Todongkan Pistol Ke Paspampres Depan Istana Perempuan Nekat, Berakhir Di Sel

Istana Negara yang terletak di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, kemarin pagi, kedatangan tamu tak dikenal. Tamu itu adalah seorang perempuan muda yang tiba-tiba saja menodongkan pistol ke personel Paspampres yang sedang berjaga. Beruntung, aksi tersebut bisa digagalkan. Si pelaku akhirnya diborgol dan berakhir di sel.

Insiden ini terjadi kemarin pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, di depan pintu masuk Istana Negara. Di lokasi itu juga, polisi sedang melaksanakan kegiatan rutin seperti pelayanan masyarakat penjagaan dan pengaturan di sekitar Istana Presiden atau Pos Bandung 1/oteva.

Tiba-tiba, ada seorang perempuan berjalan kaki dari arah Harmoni ke Jalan Medan Merdeka Utara. Perempuan itu mengenakan baju hitam dengan kerudung biru dan bercadar hitam. Di pundaknya, tergantung tas ransel hitam.

Begitu sampai di depan Istana Negara, perempuan itu langsung mendekati salah seorang anggota Paspampres. Kemudian menodongkan senjata api yang ditentengnya. Sontak, personel polisi lain yang mengetahui kejadian ini segera merespons dengan merebut pistol yang dibawa pelaku.

Bukannya menyerah, perempuan itu malah melawan. Bahkan ngotot untuk tetap berlari menuju Istana meskipun dengan tangan kosong. Juga dengan pengamanan ketat dari aparat yang terdiri dari tiga anggota Satgatur.

Menanggapi adanya insiden ini, Komandan Paspampres, Marsda Wahju Hidajat Soedjatmiko menjelaskan bahwa perempuan tersebut telah diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut. Saat digeledah, perempuan itu tidak membawa kartu identitas.

Wahju menegaskan, insiden tersebut bukanlah upaya menerobos masuk Istana Negara. Justru bermula dari kewaspadaan seorang anggota Paspampres yang melihat seorang perempuan dengan tingkah laku mencurigakan. Perempuan tersebut berdiri di dekat pos utama Paspampres di depan Istana Merdeka, dekat lampu lalu lintas. Saat didatangi, perempuan itu langsung menodongkan pistol jenis FN (Five seveN) kepada anggota. Namun, pistol itu langsung direbut dan perempuan itu langsung diserahkan pada polisi yang sedang bertugas di depan Istana Negara.

“Sekarang perempuan tersebut sudah berada di Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Untuk lebih lanjut silakan ditanyakan kepada Polda Metro Jaya,” kata Wahju.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menyebut aksi perempuan berpistol yang mencoba menerobos Istana Negara bukan aksi teror. “Jangan berandai-andai. Bukan teror ini,” sebut Fadil, di Polda Metro Jaya, kemarin.

Fadil mengatakan, saat ini polisi masih mendalami motif pelaku. Termasuk tujuan menerobos Istana. “Kalau ada perkembangan nanti kami sampaikan. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi, belum tentu teror,” sambungnya.

 

Selain itu, mantan Kapolda Jawa Timur tersebut memastikan bahwa situasi Jakarta saat ini tetap kondusif dan aman. Ia juga meminta masyarakat untuk tetap tenang. Tidak perlu khawatir.

“Jakarta sampai dengan saat ini tetap kondusif dan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir. Kami akan selalu ada selalu siaga jaga keamanan masyarakat,” tegas dia, meyakinkan.

Saat ini, perempuan tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif di Subdit Keamanan Negara (Kamneg) Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Dari foto yang beredar, pelaku yang sedang menjalani pemeriksaan sudah dalam kondisi tangan di borgol. Selama proses pemeriksaan, pelaku akan dimasukkan dalam sel di Polda Metro Jaya.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman menyerahkan kasus ini kepada kepolisian untuk ditangani. Namun, pihaknya akan tetap mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain itu, dia menyampaikan kepada jajarannya agar mengantisipasi adanya kelompok radikal. “Tentunya kan kalau di sekitar Istana ada Paspampres. Nanti kita bantuan dari kepolisian, dan kita akan tetap mengantisipasi. Saya sudah sampaikan kepada seluruh jajaran juga agar antisipasi terhadap kelompok-kelompok radikal,” terang Dudung.

Apa tanggapan BNPT? Mungkinkah ini masuk aksi terorisme? Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengaku terus melakukan koordinasi dengan aparat keamanan untuk menghimpun data adanya keterkaitan dengan jaringan terorisme.

“Kami BNPT sesuai tugas pokok dan fungsinya sedang melakukan koordinasi intensif dengan aparat penegak hukum untuk memastikan apakah pelaku bagian dari jaringan terorisme atau pelaku tunggal (lone wolf),” imbuh Direktur Pencegahan BNPT R Ahmad Nurwakhid. [UMM]

]]> Istana Negara yang terletak di Jalan Merdeka Utara, Jakarta, kemarin pagi, kedatangan tamu tak dikenal. Tamu itu adalah seorang perempuan muda yang tiba-tiba saja menodongkan pistol ke personel Paspampres yang sedang berjaga. Beruntung, aksi tersebut bisa digagalkan. Si pelaku akhirnya diborgol dan berakhir di sel.

Insiden ini terjadi kemarin pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, di depan pintu masuk Istana Negara. Di lokasi itu juga, polisi sedang melaksanakan kegiatan rutin seperti pelayanan masyarakat penjagaan dan pengaturan di sekitar Istana Presiden atau Pos Bandung 1/oteva.

Tiba-tiba, ada seorang perempuan berjalan kaki dari arah Harmoni ke Jalan Medan Merdeka Utara. Perempuan itu mengenakan baju hitam dengan kerudung biru dan bercadar hitam. Di pundaknya, tergantung tas ransel hitam.

Begitu sampai di depan Istana Negara, perempuan itu langsung mendekati salah seorang anggota Paspampres. Kemudian menodongkan senjata api yang ditentengnya. Sontak, personel polisi lain yang mengetahui kejadian ini segera merespons dengan merebut pistol yang dibawa pelaku.

Bukannya menyerah, perempuan itu malah melawan. Bahkan ngotot untuk tetap berlari menuju Istana meskipun dengan tangan kosong. Juga dengan pengamanan ketat dari aparat yang terdiri dari tiga anggota Satgatur.

Menanggapi adanya insiden ini, Komandan Paspampres, Marsda Wahju Hidajat Soedjatmiko menjelaskan bahwa perempuan tersebut telah diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penanganan lebih lanjut. Saat digeledah, perempuan itu tidak membawa kartu identitas.

Wahju menegaskan, insiden tersebut bukanlah upaya menerobos masuk Istana Negara. Justru bermula dari kewaspadaan seorang anggota Paspampres yang melihat seorang perempuan dengan tingkah laku mencurigakan. Perempuan tersebut berdiri di dekat pos utama Paspampres di depan Istana Merdeka, dekat lampu lalu lintas. Saat didatangi, perempuan itu langsung menodongkan pistol jenis FN (Five seveN) kepada anggota. Namun, pistol itu langsung direbut dan perempuan itu langsung diserahkan pada polisi yang sedang bertugas di depan Istana Negara.

“Sekarang perempuan tersebut sudah berada di Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Untuk lebih lanjut silakan ditanyakan kepada Polda Metro Jaya,” kata Wahju.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menyebut aksi perempuan berpistol yang mencoba menerobos Istana Negara bukan aksi teror. “Jangan berandai-andai. Bukan teror ini,” sebut Fadil, di Polda Metro Jaya, kemarin.

Fadil mengatakan, saat ini polisi masih mendalami motif pelaku. Termasuk tujuan menerobos Istana. “Kalau ada perkembangan nanti kami sampaikan. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi, belum tentu teror,” sambungnya.

 

Selain itu, mantan Kapolda Jawa Timur tersebut memastikan bahwa situasi Jakarta saat ini tetap kondusif dan aman. Ia juga meminta masyarakat untuk tetap tenang. Tidak perlu khawatir.

“Jakarta sampai dengan saat ini tetap kondusif dan aman. Masyarakat tidak perlu khawatir. Kami akan selalu ada selalu siaga jaga keamanan masyarakat,” tegas dia, meyakinkan.

Saat ini, perempuan tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif di Subdit Keamanan Negara (Kamneg) Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Dari foto yang beredar, pelaku yang sedang menjalani pemeriksaan sudah dalam kondisi tangan di borgol. Selama proses pemeriksaan, pelaku akan dimasukkan dalam sel di Polda Metro Jaya.

Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman menyerahkan kasus ini kepada kepolisian untuk ditangani. Namun, pihaknya akan tetap mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Selain itu, dia menyampaikan kepada jajarannya agar mengantisipasi adanya kelompok radikal. “Tentunya kan kalau di sekitar Istana ada Paspampres. Nanti kita bantuan dari kepolisian, dan kita akan tetap mengantisipasi. Saya sudah sampaikan kepada seluruh jajaran juga agar antisipasi terhadap kelompok-kelompok radikal,” terang Dudung.

Apa tanggapan BNPT? Mungkinkah ini masuk aksi terorisme? Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengaku terus melakukan koordinasi dengan aparat keamanan untuk menghimpun data adanya keterkaitan dengan jaringan terorisme.

“Kami BNPT sesuai tugas pokok dan fungsinya sedang melakukan koordinasi intensif dengan aparat penegak hukum untuk memastikan apakah pelaku bagian dari jaringan terorisme atau pelaku tunggal (lone wolf),” imbuh Direktur Pencegahan BNPT R Ahmad Nurwakhid. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories