Ulos Bisa Tembus Pasar Dunia, La Nyalla Dorong UMKM Go Internasional

Potensi yang dimiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia luar biasa. Buktinya, Tenun Ulos asal Tapanuli Utara (Taput) bisa menembus pasar dunia. Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti berharap, UMKM lain bisa meniru dengan mampu go internasional

“Sejumlah UMKM sudah mampu tembus pasar dunia, bahkan mampu melakukan ekspor setiap tahunnya. Tapi, memang masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kendala,” ucapnya, Jumat (19/2).

Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur ini menilai, permasalahan yang ditemui UMKM masih berkutat pada standarisasi produk. Selain itu, pelaku UMKM juga belum menguasai prosedur ekspor dan minimnya modal serta sempitnya pasar. 

Beberapa waktu terakhir, lanjutnya, ada kelangkaan kontainer di sejumlah pelabuhan. Termasuk di Surabaya. Kondisi ini membuat biaya shipment semakin mahal, dan usaha kecil terpukul. Karena kuantitas produk yang sedikit. 

“Selama ini, pelaku UMKM berjuang sendiri mencari pasar dan melakukan inovasi produk. Dengan modal dan kemampuan terbatas, tentu sulit bagi UMKM untuk dapat bersaing dengan pengusaha yang besar,” urai La Nyalla, membeberkan masalah yang dihadapi UMKM.

Senator asal Jawa Timur ini menilai, Pemerintah harus memberikan dukungan terhadap UMKM agar bisa lebih berkembang lagi. “Pemerintah seharusnya memberikan dukungan serius serta memberikan fasilitasi. Karena keberhasilan UMKM yang tembus pasar dunia akan menguntungkan sektor perdagangan. Hal itu bisa berjalan dengan baik jika Pemerintah terlibat di dalamnya,” tambahnya.

La Nyalla memberikan contoh keberhasilan Tenun Ulos yang menembus pasar internasional. Menurutnya, capaian ini membuat Indonesia patut berbangga. “Saya kira hal ini perlu dukungan pemerintah melalui kerja sama dengan dinas-dinas lain yang terkait, menjadikan kain Tenun Ulos Tapanuli sebagai produk unggulan nasional,” tutur La Nyalla.

Apalagi, proses produksi kain Tenun Ulos mampu menyerap sekitar 6 ribu penenun. La Nyalla menilai Tenun Ulos merupakan karya seni dan budaya yang memiliki daya tarik dan kekhasan tersendiri. “Ulos lebih dari sebuah produk. Di dalamnya terkandung karya seni dan budaya hasil pergulatan para leluhur yang masih terjaga dengan baik hingga kini,” tutur La Nyalla. [USU]

]]> Potensi yang dimiliki Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia luar biasa. Buktinya, Tenun Ulos asal Tapanuli Utara (Taput) bisa menembus pasar dunia. Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti berharap, UMKM lain bisa meniru dengan mampu go internasional

“Sejumlah UMKM sudah mampu tembus pasar dunia, bahkan mampu melakukan ekspor setiap tahunnya. Tapi, memang masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kendala,” ucapnya, Jumat (19/2).

Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur ini menilai, permasalahan yang ditemui UMKM masih berkutat pada standarisasi produk. Selain itu, pelaku UMKM juga belum menguasai prosedur ekspor dan minimnya modal serta sempitnya pasar. 

Beberapa waktu terakhir, lanjutnya, ada kelangkaan kontainer di sejumlah pelabuhan. Termasuk di Surabaya. Kondisi ini membuat biaya shipment semakin mahal, dan usaha kecil terpukul. Karena kuantitas produk yang sedikit. 

“Selama ini, pelaku UMKM berjuang sendiri mencari pasar dan melakukan inovasi produk. Dengan modal dan kemampuan terbatas, tentu sulit bagi UMKM untuk dapat bersaing dengan pengusaha yang besar,” urai La Nyalla, membeberkan masalah yang dihadapi UMKM.

Senator asal Jawa Timur ini menilai, Pemerintah harus memberikan dukungan terhadap UMKM agar bisa lebih berkembang lagi. “Pemerintah seharusnya memberikan dukungan serius serta memberikan fasilitasi. Karena keberhasilan UMKM yang tembus pasar dunia akan menguntungkan sektor perdagangan. Hal itu bisa berjalan dengan baik jika Pemerintah terlibat di dalamnya,” tambahnya.

La Nyalla memberikan contoh keberhasilan Tenun Ulos yang menembus pasar internasional. Menurutnya, capaian ini membuat Indonesia patut berbangga. “Saya kira hal ini perlu dukungan pemerintah melalui kerja sama dengan dinas-dinas lain yang terkait, menjadikan kain Tenun Ulos Tapanuli sebagai produk unggulan nasional,” tutur La Nyalla.

Apalagi, proses produksi kain Tenun Ulos mampu menyerap sekitar 6 ribu penenun. La Nyalla menilai Tenun Ulos merupakan karya seni dan budaya yang memiliki daya tarik dan kekhasan tersendiri. “Ulos lebih dari sebuah produk. Di dalamnya terkandung karya seni dan budaya hasil pergulatan para leluhur yang masih terjaga dengan baik hingga kini,” tutur La Nyalla. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories