Upaya Kudeta Mudah Terbaca, AHY: Polanya Kuno!

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus memantau dan menerima laporan dari para kader ihwal Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD).

Nyatanya, kata AHY, gerakan ini masih ada. Namun, mudah dibaca dan dipatahkan. “Polanya kuno,” ujar AHY melalui keterangan tertulis kepada RM.id, Kamis (18/2).

AHY sudah membacanya. Pertama, mereka berupaya mempengaruhi para pemilik suara. Pengurus DPD dan DPC Partai Demokrat. Usaha itu gagal. Seluruh pengurus membuat pernyataan mendukung kepengurusan hasil Kongres V Partai Demokrat.

Kemudian, mereka mencoba mempengaruhi mantan pengurus yang kecewa, dan mengklaim bahwa itu mempresentasikan pemilik suara. Masih belum berhasil, kelompok pengkudeta itu berupaya mempengaruhi dengan klaim telah berhasil mengumpulkan puluhan  bahkan ratusan suara.

“Padahal, itu hoaks dan tipuan belaka,” sebutnya.

Kemudian, kata AHY, mereka juga menggunakan wacana Kongres Luar Biasa (KLB) karena faktor internal. Padahal, persoalannya adalah eksternal. Yaitu, kelompok yang sangat menginginkan seseorang sebagai Capres 2024 dengan jalan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat melalui KLB.

“Terhadap hal itu, saya sudah mendapatkan sinyal bahwa Bapak Presiden tidak tahu menahu tentang keterlibatan salah satu bawahannya itu. Ini hanya akal-akalan kelompok GPK PD untuk menakut-nakuti para kader. Hubungan Pak SBY dan Pak Jokowi cukup baik. Tapi kelompok ini berusaha memecah belah hubungan yang telah terjalin dengan baik itu,” jelasnya.

Kepada seluruh kader Partai Demokrat, AHY berpesan bahwa wajiar terjadi dinamika di dalam sebuah organisasi. Semua organisasi pasti punya masalah. Tetapi masih bisa ditangani dan pasti ada solusinya. AHY menjanjikan segera berkeliling ke DPC-DPC memastikan persoalan antara DPP-DPD-DPC berjalan dengan baik.

“Saya paham, seringkali DPC kangen untuk bertemu Ketumnya dan menyampaikan persoalannya secara langsung,” katanya. [BSH]

]]> Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terus memantau dan menerima laporan dari para kader ihwal Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK PD).

Nyatanya, kata AHY, gerakan ini masih ada. Namun, mudah dibaca dan dipatahkan. “Polanya kuno,” ujar AHY melalui keterangan tertulis kepada RM.id, Kamis (18/2).

AHY sudah membacanya. Pertama, mereka berupaya mempengaruhi para pemilik suara. Pengurus DPD dan DPC Partai Demokrat. Usaha itu gagal. Seluruh pengurus membuat pernyataan mendukung kepengurusan hasil Kongres V Partai Demokrat.

Kemudian, mereka mencoba mempengaruhi mantan pengurus yang kecewa, dan mengklaim bahwa itu mempresentasikan pemilik suara. Masih belum berhasil, kelompok pengkudeta itu berupaya mempengaruhi dengan klaim telah berhasil mengumpulkan puluhan  bahkan ratusan suara.

“Padahal, itu hoaks dan tipuan belaka,” sebutnya.

Kemudian, kata AHY, mereka juga menggunakan wacana Kongres Luar Biasa (KLB) karena faktor internal. Padahal, persoalannya adalah eksternal. Yaitu, kelompok yang sangat menginginkan seseorang sebagai Capres 2024 dengan jalan menjadi Ketua Umum Partai Demokrat melalui KLB.

“Terhadap hal itu, saya sudah mendapatkan sinyal bahwa Bapak Presiden tidak tahu menahu tentang keterlibatan salah satu bawahannya itu. Ini hanya akal-akalan kelompok GPK PD untuk menakut-nakuti para kader. Hubungan Pak SBY dan Pak Jokowi cukup baik. Tapi kelompok ini berusaha memecah belah hubungan yang telah terjalin dengan baik itu,” jelasnya.

Kepada seluruh kader Partai Demokrat, AHY berpesan bahwa wajiar terjadi dinamika di dalam sebuah organisasi. Semua organisasi pasti punya masalah. Tetapi masih bisa ditangani dan pasti ada solusinya. AHY menjanjikan segera berkeliling ke DPC-DPC memastikan persoalan antara DPP-DPD-DPC berjalan dengan baik.

“Saya paham, seringkali DPC kangen untuk bertemu Ketumnya dan menyampaikan persoalannya secara langsung,” katanya. [BSH]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories