Uskup Agung Ende Bersyukur Dapat Bantuan Batako Dari PLN

Inovasi PT PLN (Persero) yang mengolah limbah batu bara menjadi batako dampaknya dirasakan masyarakat. Bahkan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Limbah batu bara atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi material bangunan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Inovasi ini juga terlihat pada pemanfaatan FABA dari PLTU Ropa yang diolah menjadi batako. Pengolahan FABA dari PLTU Ropa menjadi batako akan dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan masyarakat Ende.

Saat ini, sudah digunakan untuk pembangunan Paroki St. Donatus Bhoanawa sebanyak 40.000 batako. Lalu pembangunan Gereja Stasi ST Yohanes Pemandi – Patisomba Paroki St. Maria Magdalena Nangahure Keuskupan Maumere sebanyak 37.500 batako.

PLN juga lakukan bedah rumah di Kabupaten Ende 24.000 batako, dan pembangunan sekolah Madrasah Ibtidiyah di Talibura – Sikka sebanyak 15.000 batako.

Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Potokota sangat mengapresiasi bantuan PLN. Dia mengungkapkan sebetulnya, sejak tahun 2020, pembangunan Paroki St. Donatus Bhoanawa sudah dilakukan.

Progresnya telah mencapai progress 47 persen. “Dengan rencana bantuan 40.000 Batako dari FABA PLN diharapkan 4.000 umat dapat segera beribadah dengan nyaman di sini,” kata Agung Ende, Mgr Vincentius Potokota.

Bapa Uskup Agung Ende juga menyampaikan rasa apresiasi yang tinggi untuk upaya PLN melalui inovasi pemanfaatan FABA yang berdampak bagi masyarakat.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, Agustinus Jatmiko mengatakan, PLN terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan FABA dari PLTU.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengategorikan FABA menjadi Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

“Selain itu kami juga punya rencana pelatihan pembuatan kompor pelet melalui pengolahan sampah untuk siswa SMK,” tukasnya. [JAR]

]]> Inovasi PT PLN (Persero) yang mengolah limbah batu bara menjadi batako dampaknya dirasakan masyarakat. Bahkan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Limbah batu bara atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi material bangunan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Inovasi ini juga terlihat pada pemanfaatan FABA dari PLTU Ropa yang diolah menjadi batako. Pengolahan FABA dari PLTU Ropa menjadi batako akan dimanfaatkan untuk beragam kebutuhan masyarakat Ende.

Saat ini, sudah digunakan untuk pembangunan Paroki St. Donatus Bhoanawa sebanyak 40.000 batako. Lalu pembangunan Gereja Stasi ST Yohanes Pemandi – Patisomba Paroki St. Maria Magdalena Nangahure Keuskupan Maumere sebanyak 37.500 batako.

PLN juga lakukan bedah rumah di Kabupaten Ende 24.000 batako, dan pembangunan sekolah Madrasah Ibtidiyah di Talibura – Sikka sebanyak 15.000 batako.

Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Potokota sangat mengapresiasi bantuan PLN. Dia mengungkapkan sebetulnya, sejak tahun 2020, pembangunan Paroki St. Donatus Bhoanawa sudah dilakukan.

Progresnya telah mencapai progress 47 persen. “Dengan rencana bantuan 40.000 Batako dari FABA PLN diharapkan 4.000 umat dapat segera beribadah dengan nyaman di sini,” kata Agung Ende, Mgr Vincentius Potokota.

Bapa Uskup Agung Ende juga menyampaikan rasa apresiasi yang tinggi untuk upaya PLN melalui inovasi pemanfaatan FABA yang berdampak bagi masyarakat.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT, Agustinus Jatmiko mengatakan, PLN terus berupaya mengoptimalkan pemanfaatan FABA dari PLTU.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengategorikan FABA menjadi Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

“Selain itu kami juga punya rencana pelatihan pembuatan kompor pelet melalui pengolahan sampah untuk siswa SMK,” tukasnya. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories