Usai Vaksin, Lansia Disarankan Mendapat Kontrol Dokter

Indonesia tengah menjalankan program vaksinasi Covid-19. Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi salah satu prioritas untuk menerima vaksin. Pakar Kesehatan, dr. Sherrvy Eva Wijayaningrum menyatakan, setelah menerima vaksin Covid-19, para lansia perlu mendapat perhatian khusus.

“Setelah pemberian vaksin dilakukan maka Lansia masih tetap harus dikontrol oleh dokter,” ujar Sherrvy dalam keterangannya saat diskusi virtual Siloam Hospitals Jember, Jawa Timur, dikutip Selasa (23/2) malam.

Pengawasan dibutuhkan jika ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, Sherrvy menegaskan, vaksin Sinovac merupakan vaksin yang telah lulus persetujuan dalam kondisi darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hal ini sesuai data-data hasil uji klinik yang tersedia pada saat EUA diterbitkan. Artinya, vaksin itu aman. “Penggunaan vaksin CoronaVac diperbolehkan untuk kelompok usia dewasa dan lansia,” ucapnya.

Batasan pemberian vaksinasi pada lansia mulai dari usia 60 tahun hingga usia 89 tahun. Jika sudah berumur diatas 90 tahun maka sudah masuk kategori tereliminasi.

Vaksin Sinovac berjenis vaksin in-aktif (mati), yaitu virus/bakteri yang dimatikan dengan suhu panas atau bahan kimia (radiasi) dan perlu dilakukan pengulangan seperti halnya vaksin flu.

Vaksin membentuk antibodi sekaligus merupakan suatu zat/senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh pada suatu penyakit. Zat/senyawa ini merupakan suatu penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Harapannya, virus yang sudah dimatikan itu akan membentuk kekebalan dalam tubuh.

Namun perlu diingat, vaksinasi tidak menjadikan tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Akan tetapi, vaksin membantu kekuatan pertahanan pada tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak divaksin saat terpapar virus.

Karena itu, protokol kesehatan tetap perlu dilaksanakan. “Tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak minimal 2 meter, dan selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun,” imbuh Sherrvy.

Lebih jauh, dokter Siloam Hospital Jember ini menerangkan, sebelum menerima vaksin, perlu dilakukan beberapa tahap pemeriksaan dan riwayat penyakit sebelumnya kepada lansia.

Untuk individu dengan penyakit kronis, diperlukan evaluasi lanjutan. “Apakah kondisi tersebut sudah terkontrol atau tidak. Bila sudah terkontrol, dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu screening kuesioner RAPUH,” ungkapnya.

Kuesioner RAPUH meliputi:

1. Resistensi

Apakah Anda mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga dan tanpa istirahat di antaranya?

2. Aktivitas

Seberapa sering Anda mengalami kelelahan dalam 4 minggu terakhir?

3. Penyakit

Apakah Anda menderita lebih dari 4 penyakit sebagai berikut: hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal?

4. Usaha berjalan

Apakah Anda mengalami kesulitan berjalan kira-kira sejauh 100-200 meter?

5. Hilang berat badan

Apakah berat badan Anda turun dibandingkan dengan berat badan 1 tahun lalu?

Dijelaskan Sherrvy Eva Wijayaningrum M.Biomed, jika nilai di atas 2, maka individu tersebut belum layak untuk divaksin. [JAR]

]]> Indonesia tengah menjalankan program vaksinasi Covid-19. Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi salah satu prioritas untuk menerima vaksin. Pakar Kesehatan, dr. Sherrvy Eva Wijayaningrum menyatakan, setelah menerima vaksin Covid-19, para lansia perlu mendapat perhatian khusus.

“Setelah pemberian vaksin dilakukan maka Lansia masih tetap harus dikontrol oleh dokter,” ujar Sherrvy dalam keterangannya saat diskusi virtual Siloam Hospitals Jember, Jawa Timur, dikutip Selasa (23/2) malam.

Pengawasan dibutuhkan jika ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, Sherrvy menegaskan, vaksin Sinovac merupakan vaksin yang telah lulus persetujuan dalam kondisi darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Hal ini sesuai data-data hasil uji klinik yang tersedia pada saat EUA diterbitkan. Artinya, vaksin itu aman. “Penggunaan vaksin CoronaVac diperbolehkan untuk kelompok usia dewasa dan lansia,” ucapnya.

Batasan pemberian vaksinasi pada lansia mulai dari usia 60 tahun hingga usia 89 tahun. Jika sudah berumur diatas 90 tahun maka sudah masuk kategori tereliminasi.

Vaksin Sinovac berjenis vaksin in-aktif (mati), yaitu virus/bakteri yang dimatikan dengan suhu panas atau bahan kimia (radiasi) dan perlu dilakukan pengulangan seperti halnya vaksin flu.

Vaksin membentuk antibodi sekaligus merupakan suatu zat/senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh pada suatu penyakit. Zat/senyawa ini merupakan suatu penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Harapannya, virus yang sudah dimatikan itu akan membentuk kekebalan dalam tubuh.

Namun perlu diingat, vaksinasi tidak menjadikan tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Akan tetapi, vaksin membantu kekuatan pertahanan pada tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak divaksin saat terpapar virus.

Karena itu, protokol kesehatan tetap perlu dilaksanakan. “Tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak minimal 2 meter, dan selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun,” imbuh Sherrvy.

Lebih jauh, dokter Siloam Hospital Jember ini menerangkan, sebelum menerima vaksin, perlu dilakukan beberapa tahap pemeriksaan dan riwayat penyakit sebelumnya kepada lansia.

Untuk individu dengan penyakit kronis, diperlukan evaluasi lanjutan. “Apakah kondisi tersebut sudah terkontrol atau tidak. Bila sudah terkontrol, dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu screening kuesioner RAPUH,” ungkapnya.

Kuesioner RAPUH meliputi:

1. Resistensi

Apakah Anda mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga dan tanpa istirahat di antaranya?

2. Aktivitas

Seberapa sering Anda mengalami kelelahan dalam 4 minggu terakhir?

3. Penyakit

Apakah Anda menderita lebih dari 4 penyakit sebagai berikut: hipertensi, diabetes, kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal?

4. Usaha berjalan

Apakah Anda mengalami kesulitan berjalan kira-kira sejauh 100-200 meter?

5. Hilang berat badan

Apakah berat badan Anda turun dibandingkan dengan berat badan 1 tahun lalu?

Dijelaskan Sherrvy Eva Wijayaningrum M.Biomed, jika nilai di atas 2, maka individu tersebut belum layak untuk divaksin. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories