,91 miliar dolar AS. Sementara, jika dibanding Agustus 2021 ekspor Agustus 2022, naik 30,15 persen.

Dari angka tersebut, ekspor nonmigas meningkat 8,24 persen. Semula 24,19 miliar dolar AS menjadi 26,18 miliar dolar AS. Sementara, ekspor migas naik 25,59 persen, dari 1,36 miliar dolar AS menjadi 1,71 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati sebanyak 904,7 juta dolar AS yang meningkat 25,40 persen. Sedangkan peningkatan ekspor migas terjadi semua jenis yaitu minyak mentah 26,56 persen menjadi 133,9 juta dolar AS, ekspor hasil minyak naik 17,07 persen menjadi 462,6 juta dolar AS, dan gas naik 29,35 persen menjadi 1,12 miliar dolar AS.

 

Kinerja ekspor yang kinclong menular ke neraca perdagangan yang surplus 5,76 miliar dolar AS. Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dari impor. Ekspor meningkat 9,17 persen atau sekitar 27,91 miliar dolar, sementara impornya naik 3,77 persen atau sekitar 22,15 miliar dolar AS. Maka, surplus perdagangan mencapai 5,76 miliar dolar AS. Itu artinya, sudah 28 bulan berturut-turut Indonesia mengalami surplus neraca dagang.

Memang, hasil ini cukup memuaskan. Namun, dengan kenaikan harga BBM, membuat Pemerintah memitigasi kenaikan inflasi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi, kenaikan BBM akan meningkatkan inflasi hingga di akhir tahun.

“Dalam empat bulan ini, betul-betul kita akan berupaya mencapai target inflasi yang secara nasional kita menargetkan inflasi pangan di bawah 5 persen,” ucap Airlangga, dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Pengendalian Inflasi Tahun 2022, Senin lalu.

Kenapa demikian? Karena inflasi di sektor energi bisa mencapai 1,6-2 persen. Imbasnya, pada laju pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, Airlangga tetap optimis, perekonomian kita bisa tumbuh di atas 5 persen hingga di akhir tahun. Untuk di kuartal III-2022, dia pede pertumbuhan ekonomi bisa di angka sekitar 5,2 persen.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi, angka inflasi masih akan lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi. “Kita harus siap-siap bahwa angka inflasi kita nanti akan sedikit lebih tinggi daripada angka pertumbuhan ekonomi,” wanti-wantinya.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, angka-angka positif di atas terbentuk karena booming harga komoditas. Namun, banyak yang memprediksi harganya bakal turun. Jika sudah turun, tentu indikator yang dijabarkan akan berubah total.

“Surplus bisa jadi defisit. Itu yang harus diperhatikan. Jangan terlena pada indikator positif yang sifatnya jangka pendek,” pesan Bhima.

Dilihat dari tekanan eksternal, terjadi penguatan dolar AS, yang berdampak pada rupiah. Lagi pula, selama semester I, Pemerintah menahan harga BBM. Sementara sekarang, BBM sudah naik, yang bisa memicu penurunan daya beli. “Terjadi koreksi pada daya beli dan mengarah pada stagflasi,” kata Bhima. [MEN]

]]> Di atas kertas, perekonomian Indonesia baik-baik saja. Datanya ada, dan memuaskan. Mulai dari utang luar negeri yang turun, kinerja ekspor kinclong, sampai surplus neraca perdagangan yang kembali memecahkan rekor.

Catatan Bank Indonesia (BI), utang luar negeri Indonesia pada Juli 2022 turun menjadi 400,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5,965 triliun. Sebelumnya, utang luar negeri kita menyentuh 403,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,013 triliun. Penurunan ini karena berkurangnya utang luar negeri sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) maupun sektor swasta.

Secara tahunan, posisi utang luar negeri Juli 2022 mengalami kontraksi 4,1 persen (yoy). Penurunan ini lebih dalam dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya 3,2 persen (yoy), yakni dari 187,3 miliar dolar AS menjadi 185,6 miliar dolar AS. Penurunan ini akibat pergeseran penempatan dana oleh investor nonresiden di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Utang luar negeri swasta juga melanjutkan tren penurunan. Posisi utang luar negeri swasta pada Juli 2022 tercatat 206,3 miliar dolar AS, turun dari sebelumnya 207,7 miliar dolar AS. Secara tahunan, utang luar negeri swasta terkontraksi 1,2 persen (yoy), lebih dalam dari kontraksi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,7 persen (yoy).

Di bidang perdagangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2022, kinerja ekspor naik 9,17 persen dari bulan sebelumnya. Semula 25,56 miliar dolar AS menjadi 27,91 miliar dolar AS. Sementara, jika dibanding Agustus 2021 ekspor Agustus 2022, naik 30,15 persen.

Dari angka tersebut, ekspor nonmigas meningkat 8,24 persen. Semula 24,19 miliar dolar AS menjadi 26,18 miliar dolar AS. Sementara, ekspor migas naik 25,59 persen, dari 1,36 miliar dolar AS menjadi 1,71 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menjelaskan, peningkatan terbesar ekspor nonmigas terjadi pada lemak dan minyak hewan nabati sebanyak 904,7 juta dolar AS yang meningkat 25,40 persen. Sedangkan peningkatan ekspor migas terjadi semua jenis yaitu minyak mentah 26,56 persen menjadi 133,9 juta dolar AS, ekspor hasil minyak naik 17,07 persen menjadi 462,6 juta dolar AS, dan gas naik 29,35 persen menjadi 1,12 miliar dolar AS.

 

Kinerja ekspor yang kinclong menular ke neraca perdagangan yang surplus 5,76 miliar dolar AS. Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dari impor. Ekspor meningkat 9,17 persen atau sekitar 27,91 miliar dolar, sementara impornya naik 3,77 persen atau sekitar 22,15 miliar dolar AS. Maka, surplus perdagangan mencapai 5,76 miliar dolar AS. Itu artinya, sudah 28 bulan berturut-turut Indonesia mengalami surplus neraca dagang.

Memang, hasil ini cukup memuaskan. Namun, dengan kenaikan harga BBM, membuat Pemerintah memitigasi kenaikan inflasi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi, kenaikan BBM akan meningkatkan inflasi hingga di akhir tahun.

“Dalam empat bulan ini, betul-betul kita akan berupaya mencapai target inflasi yang secara nasional kita menargetkan inflasi pangan di bawah 5 persen,” ucap Airlangga, dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Pengendalian Inflasi Tahun 2022, Senin lalu.

Kenapa demikian? Karena inflasi di sektor energi bisa mencapai 1,6-2 persen. Imbasnya, pada laju pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, Airlangga tetap optimis, perekonomian kita bisa tumbuh di atas 5 persen hingga di akhir tahun. Untuk di kuartal III-2022, dia pede pertumbuhan ekonomi bisa di angka sekitar 5,2 persen.

Namun, Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi, angka inflasi masih akan lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi. “Kita harus siap-siap bahwa angka inflasi kita nanti akan sedikit lebih tinggi daripada angka pertumbuhan ekonomi,” wanti-wantinya.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, angka-angka positif di atas terbentuk karena booming harga komoditas. Namun, banyak yang memprediksi harganya bakal turun. Jika sudah turun, tentu indikator yang dijabarkan akan berubah total.

“Surplus bisa jadi defisit. Itu yang harus diperhatikan. Jangan terlena pada indikator positif yang sifatnya jangka pendek,” pesan Bhima.

Dilihat dari tekanan eksternal, terjadi penguatan dolar AS, yang berdampak pada rupiah. Lagi pula, selama semester I, Pemerintah menahan harga BBM. Sementara sekarang, BBM sudah naik, yang bisa memicu penurunan daya beli. “Terjadi koreksi pada daya beli dan mengarah pada stagflasi,” kata Bhima. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories