Turun Sendiri Ke Papua Pimpin Pemeriksaan Ketua KPK Mengalah Hadapi Lukas Enembe

Sejarah baru terjadi di KPK. Seorang Ketua KPK harus menemui langsung dan memimpin langsung pemeriksaan seorang tersangka korupsi di “rumah” si tersangka, bukan di markas KPK. Hal itu dilakukan oleh Ketua KPK Firli Bahuri terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe.

Enembe sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penerimaan gratifikasi sebesar Rp 1 miliar, sejak awal September lalu. KPK sudah dua kali memanggil Enembe untuk diperiksa di Jakarta. Namun, Enembe tak mau datang, dengan alasan sakit. KPK pun tak bisa melakukan penjemputan paksa, karena rumah Enembe selalu dijaga para pendukungnya yang membawa senjata panah dan parang. Enembe nawar: mau diperiksa asal di Papua.

Setelah berbagai lobi dan negosiasi gagal, Firli mengalah. Pensiunan jenderal polisi bintang 3 itu, memenuhi syarat Enembe. Pagi-pagi kemarin, Firli dan rombongan tiba di Papua. Firli tidak langsung ke Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, kediamannya Enembe. Dia mampir dulu ke Mapolda Papua. Di sana, sekitar pukul setengah 1 siang, Firli mengadakan pertemuan dengan Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri, Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI M Saleh Mustafa, dan Kabinda Papua Mayjen TNI Gustaf Irianto. Cukup lama, sekitar 1 jam.

Baru sekitar pukul 2 siang, Firli bersama penyidik KPK dan tim dokter independen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bertandang ke kediaman Enembe. Kapolda dan Kabinda ikut menemani.

Di kediaman Enembe, Firli disambut ribuan warga. Mereka berbaris di sepanjang jalan di depan kediaman Enembe. Pekikan khas Papua pun terdengar bersahut-sahutan. Namun, tak menghalangi Firli dan rombongan menemui Enembe.

Di dalam rumah, Enembe hanya mengenakan kaos oblong, dengan padanan warna hijau hitam. Ia duduk dengan sandaran bantal di punggungnya. Menghadap meja dengan aneka makanan, minuman dan jejeran lilin yang menyala.

Firli kemudian menyalami Enembe dan menjabat tangannya dengan erat. Tampak juga di sana pengacara Enembe, Aloysius Renwarin.

Firli lalu duduk di kursi sebelah kanan Enembe. Keduanya berbincang, disaksikan keluarga dan sejumlah petinggi di Papua. Ada sekitar 15 menit keduanya mengobrol.

“Saya ajak ngobrol, bagaimana kondisi fisik beliau, semuanya. Terus ketemu juga dengan Ibu Lukas Enembe, kawan-kawan beliau, saudara-saudara beliau, bahkan tadi ada saya dengan kakak perempuan beliau,” terang Firli, usai pemeriksaan terhadap Enembe.

Saat prosesi pemeriksaan, petugas berompi KPK gantian yang duduk di sebelah kanan Enembe. Saat itu, ekspresi wajah Enembe tampak serius. Dalam kesempatan itu, kesehatan Enembe juga diperiksa tim dokter KPK. Pemeriksaan berlangsung sekitar 1,5 jam.

Menurut Firli, Enembe telah memberikan keterangan yang dibutuhkan penyidik. Ia menilai Enembe bersikap kooperatif sebagai saksi dan tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait pekerjaan atau proyek yang bersumber dari APBD.

 

“Pemeriksaan tadi cukup lancar. Beliau sungguh kooperatif,” ucapnya, memberi pujian ke Enembe.

Firli menegaskan, tidak ada politisasi atau kriminalisasi dalam kasus tersebut. “Ini murni berdasarkan bukti permulaan cukup bahwa telah terjadi suatu peristiwa pidana,” tegasnya.

Di Jakarta, kuasa hukum Enembe, Stefanus Roy Rening, mengatakan kliennya belum sehat betul saat menerima kedatangan Firli. Enembe masih harus menjalani perawatan lanjutan dari tiga dokter spesialis, yakni saraf, ginjal, dan jantung dari RS Mount Elizabeth, Singapura.

“Kemarin saja, saat diperiksa oleh tiga dokter spesialis dari Singapura, tensi darahnya tinggi, 190,” kata Roy.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, Enembe belum bisa menerima tekanan pikiran yang terlalu berat. “Dikhawatirkan akan drop bila mendapat pertanyaan dan dipaksa berpikir keras,” ujarnya.

Pengacara lain yang berada di kediaman Enembe, Aloysius Renwarin, mengatakan, pemeriksaan sempat dihentikan lantaran Enembe mengeluh sakit. “Tak bisa dilanjutkan karena pak Lukas sakit. Setelah itu, Pak Lukas diperiksa 4 orang dokter secara detail, mulai dari tensi, cek tekanan darah dan dokter wawancara langsung Pak Lukas dan melihat Pak Lukas sakit,” ucapnya.

Saat berbincang dengan Firli, suara Enembe juga sempat hilang-hilang. “Pak Lukas berkomunikasi langsung dengan Pak Firli dan Pak Firli mendengarkan bahwa beliau sudah 4 kali stroke dan kondisinya lemah karena sakit,” lanjutnya.

Sikap Firli yang mengalah ke Enembe ini dimaklumi Anggota Komisi III DPR Hinca Panjaitan. “Ini jalan tengah yang baik. Sudah benar. Langkah ini bisa mengakhiri jalan buntu. Kita apresiasi Ketua KPK. Soal hasil, kita tunggu lah Ketua KPK,” kata Hinca, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Soal aturan yang melarang pimpinan KPK menemui orang yang berperkara, politisi Demokrat ini menilai, konteks pertemuan kali ini berbeda. Apalagi, sudah hampir 2 bulan, KPK sudah menempuh jalur yang panjang, sementara penegakan hukum dikejar waktu.

“Larangan itu konteksnya bertemu untuk sesuatu yang tidak benar. Sementara ini untuk memastikan (kondisi Enembe dan mendampingi tim penyidik KPK). Menurut saya, tidak melanggar. Masih on the track, sesuai aturan main,” tambahnya.

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengaku gembira, Firli bisa turun tangan langsung menemui Enembe ke kediamannya. “Saya sangat gembira terkait berita Pak Firli ketemu dengan Pak Lukas Enembe. Karena ini artinya, Pak Firli setuju ke Undang-Undang KPK yang lama,” kata Boyamin, yang dikonfirmasi, tadi malam.

Alasannya, karena di UU KPK yang lama, pimpinan KPK itu adalah penyidik dan penuntut. Sehingga, Firli dibenarkan datang ke tempatnya Enembe dalam konteks sebagai penyidik.

“Mau ndak mau, saya meminta Pak Firli berjuang membatalkan revisi Undang-Undang KPK untuk mengesahkan tindakannya hari ini menemui Lukas Enembe sebagai tim dari rombongan penyidik,” usulnya. [SAR]

]]> Sejarah baru terjadi di KPK. Seorang Ketua KPK harus menemui langsung dan memimpin langsung pemeriksaan seorang tersangka korupsi di “rumah” si tersangka, bukan di markas KPK. Hal itu dilakukan oleh Ketua KPK Firli Bahuri terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe.

Enembe sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penerimaan gratifikasi sebesar Rp 1 miliar, sejak awal September lalu. KPK sudah dua kali memanggil Enembe untuk diperiksa di Jakarta. Namun, Enembe tak mau datang, dengan alasan sakit. KPK pun tak bisa melakukan penjemputan paksa, karena rumah Enembe selalu dijaga para pendukungnya yang membawa senjata panah dan parang. Enembe nawar: mau diperiksa asal di Papua.

Setelah berbagai lobi dan negosiasi gagal, Firli mengalah. Pensiunan jenderal polisi bintang 3 itu, memenuhi syarat Enembe. Pagi-pagi kemarin, Firli dan rombongan tiba di Papua. Firli tidak langsung ke Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, kediamannya Enembe. Dia mampir dulu ke Mapolda Papua. Di sana, sekitar pukul setengah 1 siang, Firli mengadakan pertemuan dengan Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri, Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI M Saleh Mustafa, dan Kabinda Papua Mayjen TNI Gustaf Irianto. Cukup lama, sekitar 1 jam.

Baru sekitar pukul 2 siang, Firli bersama penyidik KPK dan tim dokter independen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bertandang ke kediaman Enembe. Kapolda dan Kabinda ikut menemani.

Di kediaman Enembe, Firli disambut ribuan warga. Mereka berbaris di sepanjang jalan di depan kediaman Enembe. Pekikan khas Papua pun terdengar bersahut-sahutan. Namun, tak menghalangi Firli dan rombongan menemui Enembe.

Di dalam rumah, Enembe hanya mengenakan kaos oblong, dengan padanan warna hijau hitam. Ia duduk dengan sandaran bantal di punggungnya. Menghadap meja dengan aneka makanan, minuman dan jejeran lilin yang menyala.

Firli kemudian menyalami Enembe dan menjabat tangannya dengan erat. Tampak juga di sana pengacara Enembe, Aloysius Renwarin.

Firli lalu duduk di kursi sebelah kanan Enembe. Keduanya berbincang, disaksikan keluarga dan sejumlah petinggi di Papua. Ada sekitar 15 menit keduanya mengobrol.

“Saya ajak ngobrol, bagaimana kondisi fisik beliau, semuanya. Terus ketemu juga dengan Ibu Lukas Enembe, kawan-kawan beliau, saudara-saudara beliau, bahkan tadi ada saya dengan kakak perempuan beliau,” terang Firli, usai pemeriksaan terhadap Enembe.

Saat prosesi pemeriksaan, petugas berompi KPK gantian yang duduk di sebelah kanan Enembe. Saat itu, ekspresi wajah Enembe tampak serius. Dalam kesempatan itu, kesehatan Enembe juga diperiksa tim dokter KPK. Pemeriksaan berlangsung sekitar 1,5 jam.

Menurut Firli, Enembe telah memberikan keterangan yang dibutuhkan penyidik. Ia menilai Enembe bersikap kooperatif sebagai saksi dan tersangka kasus suap dan gratifikasi terkait pekerjaan atau proyek yang bersumber dari APBD.

 

“Pemeriksaan tadi cukup lancar. Beliau sungguh kooperatif,” ucapnya, memberi pujian ke Enembe.

Firli menegaskan, tidak ada politisasi atau kriminalisasi dalam kasus tersebut. “Ini murni berdasarkan bukti permulaan cukup bahwa telah terjadi suatu peristiwa pidana,” tegasnya.

Di Jakarta, kuasa hukum Enembe, Stefanus Roy Rening, mengatakan kliennya belum sehat betul saat menerima kedatangan Firli. Enembe masih harus menjalani perawatan lanjutan dari tiga dokter spesialis, yakni saraf, ginjal, dan jantung dari RS Mount Elizabeth, Singapura.

“Kemarin saja, saat diperiksa oleh tiga dokter spesialis dari Singapura, tensi darahnya tinggi, 190,” kata Roy.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, Enembe belum bisa menerima tekanan pikiran yang terlalu berat. “Dikhawatirkan akan drop bila mendapat pertanyaan dan dipaksa berpikir keras,” ujarnya.

Pengacara lain yang berada di kediaman Enembe, Aloysius Renwarin, mengatakan, pemeriksaan sempat dihentikan lantaran Enembe mengeluh sakit. “Tak bisa dilanjutkan karena pak Lukas sakit. Setelah itu, Pak Lukas diperiksa 4 orang dokter secara detail, mulai dari tensi, cek tekanan darah dan dokter wawancara langsung Pak Lukas dan melihat Pak Lukas sakit,” ucapnya.

Saat berbincang dengan Firli, suara Enembe juga sempat hilang-hilang. “Pak Lukas berkomunikasi langsung dengan Pak Firli dan Pak Firli mendengarkan bahwa beliau sudah 4 kali stroke dan kondisinya lemah karena sakit,” lanjutnya.

Sikap Firli yang mengalah ke Enembe ini dimaklumi Anggota Komisi III DPR Hinca Panjaitan. “Ini jalan tengah yang baik. Sudah benar. Langkah ini bisa mengakhiri jalan buntu. Kita apresiasi Ketua KPK. Soal hasil, kita tunggu lah Ketua KPK,” kata Hinca, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Soal aturan yang melarang pimpinan KPK menemui orang yang berperkara, politisi Demokrat ini menilai, konteks pertemuan kali ini berbeda. Apalagi, sudah hampir 2 bulan, KPK sudah menempuh jalur yang panjang, sementara penegakan hukum dikejar waktu.

“Larangan itu konteksnya bertemu untuk sesuatu yang tidak benar. Sementara ini untuk memastikan (kondisi Enembe dan mendampingi tim penyidik KPK). Menurut saya, tidak melanggar. Masih on the track, sesuai aturan main,” tambahnya.

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengaku gembira, Firli bisa turun tangan langsung menemui Enembe ke kediamannya. “Saya sangat gembira terkait berita Pak Firli ketemu dengan Pak Lukas Enembe. Karena ini artinya, Pak Firli setuju ke Undang-Undang KPK yang lama,” kata Boyamin, yang dikonfirmasi, tadi malam.

Alasannya, karena di UU KPK yang lama, pimpinan KPK itu adalah penyidik dan penuntut. Sehingga, Firli dibenarkan datang ke tempatnya Enembe dalam konteks sebagai penyidik.

“Mau ndak mau, saya meminta Pak Firli berjuang membatalkan revisi Undang-Undang KPK untuk mengesahkan tindakannya hari ini menemui Lukas Enembe sebagai tim dari rombongan penyidik,” usulnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories