Uang Suap Edhy Prabowo Juga Diduga Mengalir ke Penyanyi Dangdut Betty Elista

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa penyanyi dangdut Betty Elista dalam perkara suap izin ekspor benur alias benih lobster.

Pelantun lagu “Sebelas Dua Belas” ini digarap sebagai saksi untuk tersangka Edhy Prabowo, eks Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Betty Elista (penyanyi) didalami pengetahuan terkait dugaan aliran sejumlah uang dari tersangka EP (Edhy Prabowo) melalui tersangka AM (Amiril Mukminin/sespri Edhy),” ungkap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, lewat pesan singkat, Rabu (17/3).

Edhy Prabowo disebut menerima suap dari Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito sebesar 103 ribu dolar AS atau setara Rp 1,48 miliar dan Rp 760 juta, dalam kurun waktu Mei hingga November 2020.

Pemberian suap tersebut bertujuan agar Edhy Prabowo mempercepat proses rekomendasi persetujuan pemberian izin budidaya sebagai salah satu syarat pemberian izin ekspor benur kepada PT DPPP milik Suharjito.

Uang suap itu diberikan melalui perantara. Di antaranya lewat dua staf khusus menteri KKP, Andreau Pribadi Misanta dan Safri; kemudian Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi, istri Edhy yang juga anggota DPR. [OKT]

]]> Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa penyanyi dangdut Betty Elista dalam perkara suap izin ekspor benur alias benih lobster.

Pelantun lagu “Sebelas Dua Belas” ini digarap sebagai saksi untuk tersangka Edhy Prabowo, eks Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Betty Elista (penyanyi) didalami pengetahuan terkait dugaan aliran sejumlah uang dari tersangka EP (Edhy Prabowo) melalui tersangka AM (Amiril Mukminin/sespri Edhy),” ungkap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, lewat pesan singkat, Rabu (17/3).

Edhy Prabowo disebut menerima suap dari Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito sebesar 103 ribu dolar AS atau setara Rp 1,48 miliar dan Rp 760 juta, dalam kurun waktu Mei hingga November 2020.

Pemberian suap tersebut bertujuan agar Edhy Prabowo mempercepat proses rekomendasi persetujuan pemberian izin budidaya sebagai salah satu syarat pemberian izin ekspor benur kepada PT DPPP milik Suharjito.

Uang suap itu diberikan melalui perantara. Di antaranya lewat dua staf khusus menteri KKP, Andreau Pribadi Misanta dan Safri; kemudian Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi Iis Rosita Dewi, istri Edhy yang juga anggota DPR. [OKT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories