Transisi Energi Dikebut 5,5 Gigawatt PLTU Segera Pensiun Dini

Presiden Jokowi mendorong B20 untuk berkontribusi dalam upaya mempercepat transformasi energi ini. Tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat kecil.

Terkait hal tersebut, Jokowi menilai, solusi global dalam hal pendanaan dan kemitraan merupakan agenda yang harus menjadi perhatian utama. Termasuk, alih teknologi untuk mendorong produksi berbasis ekonomi hijau.

“Potensi di sektor energi terbarukan harus diikuti dengan skenario dan peta jalan yang jelas, termasuk pendanaan dan investasi,” imbuhnya.

Jokowi menyebut, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan sebesar 418 gigawatt yang bersumber dari air, panas bumi, angin maupun matahari. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya mineral logam, yang dibutuhkan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“Kami kaya akan nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Kami memastikan akan menyuplai cukup bahan-bahan tersebut untuk kebutuhan dunia. Tapi, bukan dalam bentuk bahan mentah. Melainkan dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah tinggi,” tegasnya.

Hilirisasi nikel yang dimulai pada tahun 2015, telah memberikan dampak positif pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor, dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

Jokowi menjelaskan, saat ini nilai ekspor Indonesia mencapai 230 miliar dolar AS, yang sangat dipengaruhi oleh peningkatan ekspor besi baja. Ekspor besi baja di tahun 2021 mencapai 20,9 miliar dolar AS, meningkat dari sebelumnya hanya 1,1 miliar Dolar AS di tahun 2014.

Tahun ini, Presiden Jokowi memperkirakan nilai ekspor besi baja Indonesia dapat mencapai kisaran 28-30 miliar dolar AS. “Setelah nikel, kita akan mendorong investasi di sektor bauksit, tembaga, dan timah,” ujarnya.

Mekanisme transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang dilakukan pemerintah, dipastikan tetap menjamin kepastian investasi.

Saat ini, pemerintah mendorong program pensiun dini untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa dan Sumatera. Serta beralih ke energi baru terbarukan seperti geotermal dan solar panel.

“Kita akan membuka partisipasi di sektor swasta untuk berinvestasi di transisi energi ini. Saat ini, ada 5,5 gigawatt PLTU yang siap untuk program early retirement (pensiun dini) ini,” imbuhnya.

Jokowi memaparkan, pemerintah juga telah melakukan dekarbonisasi di sektor transportasi dengan membangun mass urban transport, seperti LRT (Lintas Rel Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu) di Jakarta, serta mendorong investasi untuk pabrik mobil listrik.

“Kita mengundang investasi yang bisa mendorong nilai tambah yang saling menguntungkan,” pungkasnya. [HES]

]]> Presiden Jokowi mendorong B20 untuk berkontribusi dalam upaya mempercepat transformasi energi ini. Tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat kecil.

Terkait hal tersebut, Jokowi menilai, solusi global dalam hal pendanaan dan kemitraan merupakan agenda yang harus menjadi perhatian utama. Termasuk, alih teknologi untuk mendorong produksi berbasis ekonomi hijau.

“Potensi di sektor energi terbarukan harus diikuti dengan skenario dan peta jalan yang jelas, termasuk pendanaan dan investasi,” imbuhnya.

Jokowi menyebut, Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan sebesar 418 gigawatt yang bersumber dari air, panas bumi, angin maupun matahari. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya mineral logam, yang dibutuhkan untuk mendorong transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“Kami kaya akan nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Kami memastikan akan menyuplai cukup bahan-bahan tersebut untuk kebutuhan dunia. Tapi, bukan dalam bentuk bahan mentah. Melainkan dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah tinggi,” tegasnya.

Hilirisasi nikel yang dimulai pada tahun 2015, telah memberikan dampak positif pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor, dan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

Jokowi menjelaskan, saat ini nilai ekspor Indonesia mencapai 230 miliar dolar AS, yang sangat dipengaruhi oleh peningkatan ekspor besi baja. Ekspor besi baja di tahun 2021 mencapai 20,9 miliar dolar AS, meningkat dari sebelumnya hanya 1,1 miliar Dolar AS di tahun 2014.

Tahun ini, Presiden Jokowi memperkirakan nilai ekspor besi baja Indonesia dapat mencapai kisaran 28-30 miliar dolar AS. “Setelah nikel, kita akan mendorong investasi di sektor bauksit, tembaga, dan timah,” ujarnya.

Mekanisme transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang dilakukan pemerintah, dipastikan tetap menjamin kepastian investasi.

Saat ini, pemerintah mendorong program pensiun dini untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa dan Sumatera. Serta beralih ke energi baru terbarukan seperti geotermal dan solar panel.

“Kita akan membuka partisipasi di sektor swasta untuk berinvestasi di transisi energi ini. Saat ini, ada 5,5 gigawatt PLTU yang siap untuk program early retirement (pensiun dini) ini,” imbuhnya.

Jokowi memaparkan, pemerintah juga telah melakukan dekarbonisasi di sektor transportasi dengan membangun mass urban transport, seperti LRT (Lintas Rel Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu) di Jakarta, serta mendorong investasi untuk pabrik mobil listrik.

“Kita mengundang investasi yang bisa mendorong nilai tambah yang saling menguntungkan,” pungkasnya. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories