UGM Bikin Alat Deteksi Gempa, La Nyalla: Pemerintah Kudu Beri Dukungan

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memuji pengembangan alat sistem peringatan dini gempa oleh tim Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berharap, pemerintah memberi dukungan penuh terhadap penelitian tersebut, karena Indonesia rentan terhadap bencana.

“Sering kali, peringatan dini kebencanaan gagal diantisipasi pemerintah daerah (pemda), sehingga korban dan kerusakan akibat bencana cukup tinggi. Karenanya, segala penemuan yang berpotensi harus dikawal pemerintah,” ujar LaNyalla di sela kunjungan kerja ke Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), kemarin.

Senator dari Jawa Timur itu menguraikan, Indonesia membutuhkan berbagai sarana untuk mitigasi bencana yang memadai. Alat sistem peringatan dini besutan UGM, dikembangkan sejak tahun 2018, dan mampu mendeteksi beberapa kali gempa, termasuk gempa di Toli-toli pada 29 Mei 2021, tiga hari sebelum kejadian.

“Meski sudah terbukti akurat dalam memprediksi sejumlah gempa, tim peneliti terus melakukan pengembangan. Ini harus didukung pemerintah. Kemendikbud dan Ristek perlu memberi pendampingan karena penelitian ini berada di bawah perguruan tinggi,” jelas mantan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ini.

LaNyalla menguraikan, tim peneliti UGM memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) pada alat pendeteksi tersebut. Alat itu tersusun dari sejumlah komponen, seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, dan sumber daya listrik.

“Dari teknologi IoT, alat akan bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi. Upaya tim peneliti patut kita apresiasi, dan jika sudah memungkinkan diproduksi secara massal untuk dibagikan ke pemda-pemda, khususnya daerah yang rawan bencana,” terang dia.

LaNyalla mendorong para peneliti mengembangkan alat pendeteksi dini untuk kebencanaan lain. Ia meyakini, semakin banyak inovasi dilakukan kalangan akademisi yang didukung oleh pemerintah, mitigasi bencana di daerah akan semakin lebih baik.

“Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran untuk penelitian-penelitian sejenis, seperti alat pendeteksi longsor dan banjir. Dengan begitu, kita mampu memperbaiki sistem mitigasi kebencanaan yang kerap mengancam masyarakat,” tandasnya. [ONI]
]]> Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memuji pengembangan alat sistem peringatan dini gempa oleh tim Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berharap, pemerintah memberi dukungan penuh terhadap penelitian tersebut, karena Indonesia rentan terhadap bencana.
“Sering kali, peringatan dini kebencanaan gagal diantisipasi pemerintah daerah (pemda), sehingga korban dan kerusakan akibat bencana cukup tinggi. Karenanya, segala penemuan yang berpotensi harus dikawal pemerintah,” ujar LaNyalla di sela kunjungan kerja ke Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), kemarin.
Senator dari Jawa Timur itu menguraikan, Indonesia membutuhkan berbagai sarana untuk mitigasi bencana yang memadai. Alat sistem peringatan dini besutan UGM, dikembangkan sejak tahun 2018, dan mampu mendeteksi beberapa kali gempa, termasuk gempa di Toli-toli pada 29 Mei 2021, tiga hari sebelum kejadian.
“Meski sudah terbukti akurat dalam memprediksi sejumlah gempa, tim peneliti terus melakukan pengembangan. Ini harus didukung pemerintah. Kemendikbud dan Ristek perlu memberi pendampingan karena penelitian ini berada di bawah perguruan tinggi,” jelas mantan Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) ini.
LaNyalla menguraikan, tim peneliti UGM memanfaatkan teknologi internet of thing (IoT) pada alat pendeteksi tersebut. Alat itu tersusun dari sejumlah komponen, seperti detektor perubahan level air tanah dan gas radon, pengondisi sinyal, kontroler, penyimpan data, dan sumber daya listrik.
“Dari teknologi IoT, alat akan bekerja berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi. Upaya tim peneliti patut kita apresiasi, dan jika sudah memungkinkan diproduksi secara massal untuk dibagikan ke pemda-pemda, khususnya daerah yang rawan bencana,” terang dia.
LaNyalla mendorong para peneliti mengembangkan alat pendeteksi dini untuk kebencanaan lain. Ia meyakini, semakin banyak inovasi dilakukan kalangan akademisi yang didukung oleh pemerintah, mitigasi bencana di daerah akan semakin lebih baik.
“Pemerintah perlu mengalokasikan anggaran untuk penelitian-penelitian sejenis, seperti alat pendeteksi longsor dan banjir. Dengan begitu, kita mampu memperbaiki sistem mitigasi kebencanaan yang kerap mengancam masyarakat,” tandasnya. [ONI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories