Usir Timnas Indonesia Dari All England Inggris, Linggis!!!

Perlakuan panitia All England 2021 di Inggris terhadap Timnas Bulutangkis Indonesia benar-benar bikin jengkel. Mereka memaksa Timnas Indonesia mengundurkan diri dari turnamen hanya karena satu pesawat dengan satu orang yang positif Corona. Publik di Tanah Air pun panas. Seruan “Inggris kita linggis” yang pernah diucapkan Bung Karno, menggema.

Timnas Indonesia sebenarnya sudah menerapkan protokol sangat ketat sebelum, saat di perjalanan, dan saat tiba di Inggris, untuk mengikuti All England 2021. Sebelum berangkat, Kevin Sanjaya Cs bahkan sudah divaksin. Tak ketinggalan, seluruh anggota tim melakukan swab PCR dan hasilnya negatif. Semua negatif!

Mereka lalu bertolak ke Birmingham, Inggris, menggunakan Turkish Airlines, Jumat (12/3) malam. Saat tiba di Negeri Ratu Elizabeth itu, rombongan kembali menjalani swab test, dan karantina 12 jam hingga hasilnya keluar. Semua negatif juga.

Sukses melewati fase itu, tim menggelar latihan di pusat kebugaran Hotel Crowne Plaza Birmingham City Centre, Senin (15/3). Di sini, sudah terlihat ada gelagat kurang baik. Peserta harus menunggu dimulainya turnamen bulutangkis tertua di dunia itu. Sebab, saat itu Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menunda jadwal pertandingan. Alasannya, ragu terhadap sejumlah hasil tes Covid-19.

Alhasil, seluruh pemain dan ofisial dites ulang. Setelah hasil swab test tidak ada yang menunjukkan Covid-19, seluruh manajer sepakat All England dimulai, di Utiliti Arena Birmingham, Rabu (17/3). Empat wakil Indonesia bertanding dengan gigih, dan memastikan satu langkah ke babak 16 besar. Mereka adalah Jonatan Christie, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Jonatan sukses menaklukkan lawan asal Thailand. Kemudian, Marcus/Kevin dan Ahsan/Hendra sukses mempecundangi wakil Inggris. Sedangkan Greysia/Apriyani menang WO atas wakil Jerman yang mengundurkan diri.

Sayangnya, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Setelah pertandingan itu, hal buruk terjadi. Saat itu, ada pengumuman salah satu penumpang Turkish Airlines, yang digunakan tim Merah Putih, terpapar Covid-19. Tidak disebutkan penumpang itu siapa. Yang diumumkan, hanya seluruh pemain dan ofisial Indonesia diwajibkan karantina selama 10 hari karena dianggap kontak dekat dengan orang yang positif Corona.

Padahal, saat itu ada tiga wakil Indonesia akan bertanding. Mereka adalah Anthony Sinisuka Ginting, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka pun dianggap gagal bertanding alias kalah WO (walkover) oleh panitia.

“Ini merupakan kejadian luar biasa menyakitkan dan mengecewakan bagi kami semua,” ungkap Manajer Tim Bulutangkis Indonesia, Ricky Subagja.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya berang. Dia mempertanyakan keputusan National Health Service (NHS) Inggris yang membolehkan peserta dari negara lain tetap main sementara para pemain Indonesia harus karantina. “Ini perlu kejelasan otoritas yang berwenang,” tegasnya.

Desra terus berjuang agar tidak ada perlakuan diskriminatif dan mencurangi tim Indonesia di All England. Desra telah berkomunikasi dengan Kepala Departemen Kemenlu Inggris untuk Asia Tenggara Sarah Cooke. Ia menekankan pentingnya tidak ada diskriminasi, perbedaaan, dan transparansi. Sederhananya, jika tim Indonesia sudah berinteraksi di All England, maka ada potensi penularan juga. Sehingga perlu pertimbangan agar All England diberhentikan sementara.

“Semua diberikan treatment yang sama. Setelah 10 hari, bisa dimulai lagi,” pintanya.

 

Di dalam negeri, Ketua Umum PBSI, Agung Firman juga terus berupaya agar putra putri bangsa tetap bisa bertanding dan mengharumkan Indonesia. “Saya sudah komunikasi dengan Menlu (Retno Marsudi), mohon bantuan memfasilitasi agar tetap dapat bertanding. Tidak ada alasan mereka dilarang bertanding. Mereka sudah divaksin dan tidak ada yang positif. Mereka berangkat bukan untuk foya-foya,” cetus Agung.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali juga marah. Dia mendorong PBSI melayangkan protes ke BWF.

“Kalau kita diam saja, misalnya, ada indikasi tidak adil, terus kita biarkan, maka kita dianggap lemah,” tegas Amali.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad menilai BWF dan panitia belum siap menggelar kompetisi saat pandemi. Menurutnya, panitia harus punya solusi dan alternatif. Kepada pemerintah, ia mendesak segera mengambil sikap tegas.

“Baik itu Kemenpora dan Kemenlu harus melakukan langkah-langkah atau komunikasi diplomatik dengan pemerintah Inggris dan pihak penyelenggara. Agar polemik yang terjadi tidak berlarut-larut, serta tidak berdampak negatif terhadap citra bulu tangkis internasional,” imbuhnya.

Pihak Inggris berusaha memberikan klarifikasi. Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins sampai membuat video penjelasan mengenai hal ini. Dia menyatakan, keputusan BWF yang tidak mengizinkan Timnas Indonesia bermain di All England 2021, sangat disayangkan.

Dia mencoba memuji Indonesia dengan menyebut kita memiliki beberapa atlet bulutangkis paling berbakat dan digemari. Banyak pihak ingin menonton para pemain Indonesia di All England. “Saya sangat bersimpati terhadap para atlet bulutangkis Indonesia yang terdampak,” ucapnya.

Namun, lanjut dia, di saat pandemi ini, negara-negara di dunia harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sebagaimana juga dilakukan Inggris dan Indonesia. Aturan-aturan tersebut diterapkan secara adil dan transparan.

Dia berjanji akan terus berupaya mencari jalan keluar terbaik atas masalah ini. “Kami tengah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Inggris untuk melihat apakah ada yang bisa dilakukan tentang permasalahan ini,” tutupnya.

Namun, penjelasan Dubes Inggris ini tidak membuat emosi masyarakat reda. Di Twitter, seruan “Inggris kita linggis” tetap menggema. “Inggris kita Linggis,” tulis dai sekaligus penggemar olahraga Gus Arifin di akun @Gus_Arifin.

“Saatnya mengeluarkan kutipan legend Bung Karno ini: Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!!!” seru akun @ZuAndreas. “Kalau begini jadi teringat kata-kata Bung Karno ‘Amerika kita setrika, Inggris kita linggis’. Ayo serang penyelenggara All England, Mereka nggak tahu kalau Indonesia mempunyai netizen yang ganas-ganas,” timpal @RachmanuddinA. [MEN]

]]> Perlakuan panitia All England 2021 di Inggris terhadap Timnas Bulutangkis Indonesia benar-benar bikin jengkel. Mereka memaksa Timnas Indonesia mengundurkan diri dari turnamen hanya karena satu pesawat dengan satu orang yang positif Corona. Publik di Tanah Air pun panas. Seruan “Inggris kita linggis” yang pernah diucapkan Bung Karno, menggema.

Timnas Indonesia sebenarnya sudah menerapkan protokol sangat ketat sebelum, saat di perjalanan, dan saat tiba di Inggris, untuk mengikuti All England 2021. Sebelum berangkat, Kevin Sanjaya Cs bahkan sudah divaksin. Tak ketinggalan, seluruh anggota tim melakukan swab PCR dan hasilnya negatif. Semua negatif!

Mereka lalu bertolak ke Birmingham, Inggris, menggunakan Turkish Airlines, Jumat (12/3) malam. Saat tiba di Negeri Ratu Elizabeth itu, rombongan kembali menjalani swab test, dan karantina 12 jam hingga hasilnya keluar. Semua negatif juga.

Sukses melewati fase itu, tim menggelar latihan di pusat kebugaran Hotel Crowne Plaza Birmingham City Centre, Senin (15/3). Di sini, sudah terlihat ada gelagat kurang baik. Peserta harus menunggu dimulainya turnamen bulutangkis tertua di dunia itu. Sebab, saat itu Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) menunda jadwal pertandingan. Alasannya, ragu terhadap sejumlah hasil tes Covid-19.

Alhasil, seluruh pemain dan ofisial dites ulang. Setelah hasil swab test tidak ada yang menunjukkan Covid-19, seluruh manajer sepakat All England dimulai, di Utiliti Arena Birmingham, Rabu (17/3). Empat wakil Indonesia bertanding dengan gigih, dan memastikan satu langkah ke babak 16 besar. Mereka adalah Jonatan Christie, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan Greysia Polii/Apriyani Rahayu. Jonatan sukses menaklukkan lawan asal Thailand. Kemudian, Marcus/Kevin dan Ahsan/Hendra sukses mempecundangi wakil Inggris. Sedangkan Greysia/Apriyani menang WO atas wakil Jerman yang mengundurkan diri.

Sayangnya, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Setelah pertandingan itu, hal buruk terjadi. Saat itu, ada pengumuman salah satu penumpang Turkish Airlines, yang digunakan tim Merah Putih, terpapar Covid-19. Tidak disebutkan penumpang itu siapa. Yang diumumkan, hanya seluruh pemain dan ofisial Indonesia diwajibkan karantina selama 10 hari karena dianggap kontak dekat dengan orang yang positif Corona.

Padahal, saat itu ada tiga wakil Indonesia akan bertanding. Mereka adalah Anthony Sinisuka Ginting, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka pun dianggap gagal bertanding alias kalah WO (walkover) oleh panitia.

“Ini merupakan kejadian luar biasa menyakitkan dan mengecewakan bagi kami semua,” ungkap Manajer Tim Bulutangkis Indonesia, Ricky Subagja.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Desra Percaya berang. Dia mempertanyakan keputusan National Health Service (NHS) Inggris yang membolehkan peserta dari negara lain tetap main sementara para pemain Indonesia harus karantina. “Ini perlu kejelasan otoritas yang berwenang,” tegasnya.

Desra terus berjuang agar tidak ada perlakuan diskriminatif dan mencurangi tim Indonesia di All England. Desra telah berkomunikasi dengan Kepala Departemen Kemenlu Inggris untuk Asia Tenggara Sarah Cooke. Ia menekankan pentingnya tidak ada diskriminasi, perbedaaan, dan transparansi. Sederhananya, jika tim Indonesia sudah berinteraksi di All England, maka ada potensi penularan juga. Sehingga perlu pertimbangan agar All England diberhentikan sementara.

“Semua diberikan treatment yang sama. Setelah 10 hari, bisa dimulai lagi,” pintanya.

 

Di dalam negeri, Ketua Umum PBSI, Agung Firman juga terus berupaya agar putra putri bangsa tetap bisa bertanding dan mengharumkan Indonesia. “Saya sudah komunikasi dengan Menlu (Retno Marsudi), mohon bantuan memfasilitasi agar tetap dapat bertanding. Tidak ada alasan mereka dilarang bertanding. Mereka sudah divaksin dan tidak ada yang positif. Mereka berangkat bukan untuk foya-foya,” cetus Agung.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali juga marah. Dia mendorong PBSI melayangkan protes ke BWF.

“Kalau kita diam saja, misalnya, ada indikasi tidak adil, terus kita biarkan, maka kita dianggap lemah,” tegas Amali.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad menilai BWF dan panitia belum siap menggelar kompetisi saat pandemi. Menurutnya, panitia harus punya solusi dan alternatif. Kepada pemerintah, ia mendesak segera mengambil sikap tegas.

“Baik itu Kemenpora dan Kemenlu harus melakukan langkah-langkah atau komunikasi diplomatik dengan pemerintah Inggris dan pihak penyelenggara. Agar polemik yang terjadi tidak berlarut-larut, serta tidak berdampak negatif terhadap citra bulu tangkis internasional,” imbuhnya.

Pihak Inggris berusaha memberikan klarifikasi. Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins sampai membuat video penjelasan mengenai hal ini. Dia menyatakan, keputusan BWF yang tidak mengizinkan Timnas Indonesia bermain di All England 2021, sangat disayangkan.

Dia mencoba memuji Indonesia dengan menyebut kita memiliki beberapa atlet bulutangkis paling berbakat dan digemari. Banyak pihak ingin menonton para pemain Indonesia di All England. “Saya sangat bersimpati terhadap para atlet bulutangkis Indonesia yang terdampak,” ucapnya.

Namun, lanjut dia, di saat pandemi ini, negara-negara di dunia harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sebagaimana juga dilakukan Inggris dan Indonesia. Aturan-aturan tersebut diterapkan secara adil dan transparan.

Dia berjanji akan terus berupaya mencari jalan keluar terbaik atas masalah ini. “Kami tengah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Inggris untuk melihat apakah ada yang bisa dilakukan tentang permasalahan ini,” tutupnya.

Namun, penjelasan Dubes Inggris ini tidak membuat emosi masyarakat reda. Di Twitter, seruan “Inggris kita linggis” tetap menggema. “Inggris kita Linggis,” tulis dai sekaligus penggemar olahraga Gus Arifin di akun @Gus_Arifin.

“Saatnya mengeluarkan kutipan legend Bung Karno ini: Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!!!” seru akun @ZuAndreas. “Kalau begini jadi teringat kata-kata Bung Karno ‘Amerika kita setrika, Inggris kita linggis’. Ayo serang penyelenggara All England, Mereka nggak tahu kalau Indonesia mempunyai netizen yang ganas-ganas,” timpal @RachmanuddinA. [MEN]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories