Tumbal Kritik Jaka Slewah

Kalau kritik dimaknai sebagai kecaman dan tanggapan, maka konotasinya negatif. Tidak berlebihan sebagian orang alergi terhadap kritik. Apalagi antara kritik dan penghinaan bedanya sangat tipis. Tata cara menyampaikan kritik pun harus hati-hati kalau tidak mau terjerat UU ITE terkait pencemaran nama baik maupun ujaran kebencian. Di sisi lain, kritik tetap diperlukan untuk menciptakan kebijakan publik yang bermartabat. Tanpa adanya kritik dalam berdemokrasi akan melahirkan budaya “Yes Man” atau asal bapak senang. Dan ini sangat membahayakan demokrasi itu sendiri.

“Sekarang ini mau kritik saja susah, Mo,” celetuk Petruk kurang semangat. Romo Semar tidak begitu paham dengan kritik yang dimaksud anaknya Petruk. Semar masih galau dengan tingginya angka Covid. Belum lagi dampak ekonomi semakin parah. Tanda-tanda untuk pulih ke era normal baru masih jauh dari harapan. Romo Semar memilih menikmati kue kranjang kiriman saudara kita yang merayakan Imlek. Kue kranjang ditaburi parutan kelapa sangat pas dengan kopi tubruk. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Prabu Jarasanda.

Kocap kacarito, Prabu Kresna mendapat surat rahasia dari penjara Giribajra di Kerajaan Magada. Menurut isi surat tersebut, ada sekitar seratus raja dijebloskan ke dalam penjara oleh Prabu Jarasanda. Para raja telukan yang berseberangan dengan Jarasanda dituduh makar dan harus dibinasakan. Prabu Jarasanda sebagai raja Magada tergolong raja berperilaku otoriter dan mau menang sendiri. Jarasanda alergi terhadap kritik. Berbeda pendapat dengan sang raja dikatagorikan tabu. Jarasanda menangkapi musuh-musuh politiknya dan dibungkus dengan ritual sesaji Kala Rudra Prabu Jarasanda juga dikenal sebagai “Jaka Slewah” karena berkarakter ganda tidak konsisten dengan ucapannya sendiri. Pernah suatu ketika orang tuanya Prabu Brihadata menasihati untuk konsisten dengan ucapannya. Bukannya berterima kasih dengan pitutur luhur orang tua kepada anaknya, Prabu Jarasanda justru membunuh orang tuanya sendiri. Brihadata dianggap menentang kebijakan raja. Jasad Brihadata dikuliti dibuat “tambur” dan dipasang di tapal batas kerajaan Magada. Rintihan tangis Brihadata sering terdengar tengah malam. Permohonan seorang bapak untuk melenyapkan anak durhaka dari muka bumi.

Prabu Kresna mengajak Bima dan Harjuna untuk membebaskan korban keganasan Jarasanda. Ketiganya menyamar sebagai brahmana untuk bisa masuk wilayah kerajaan Magada. Saat Prabu Kresna melewati tapal batas kerajaan, tambur kulit Brihadata bunyi dan minta tolong Kresna untuk menghukum Jarasanda. Rupanya suara tambur tersebut terdengar juga oleh pasukan Jarasanda yang sedang berjaga. Terjadilah pertempuran tidak seimbang antara Kresna dan pasukan Magada. Kresna dan Harjuna menghadapi pasukan Magada. Sedangkan Bima menyelinap masuk memburu Jarasanda. Dalam pertempuran tersebut Jarasanda dapat dikalahkan Bima dengan kuku Pancanaka. Akhirnya semua tahanan politik Giribajra berhasil dibebaskan. Raja-raja telukan memilih bergabung dengan para Pandawa. Kelak dalam perang Baratayuda seratus raja ikut berperang melawan pasukan Kurawa.

“Orang yang anti kritik bisa disebut slewah, Mo,” sela Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem. “Memberikan kritik boleh-boleh saja, Tole, asal sopan dan tidak merendahkan orang lain,” jawab Semar pendek. Kritik diperlukan untuk menambah bobot sebuah keputusan. Kritik ibarat vitamin dapat menambah kekuatan imun kesehatan manusia. Agar kritik tidak menimbulkan kegaduhan, pengkritik maupun yang dikritik harus sama-sama tahu diri. “Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso Rumongso”. Jangan pernah merasa paling sempurna dalam hidup ini. Akan tetapi pintarlah introspeksi diri. Oye

]]> Kalau kritik dimaknai sebagai kecaman dan tanggapan, maka konotasinya negatif. Tidak berlebihan sebagian orang alergi terhadap kritik. Apalagi antara kritik dan penghinaan bedanya sangat tipis. Tata cara menyampaikan kritik pun harus hati-hati kalau tidak mau terjerat UU ITE terkait pencemaran nama baik maupun ujaran kebencian. Di sisi lain, kritik tetap diperlukan untuk menciptakan kebijakan publik yang bermartabat. Tanpa adanya kritik dalam berdemokrasi akan melahirkan budaya “Yes Man” atau asal bapak senang. Dan ini sangat membahayakan demokrasi itu sendiri.

“Sekarang ini mau kritik saja susah, Mo,” celetuk Petruk kurang semangat. Romo Semar tidak begitu paham dengan kritik yang dimaksud anaknya Petruk. Semar masih galau dengan tingginya angka Covid. Belum lagi dampak ekonomi semakin parah. Tanda-tanda untuk pulih ke era normal baru masih jauh dari harapan. Romo Semar memilih menikmati kue kranjang kiriman saudara kita yang merayakan Imlek. Kue kranjang ditaburi parutan kelapa sangat pas dengan kopi tubruk. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Prabu Jarasanda.

Kocap kacarito, Prabu Kresna mendapat surat rahasia dari penjara Giribajra di Kerajaan Magada. Menurut isi surat tersebut, ada sekitar seratus raja dijebloskan ke dalam penjara oleh Prabu Jarasanda. Para raja telukan yang berseberangan dengan Jarasanda dituduh makar dan harus dibinasakan. Prabu Jarasanda sebagai raja Magada tergolong raja berperilaku otoriter dan mau menang sendiri. Jarasanda alergi terhadap kritik. Berbeda pendapat dengan sang raja dikatagorikan tabu. Jarasanda menangkapi musuh-musuh politiknya dan dibungkus dengan ritual sesaji Kala Rudra Prabu Jarasanda juga dikenal sebagai “Jaka Slewah” karena berkarakter ganda tidak konsisten dengan ucapannya sendiri. Pernah suatu ketika orang tuanya Prabu Brihadata menasihati untuk konsisten dengan ucapannya. Bukannya berterima kasih dengan pitutur luhur orang tua kepada anaknya, Prabu Jarasanda justru membunuh orang tuanya sendiri. Brihadata dianggap menentang kebijakan raja. Jasad Brihadata dikuliti dibuat “tambur” dan dipasang di tapal batas kerajaan Magada. Rintihan tangis Brihadata sering terdengar tengah malam. Permohonan seorang bapak untuk melenyapkan anak durhaka dari muka bumi.

Prabu Kresna mengajak Bima dan Harjuna untuk membebaskan korban keganasan Jarasanda. Ketiganya menyamar sebagai brahmana untuk bisa masuk wilayah kerajaan Magada. Saat Prabu Kresna melewati tapal batas kerajaan, tambur kulit Brihadata bunyi dan minta tolong Kresna untuk menghukum Jarasanda. Rupanya suara tambur tersebut terdengar juga oleh pasukan Jarasanda yang sedang berjaga. Terjadilah pertempuran tidak seimbang antara Kresna dan pasukan Magada. Kresna dan Harjuna menghadapi pasukan Magada. Sedangkan Bima menyelinap masuk memburu Jarasanda. Dalam pertempuran tersebut Jarasanda dapat dikalahkan Bima dengan kuku Pancanaka. Akhirnya semua tahanan politik Giribajra berhasil dibebaskan. Raja-raja telukan memilih bergabung dengan para Pandawa. Kelak dalam perang Baratayuda seratus raja ikut berperang melawan pasukan Kurawa.

“Orang yang anti kritik bisa disebut slewah, Mo,” sela Petruk cengengesan. Romo Semar hanya mesem. “Memberikan kritik boleh-boleh saja, Tole, asal sopan dan tidak merendahkan orang lain,” jawab Semar pendek. Kritik diperlukan untuk menambah bobot sebuah keputusan. Kritik ibarat vitamin dapat menambah kekuatan imun kesehatan manusia. Agar kritik tidak menimbulkan kegaduhan, pengkritik maupun yang dikritik harus sama-sama tahu diri. “Ojo Rumongso Biso, Nanging Biso Rumongso”. Jangan pernah merasa paling sempurna dalam hidup ini. Akan tetapi pintarlah introspeksi diri. Oye
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories