Utang Luar Negeri RI Turun Jadi Rp 5.960 T

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV-2021 mencapai 415,1 miliar dolar AS atau Rp 5.960,8 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang 424,0 miliar dolar AS atau Rp 6.088,6 triliun

Secara tahunan (yoy), posisi ULN triwulan IV-2021 terkontraksi 0,4 persen. Pada triwulan sebelumnya ULN tumbuh 3,8 persen yoy.

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan, ULN Indonesia pada triwulan IV-2021 tetap terkendali. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga, di kisaran 35,0 persen.

“Jumlah itu menurun dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya sebesar 37,0 persen,” terang di Jakarta, Selasa (15/2).

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ditunjukkan oleh ULN jangka panjang yang lebih dominan dengan pangsa mencapai 88,3 persen dari total ULN. 

Erwin mengatakan, dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. 

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” ucapnya.

BI merinci, dari total ULN tersebut, tercatat ULN pemerintah pada triwulan IV-2021 menurun sebesar 200,2 miliar dolar AS atau Rp 2.874,8 triliun, menurun dari posisi triwulan sebelumnya sebesar 205,5 miliar dolar AS atau Rp 2.950,9 triliun.

“Hal ini menyebabkan ULN pemerintah terkontraksi 3,0 persen yoy, setelah tumbuh 4,1 persen yoy pada triwulan III-2021,” jelas 

Penurunan ULN terjadi seiring beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo dan pelunasan sebagian pokok pinjaman di triwulan IV-2021. Di samping itu, volatilitas di pasar keuangan global yang cenderung tinggi turut berpengaruh pada perpindahan investasi dari SBN ke instrumen lain, sehingga mengurangi porsi kepemilikan investor nonresiden pada SBN.

 

Sepanjang triwulan IV-2021, ULN pemerintah tetap diarahkan pada pembiayaan sektor produktif dan diutamakan untuk mendukung belanja prioritas Pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 

“ULN Pemerintah terus dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel,” sebut Erwin. 

Hingga akhir 2021, pemanfaatan ULN pemerintah tercatat ikut mendukung kinerja pemerintah pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,9 persen dari total ULN pemerintah), sektor jasa kesehatan, dan kegiatan sosial (17,2 persen), sektor jasa pendidikan (16,5 persen), sektor konstruksi (15,5 persen), dan sektor jasa keuangan dan asuransi (12,1 persen). 

“Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah triwulan IV-2021 relatif aman dan terkendali. Mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN Pemerintah,” tegas Erwin.

Dari ULN swasta, juga tercatat menurun menjadi sebesar 205,9 miliar dolar AS atau Rp 2.956,7 triliun pada triwulan IV-2021, dari 209,3 miliar dolar AS atau Rp 3.005,5 triliun pada triwulan III-2021. Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 0,9 persen yoy, setelah tumbuh 0,6 persen yoy.

Perkembangan tersebut disebabkan oleh semakin dalamnya kontraksi ULN lembaga keuangan (financial corporations) menjadi 4,2 persen yoy, dari kontraksi triwulan sebelumnya 2,7 persen yoy. Sedangkan kontraksi ULN korporasi bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) menjadi sekitar 0,01 persen yoy, setelah tumbuh 1,5 persen pada triwulan III-2021. 

BI merinci, berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 76,7 persen dari total ULN swasta. 

ULN tersebut tetap didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,4 persen terhadap total ULN swasta. “Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” ujarnya. [DWI]

]]> Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan IV-2021 mencapai 415,1 miliar dolar AS atau Rp 5.960,8 triliun. Jumlah ini turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang 424,0 miliar dolar AS atau Rp 6.088,6 triliun

Secara tahunan (yoy), posisi ULN triwulan IV-2021 terkontraksi 0,4 persen. Pada triwulan sebelumnya ULN tumbuh 3,8 persen yoy.

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono mengatakan, ULN Indonesia pada triwulan IV-2021 tetap terkendali. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga, di kisaran 35,0 persen.

“Jumlah itu menurun dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya sebesar 37,0 persen,” terang di Jakarta, Selasa (15/2).

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ditunjukkan oleh ULN jangka panjang yang lebih dominan dengan pangsa mencapai 88,3 persen dari total ULN. 

Erwin mengatakan, dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. 

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” ucapnya.

BI merinci, dari total ULN tersebut, tercatat ULN pemerintah pada triwulan IV-2021 menurun sebesar 200,2 miliar dolar AS atau Rp 2.874,8 triliun, menurun dari posisi triwulan sebelumnya sebesar 205,5 miliar dolar AS atau Rp 2.950,9 triliun.

“Hal ini menyebabkan ULN pemerintah terkontraksi 3,0 persen yoy, setelah tumbuh 4,1 persen yoy pada triwulan III-2021,” jelas 

Penurunan ULN terjadi seiring beberapa seri Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo dan pelunasan sebagian pokok pinjaman di triwulan IV-2021. Di samping itu, volatilitas di pasar keuangan global yang cenderung tinggi turut berpengaruh pada perpindahan investasi dari SBN ke instrumen lain, sehingga mengurangi porsi kepemilikan investor nonresiden pada SBN.

 

Sepanjang triwulan IV-2021, ULN pemerintah tetap diarahkan pada pembiayaan sektor produktif dan diutamakan untuk mendukung belanja prioritas Pemerintah, termasuk kelanjutan upaya mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 

“ULN Pemerintah terus dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel,” sebut Erwin. 

Hingga akhir 2021, pemanfaatan ULN pemerintah tercatat ikut mendukung kinerja pemerintah pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,9 persen dari total ULN pemerintah), sektor jasa kesehatan, dan kegiatan sosial (17,2 persen), sektor jasa pendidikan (16,5 persen), sektor konstruksi (15,5 persen), dan sektor jasa keuangan dan asuransi (12,1 persen). 

“Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah triwulan IV-2021 relatif aman dan terkendali. Mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total ULN Pemerintah,” tegas Erwin.

Dari ULN swasta, juga tercatat menurun menjadi sebesar 205,9 miliar dolar AS atau Rp 2.956,7 triliun pada triwulan IV-2021, dari 209,3 miliar dolar AS atau Rp 3.005,5 triliun pada triwulan III-2021. Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 0,9 persen yoy, setelah tumbuh 0,6 persen yoy.

Perkembangan tersebut disebabkan oleh semakin dalamnya kontraksi ULN lembaga keuangan (financial corporations) menjadi 4,2 persen yoy, dari kontraksi triwulan sebelumnya 2,7 persen yoy. Sedangkan kontraksi ULN korporasi bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) menjadi sekitar 0,01 persen yoy, setelah tumbuh 1,5 persen pada triwulan III-2021. 

BI merinci, berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 76,7 persen dari total ULN swasta. 

ULN tersebut tetap didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,4 persen terhadap total ULN swasta. “Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” ujarnya. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories