Top, Campuran FABA Bisa Tekan Ongkos Produksi Pembuatan Paving Blok

Limbah sisa pembakaran batubara, atau abu terbang yang dikenal dengan istilah Fly Ash Bottom Ash (FABA) ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan material pembangunan. Hal itu dibuktikan oleh PT PLN Unit Induk Wilayah Riau dan Kepri (UIWRKR).

PLN UIWRKR memanfaatkan sisa hasil proses pembakaran batubara/FABA di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), untuk menggantikan semen dan pasir dalam proses pembuatan paving blok.

Assistant Manager TJSL (Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan) PLN UIWRKR Candra mengatakan, material FABA dikirim langsung dari PLTU Tenayan ke KUB Riau Jaya Paving. KUB Riau Jaya Paving ini merupakan mitra binaan PLN.

“Kirimnya seminggu sekali. Sekali kirim bisa 3 truk,” tutur Candra.

Dikatakan, selain mengirim material FABA ke mitra binaan PLN, pihaknya juga memberikan bantuan mesin pencetak paving blok.

Pemanfaatan FABA dan pemberian mesin pencetak paving blok ini sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN di Kota Pekanbaru.

Hasilnya kata dia, masyarakat bisa memanfaatkan paving blok ini untuk bahan bangunan.

Pengolahan FABA

FABA adalah sisa hasil proses pembakaran batubara di ruang bakar (boiler).

Fly Ash atau abu terbang dikumpulkan dari fasilitas penangkap partikulat, seperti Electrostatic Precipitator (EP). Sementara bottom ash (abu jatuh) dikumpulkan dari bagian bawah boiler yang jatuh.

Limbah inilah yang pada akhirnya digunakan untuk bahan bangunan sebagai pengganti semen dan pasir.

CSR PLN dalam pemanfaatan FABA ini, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) 12, yakni Responsible Consumption and Production atau Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan.

PLN telah mendukung perkembangan infrastruktur Pemerintah melalui pemanfaatan FABA menjadi bahan baku pembuatan paving blok, batako, pemecah ombak, hingga menjadi bahan dalam stabilisasi dan timbunan tanah.

“Melalui FABA yang kami berikan, mereka akan dapat memproses dan mengubah FABA menjadi barang bernilai ekonomis di masyarakat,” imbuh Candra.

Pemilik Pabrik KUB Riau Jaya Paving Asril mengakui, setelah mendapatkan pasokan FABA dari PLTU Tenayan, ongkos produksi pembuatan paving blok bisa lebih hemat. Pasalnya, campuran FABA dapat menekan pemakaian semen dan pasir.

“Ongkos produksi jadi bisa lebih hemat. Produksi paving blok dalam sebulan tanpa campuran FABA biayanya bisa sampai dua juta. Tapi setelah pakai FABA, hanya delapan ratus ribu,” imbuhnya.

Asril pun menunjukkan bagaimana proses pembuatan paving blok. Pasir halus dan pasir kasar, juga FABA dimasukan ke dalam mesin/ alat pengaduk.

Semen setengah sak juga dimasukan ke dalam alat tersebut dan dicampur air. Alat pengaduk tersebut bisa beroperasi dengan menggunakan listrik PLN.

Kata Asril, menggunakan listrik PLN juga jauh lebih hemat ketimbang pakai ganset. Selain itu, suara di pabrik tak berisik, sehingga tak menganggu warga dengan bisingnya suara mesin/ganset.

Setelah proses pengadukan selesai lanjut Asril, pasir dan FABA ini siap dicetak di dalam mesin pencetak paving blok. 

Selain hemat produksi, Asril mengatakan, berkat bantuan CSR PLN dengan pemberian mesin pencetak paving blok, kini ia memiliki tambahan tenaga kerja.

Alhamdulillah dengan adanya tambahan mesin dari PLN, membuka lapangan kerja. Sekarang ada 7 orang yang kerja, tadinya hanya 3 orang,” pungkasnya. [FAZ]

]]> Limbah sisa pembakaran batubara, atau abu terbang yang dikenal dengan istilah Fly Ash Bottom Ash (FABA) ternyata bisa dimanfaatkan untuk bahan material pembangunan. Hal itu dibuktikan oleh PT PLN Unit Induk Wilayah Riau dan Kepri (UIWRKR).

PLN UIWRKR memanfaatkan sisa hasil proses pembakaran batubara/FABA di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), untuk menggantikan semen dan pasir dalam proses pembuatan paving blok.

Assistant Manager TJSL (Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan) PLN UIWRKR Candra mengatakan, material FABA dikirim langsung dari PLTU Tenayan ke KUB Riau Jaya Paving. KUB Riau Jaya Paving ini merupakan mitra binaan PLN.

“Kirimnya seminggu sekali. Sekali kirim bisa 3 truk,” tutur Candra.

Dikatakan, selain mengirim material FABA ke mitra binaan PLN, pihaknya juga memberikan bantuan mesin pencetak paving blok.

Pemanfaatan FABA dan pemberian mesin pencetak paving blok ini sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN di Kota Pekanbaru.

Hasilnya kata dia, masyarakat bisa memanfaatkan paving blok ini untuk bahan bangunan.

Pengolahan FABA

FABA adalah sisa hasil proses pembakaran batubara di ruang bakar (boiler).

Fly Ash atau abu terbang dikumpulkan dari fasilitas penangkap partikulat, seperti Electrostatic Precipitator (EP). Sementara bottom ash (abu jatuh) dikumpulkan dari bagian bawah boiler yang jatuh.

Limbah inilah yang pada akhirnya digunakan untuk bahan bangunan sebagai pengganti semen dan pasir.

CSR PLN dalam pemanfaatan FABA ini, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) 12, yakni Responsible Consumption and Production atau Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan.

PLN telah mendukung perkembangan infrastruktur Pemerintah melalui pemanfaatan FABA menjadi bahan baku pembuatan paving blok, batako, pemecah ombak, hingga menjadi bahan dalam stabilisasi dan timbunan tanah.

“Melalui FABA yang kami berikan, mereka akan dapat memproses dan mengubah FABA menjadi barang bernilai ekonomis di masyarakat,” imbuh Candra.

Pemilik Pabrik KUB Riau Jaya Paving Asril mengakui, setelah mendapatkan pasokan FABA dari PLTU Tenayan, ongkos produksi pembuatan paving blok bisa lebih hemat. Pasalnya, campuran FABA dapat menekan pemakaian semen dan pasir.

“Ongkos produksi jadi bisa lebih hemat. Produksi paving blok dalam sebulan tanpa campuran FABA biayanya bisa sampai dua juta. Tapi setelah pakai FABA, hanya delapan ratus ribu,” imbuhnya.

Asril pun menunjukkan bagaimana proses pembuatan paving blok. Pasir halus dan pasir kasar, juga FABA dimasukan ke dalam mesin/ alat pengaduk.

Semen setengah sak juga dimasukan ke dalam alat tersebut dan dicampur air. Alat pengaduk tersebut bisa beroperasi dengan menggunakan listrik PLN.

Kata Asril, menggunakan listrik PLN juga jauh lebih hemat ketimbang pakai ganset. Selain itu, suara di pabrik tak berisik, sehingga tak menganggu warga dengan bisingnya suara mesin/ganset.

Setelah proses pengadukan selesai lanjut Asril, pasir dan FABA ini siap dicetak di dalam mesin pencetak paving blok. 

Selain hemat produksi, Asril mengatakan, berkat bantuan CSR PLN dengan pemberian mesin pencetak paving blok, kini ia memiliki tambahan tenaga kerja.

“Alhamdulillah dengan adanya tambahan mesin dari PLN, membuka lapangan kerja. Sekarang ada 7 orang yang kerja, tadinya hanya 3 orang,” pungkasnya. [FAZ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories