UI Dukung Program Pola Tanam IP400 Kementan

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Riyanto mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui program IP400 yang kini tengah digulirkan Kementan di sejumlah daerah.

Menurut Riyanto, program tersebut merupakan trobosan yang sangat cerdas dari seorang Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) karena ke depan Indonesia memiliki kepastian akan cadangan pangan yang kuat, terutama dalam menghadapi berbagai krisis seperti Pandemi Covid 19.

“Program yang bagus dan memang peningkatan produksi harus dilakukan simultan dengan berbagai cara. Saya pikir program ini, tidak saja produksi padi nasional yang akan meningkat, tetapi juga kesejahteraan petani yang akan lebih baik,” ujar Riyanto, dalam keterangannya, Selasa (15/2).

Riyanto menambahkan, IP400 merupakan bentuk kinerja yang sangat kongkrit dari jajaran Kementan dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Apalagi, Kementan berhasil mengeluarkan banyak varietas unggul yang bisa 4 kali panen dalam semusim.

“Tentu ke depan kita harapkan apa yang menjadi cita-cita bersama dalam mewujudkan swasembada pangan mampu dicapai secara cepat,” katanya.

Sebelumnya di Kabupaten Bone, Mentan SYL mendorong para petani di Desa Pakkasalo, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone untuk melakukan penanaman padi dengan menggunakan varietas unggul yang bisa menarik banyak negara untuk mengimpor berasnya dari Indonesia.

Karena itu, Mentan meminta agar penanaman perdana di tahun 2022 ini bisa memproduksi 4 kali panen. Salah satunya dengan pola tanam IP400.

Mentan mengatakan, Kabupaten Bone harus mampu membuktikan diri sebagai Kabupaten yang memproduksi padi lebih banyak, sehingga ke depan Provinsi Sulawesi Selatan kembali menjadi percontohan produksi padi nasional.

“Kabupaten lain Bone saya yakin bisa menjadi contoh bagi pertanian nasional. Oleh karena itu semua petani yang ada ini harus di latih dulu, baik dari sisi teknologi maupun cara menanamnya. Ingat yang paling tinggi dari modal itu bukan uang, tapi semangat dan kebersamaan,” katanya.

Mentan menambahkan, secara keseluruhan Indonesia termasuk negara subur dengan produksi beras yang selalu surplus. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir Indonesia tidak pernah melakukan impor.

“Tahun 2020 stok kita 7 juta ton dan 2021 stok kita sampai 9 juta ton. Dan kalau ke depan kita bisa terus terusan tidak impor, maka negara kita termasuk negara yang swasembada pangan di bidang beras. Apalagi nilai tukar petani kita naik, artinya kesejahteraan petani juga naik,” tutupnya. [KAL]

]]> Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Riyanto mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui program IP400 yang kini tengah digulirkan Kementan di sejumlah daerah.

Menurut Riyanto, program tersebut merupakan trobosan yang sangat cerdas dari seorang Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) karena ke depan Indonesia memiliki kepastian akan cadangan pangan yang kuat, terutama dalam menghadapi berbagai krisis seperti Pandemi Covid 19.

“Program yang bagus dan memang peningkatan produksi harus dilakukan simultan dengan berbagai cara. Saya pikir program ini, tidak saja produksi padi nasional yang akan meningkat, tetapi juga kesejahteraan petani yang akan lebih baik,” ujar Riyanto, dalam keterangannya, Selasa (15/2).

Riyanto menambahkan, IP400 merupakan bentuk kinerja yang sangat kongkrit dari jajaran Kementan dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Apalagi, Kementan berhasil mengeluarkan banyak varietas unggul yang bisa 4 kali panen dalam semusim.

“Tentu ke depan kita harapkan apa yang menjadi cita-cita bersama dalam mewujudkan swasembada pangan mampu dicapai secara cepat,” katanya.

Sebelumnya di Kabupaten Bone, Mentan SYL mendorong para petani di Desa Pakkasalo, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone untuk melakukan penanaman padi dengan menggunakan varietas unggul yang bisa menarik banyak negara untuk mengimpor berasnya dari Indonesia.

Karena itu, Mentan meminta agar penanaman perdana di tahun 2022 ini bisa memproduksi 4 kali panen. Salah satunya dengan pola tanam IP400.

Mentan mengatakan, Kabupaten Bone harus mampu membuktikan diri sebagai Kabupaten yang memproduksi padi lebih banyak, sehingga ke depan Provinsi Sulawesi Selatan kembali menjadi percontohan produksi padi nasional.

“Kabupaten lain Bone saya yakin bisa menjadi contoh bagi pertanian nasional. Oleh karena itu semua petani yang ada ini harus di latih dulu, baik dari sisi teknologi maupun cara menanamnya. Ingat yang paling tinggi dari modal itu bukan uang, tapi semangat dan kebersamaan,” katanya.

Mentan menambahkan, secara keseluruhan Indonesia termasuk negara subur dengan produksi beras yang selalu surplus. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir Indonesia tidak pernah melakukan impor.

“Tahun 2020 stok kita 7 juta ton dan 2021 stok kita sampai 9 juta ton. Dan kalau ke depan kita bisa terus terusan tidak impor, maka negara kita termasuk negara yang swasembada pangan di bidang beras. Apalagi nilai tukar petani kita naik, artinya kesejahteraan petani juga naik,” tutupnya. [KAL]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories