Turki Bakal Lockdown Selama Ramadan

Khawatir angka penularan Covid-19 terus naik selama bulan Ramadan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali memberlakukan penguncian wilayah (lockdown). Lockdown selama satu bulan penuh ini diharapkan bisa menekan jumlah penularan yang terus naik di negerinya.

“Kita harus berkorban selama Ramadhan,” kata Erdogan, dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu, Rabu (31/3).

Erdogan mengatakan, pertemuan berbuka puasa massal (ifthar) juga dilarang selama Ramadan, meski restoran dan kafe masih akan diizinkan beroperasi, dengan menghapus layanan makan di tempat (dine in) dan penerapan jam malam.

Tingkat infeksi telah melonjak sejak Turki mencabut kebijakan pembatasan Covid-19 dan membagi 81 provinsi negara itu menjadi empat kategori kode warna berdasarkan jumlah kasus. Pada 2 Maret, hanya 17 provinsi yang masuk kategori “merah” dan Turki melaporkan sekitar 65 kematian per hari.

Pada Senin (29/3), jumlah provinsi kategori merah meningkat menjadi 58. Angka kematian per hari pun menjadi 150 orang per hari.

Sementara Asosiasi Medis Turki menilai, peningkatan infeksi terjadi akibat pelacakan kontak yang tidak memadai, keengganan pemerintah untuk memberlakukan tindakan tepat waktu karena masalah ekonomi, serta pelonggaran dini pembatasan.

“Kami, sebagai profesional perawatan kesehatan dan masyarakat, akhirnya yang menanggung kebijakan yang salah ini,” bunyi pernyataan organisasi medis Turki di akun Twitter.

Erdogan juga sempat mendapat kecaman keras karena mengadakan kongres besar-besaran yang diikuti ribuan orang. Acara itu juga diklaim mengabaikan aturan jarak sosial. Kritikus mengatakan, demonstrasi politik kemungkinan besar juga berkontribusi pada lonjakan itu.

“Varian awal virus Corona kini menyumbang sekitar 75 persen kasus di Turki. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Menteri Kesehatan, Fahrettin Koca.

Sejauh ini, Turki telah menerima 2,8 juta dosis vaksin Pfizer-BioNtech dan akan menerima 1,7 juta dosis lagi dalam 10 hari ke depan.

Turki mulai menggelar program vaksinasi pada Januari lalu, dengan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Sinovac China. Lebih dari 15 juta orang telah divaksinasi sejauh ini, dan sekitar 6,7 juta orang telah menerima dosis kedua. [DAY]

]]> Khawatir angka penularan Covid-19 terus naik selama bulan Ramadan, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali memberlakukan penguncian wilayah (lockdown). Lockdown selama satu bulan penuh ini diharapkan bisa menekan jumlah penularan yang terus naik di negerinya.

“Kita harus berkorban selama Ramadhan,” kata Erdogan, dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu, Rabu (31/3).

Erdogan mengatakan, pertemuan berbuka puasa massal (ifthar) juga dilarang selama Ramadan, meski restoran dan kafe masih akan diizinkan beroperasi, dengan menghapus layanan makan di tempat (dine in) dan penerapan jam malam.

Tingkat infeksi telah melonjak sejak Turki mencabut kebijakan pembatasan Covid-19 dan membagi 81 provinsi negara itu menjadi empat kategori kode warna berdasarkan jumlah kasus. Pada 2 Maret, hanya 17 provinsi yang masuk kategori “merah” dan Turki melaporkan sekitar 65 kematian per hari.

Pada Senin (29/3), jumlah provinsi kategori merah meningkat menjadi 58. Angka kematian per hari pun menjadi 150 orang per hari.

Sementara Asosiasi Medis Turki menilai, peningkatan infeksi terjadi akibat pelacakan kontak yang tidak memadai, keengganan pemerintah untuk memberlakukan tindakan tepat waktu karena masalah ekonomi, serta pelonggaran dini pembatasan.

“Kami, sebagai profesional perawatan kesehatan dan masyarakat, akhirnya yang menanggung kebijakan yang salah ini,” bunyi pernyataan organisasi medis Turki di akun Twitter.

Erdogan juga sempat mendapat kecaman keras karena mengadakan kongres besar-besaran yang diikuti ribuan orang. Acara itu juga diklaim mengabaikan aturan jarak sosial. Kritikus mengatakan, demonstrasi politik kemungkinan besar juga berkontribusi pada lonjakan itu.

“Varian awal virus Corona kini menyumbang sekitar 75 persen kasus di Turki. Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Menteri Kesehatan, Fahrettin Koca.

Sejauh ini, Turki telah menerima 2,8 juta dosis vaksin Pfizer-BioNtech dan akan menerima 1,7 juta dosis lagi dalam 10 hari ke depan.

Turki mulai menggelar program vaksinasi pada Januari lalu, dengan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Sinovac China. Lebih dari 15 juta orang telah divaksinasi sejauh ini, dan sekitar 6,7 juta orang telah menerima dosis kedua. [DAY]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories