Triwulan I-2021, LPDB-KUMKM Salurkan Dana Bergulir Rp 553 Miliar .

Hingga triwulan I-2021, realisasi pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Bergulir-Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) mencapai Rp 553 miliar, atau sekitar 28 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp 1,6 triliun.

Direktur Utama LPDB Supomo, mengatakan target tersebut memang lebih kecil dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp 2,63 triliun.

Meski begitu Supomo meyakini, tahun ini target realisasi juga bakal melebihi target. “Kami targetkan Insya Allah Rp 2 triliun tahun ini, dari dana bergulir Rp 1,6 triliun. Kalau untuk mengharap tambahan lagi dana Rp 1 triliun dari pemerintah, agak sulit. Karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ada yang lebih prioritas,” imbuhnya dalam diskusi bertajuk Berkah Ramadan Bersama LPDB-KUMKM di Jakarta, Selasa (4/5).

Supomo berharap, kesuksesan realisasi di triwulan I-2021 juga akan berlanjut di triwulan berikutnya. Ia kembali merinci, dari jumlah realisasi tersebut, diberikan kepada 60 koperasi dan end user sebanyak 500 yang menikmati dana LPDB melalui koperasi.

Sekitar 54 persennya disalurkan ke dalam pola pembiayaan syariah dengan rincian, pinjaman konvensional sebesar Rp 252 miliar dan pembiayaan syariah sebesar Rp 301 miliar. Hal ini lantaran tahun lalu porsi syariah cukup kecil.

Diakuinya, dalam pola pembiayaan syariah terdapat banyak Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS) maupun BMT dari Pondok Pesantren (Ponpes), di mana sektor ekonomi di sana banyak menunjang pertumbuhan ekonomi.

 

Sementara dari sisi sektornya, tahun ini dipiloting sekitar 10-15 persen di sektor produktif. Di mana tahun lalu juga sektor produktif nilainya masih kecil. “LPDB diarahkan Menteri Koperasi dan UKM porsi sektor riil piloting 10-15 persen. Ini bukan target, tapi piloting. Karena rata-rata kelembagaannya masih perlu pendampingan,” jelasnya.

Selain itu, pola bisnisnya pun masih banyak yang melakukan perorangan, dan bargaining powernya masih kurang. Sehingga perlunya mendorong koperasi sektor riil yang sudah ada untuk melakukan inkubasi.

“Di triwulan I-2021 ini sebanyak 85 persennya KSP dan sekitar 15 persen di sektor produktif seperti pengolahan susu, holtikultura, tahu dan tempe. KSP sebenarnya banyam juga yang produktif, meski banyak juga yang perdagangan. Terbesar masih di Jawa Tengah, karena jumlah koperasi nya banyak,” sebutnya.

Sejak awal penyaluran di 2008 hingga akhir April 2021, LPDB-KUMKM telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 12,9 triliun, yang terbagi menjadi dua skema penyaluran yakni pola konvensional sebesar Rp 10 triliun, dan dengan pola syariah sebesar Rp 2,9 triliun.

Support KUMKM Di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 memukul banyak sektor industri. Bukan hanya industri besar yang terdampak, namun juga usaha skala menengah, mikro, dan kecil.

Terkait hal ini, LPDB-KUMKM mengupayakan semaksimal mungkin agar pelaku usaha khususnya UMKM dapat mampu bertahan melewati masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19.

“Dengan melibatkan pedagang-pedagang kecil dan PKL, serta membeli produk-produk mereka, merupakan langkah kami dalam membantu UMKM,” jelasnya.

Supomo menjelaskan, Menteri Teten terus berpesan, agar Kementerian dan Lembaga (K/L) memberi ruang dan peluang seluas-luasnya kepada UMKM dalam memasarkan dan memajukan usahanya, terutama berbelanja produk-produk UMKM.

Selain itu, 40 persen anggaran belanja K/L juga diharapkan dapat membeli dan menyerap produk-produk UMKM sehingga membuka peluang pasar yang lebih besar untuk UMKM. “Menkop UKM terus mendorong agar produk-produk UMKM bisa go export dan go global. Melalui bentuk pendampingan, perkuatan permodalan, hingga pemasaran melalui offline maupun online (digital market platform),” imbuhnya.

Selain itu, melalui Permenkop 04 Tahun 2020, LPDB-KUMKM diberikan amanat bukan hanya menyalurkan dana bergulir saja, namun melakukan pendampingan kepada calon mitra atau mitra yang sudah existing.

Untuk melakukan pendampingan, di tahun 2021 ini LPDB- KUMKM telah memilih Di antaranya, Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW) Jawa Timur, Inkubator Bisnis LPPM Universitas Udayana Bali, Siger Innovation Hub Lampung.

Selain itu Pusat Inkubator Bisnis Universitas Ottow Geissler Papua, Cubic Inkubator Bisnis Jawa Barat, Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Universitas Airlangga Jawa Timur, Pusat Inkubator Bisnis-Oorange Universitas Padjajaran Jawa Barat, dan Pusat Pengembangan Inovasi dan Inkubator Bisnis Teknologi Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat.

Program ini bertujuan untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dengan menginkubasi pelaku usaha khususnya KUMKM. [DWI]

]]> .
Hingga triwulan I-2021, realisasi pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Bergulir-Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) mencapai Rp 553 miliar, atau sekitar 28 persen dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp 1,6 triliun.

Direktur Utama LPDB Supomo, mengatakan target tersebut memang lebih kecil dari realisasi tahun lalu yang mencapai Rp 2,63 triliun.

Meski begitu Supomo meyakini, tahun ini target realisasi juga bakal melebihi target. “Kami targetkan Insya Allah Rp 2 triliun tahun ini, dari dana bergulir Rp 1,6 triliun. Kalau untuk mengharap tambahan lagi dana Rp 1 triliun dari pemerintah, agak sulit. Karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ada yang lebih prioritas,” imbuhnya dalam diskusi bertajuk Berkah Ramadan Bersama LPDB-KUMKM di Jakarta, Selasa (4/5).

Supomo berharap, kesuksesan realisasi di triwulan I-2021 juga akan berlanjut di triwulan berikutnya. Ia kembali merinci, dari jumlah realisasi tersebut, diberikan kepada 60 koperasi dan end user sebanyak 500 yang menikmati dana LPDB melalui koperasi.

Sekitar 54 persennya disalurkan ke dalam pola pembiayaan syariah dengan rincian, pinjaman konvensional sebesar Rp 252 miliar dan pembiayaan syariah sebesar Rp 301 miliar. Hal ini lantaran tahun lalu porsi syariah cukup kecil.

Diakuinya, dalam pola pembiayaan syariah terdapat banyak Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS) maupun BMT dari Pondok Pesantren (Ponpes), di mana sektor ekonomi di sana banyak menunjang pertumbuhan ekonomi.

 

Sementara dari sisi sektornya, tahun ini dipiloting sekitar 10-15 persen di sektor produktif. Di mana tahun lalu juga sektor produktif nilainya masih kecil. “LPDB diarahkan Menteri Koperasi dan UKM porsi sektor riil piloting 10-15 persen. Ini bukan target, tapi piloting. Karena rata-rata kelembagaannya masih perlu pendampingan,” jelasnya.

Selain itu, pola bisnisnya pun masih banyak yang melakukan perorangan, dan bargaining powernya masih kurang. Sehingga perlunya mendorong koperasi sektor riil yang sudah ada untuk melakukan inkubasi.

“Di triwulan I-2021 ini sebanyak 85 persennya KSP dan sekitar 15 persen di sektor produktif seperti pengolahan susu, holtikultura, tahu dan tempe. KSP sebenarnya banyam juga yang produktif, meski banyak juga yang perdagangan. Terbesar masih di Jawa Tengah, karena jumlah koperasi nya banyak,” sebutnya.

Sejak awal penyaluran di 2008 hingga akhir April 2021, LPDB-KUMKM telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 12,9 triliun, yang terbagi menjadi dua skema penyaluran yakni pola konvensional sebesar Rp 10 triliun, dan dengan pola syariah sebesar Rp 2,9 triliun.

Support KUMKM Di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 memukul banyak sektor industri. Bukan hanya industri besar yang terdampak, namun juga usaha skala menengah, mikro, dan kecil.

Terkait hal ini, LPDB-KUMKM mengupayakan semaksimal mungkin agar pelaku usaha khususnya UMKM dapat mampu bertahan melewati masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19.

“Dengan melibatkan pedagang-pedagang kecil dan PKL, serta membeli produk-produk mereka, merupakan langkah kami dalam membantu UMKM,” jelasnya.

Supomo menjelaskan, Menteri Teten terus berpesan, agar Kementerian dan Lembaga (K/L) memberi ruang dan peluang seluas-luasnya kepada UMKM dalam memasarkan dan memajukan usahanya, terutama berbelanja produk-produk UMKM.

Selain itu, 40 persen anggaran belanja K/L juga diharapkan dapat membeli dan menyerap produk-produk UMKM sehingga membuka peluang pasar yang lebih besar untuk UMKM. “Menkop UKM terus mendorong agar produk-produk UMKM bisa go export dan go global. Melalui bentuk pendampingan, perkuatan permodalan, hingga pemasaran melalui offline maupun online (digital market platform),” imbuhnya.

Selain itu, melalui Permenkop 04 Tahun 2020, LPDB-KUMKM diberikan amanat bukan hanya menyalurkan dana bergulir saja, namun melakukan pendampingan kepada calon mitra atau mitra yang sudah existing.

Untuk melakukan pendampingan, di tahun 2021 ini LPDB- KUMKM telah memilih Di antaranya, Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW) Jawa Timur, Inkubator Bisnis LPPM Universitas Udayana Bali, Siger Innovation Hub Lampung.

Selain itu Pusat Inkubator Bisnis Universitas Ottow Geissler Papua, Cubic Inkubator Bisnis Jawa Barat, Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Universitas Airlangga Jawa Timur, Pusat Inkubator Bisnis-Oorange Universitas Padjajaran Jawa Barat, dan Pusat Pengembangan Inovasi dan Inkubator Bisnis Teknologi Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat.

Program ini bertujuan untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Dengan menginkubasi pelaku usaha khususnya KUMKM. [DWI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories