Tingkatkan Literasi, Pemkab Sleman Jalin Kerja Sama Dengan Perpusnas

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Pemerintah Kabupaten Sleman menjalin kerja sama pada bidang pengembangan perpustakaan. Penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara kedua institusi dilakukan Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, dalam kegiatan talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) Kabupaten Sleman, Senin (4/7).

Bupati Kustini menerangkan, Kabupaten Sleman adalah kota pelajar, karena memiliki mahasiswa sekitar 300 ribu orang dari sekitar 60 perguruan tinggi. Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan literasi di Kabupaten Sleman, sekaligus mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui pelaksanaan pelatihan di perpustakaan.

Pada kesempatan tersebut, Kustini dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kabupaten Sleman. Amanah yang diterimanya ini menjadi motivasi dan semangat dalam meningkatkan literasi masyarakat, khususnya di Kabupaten Sleman.

Literasi menjadi faktor esensial dalam upaya membangun masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, kreatif, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Sleman yakni “Terwujudnya Sleman sebagai rumah bersama yang cerdas, sejahtera, berdaya saing, menghargai perbedaan, dan memiliki jiwa gotong royong”.

“Berdaya saing ialah masyarakat memiliki keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan di masa datang. Sehingga kemampuan literasi yang baik menjadi salah satu modal menjadi masyarakat unggul,” jelas Kustini.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengapresiasi semangat Kustini untuk menjadi role model dalam merangsang kegemaran membaca di Kabupaten Sleman. Menurut Syarif, sejatinya Bunda Literasi mengemban tugas penting untuk mempromosikan serta meningkatkan kegemaran membaca di satuan keluarga, pendidikan, dan masyarakat demi membangun kepedulian terhadap perpustakaan.

Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah di DIY. DIY dikenal sebagai kota yang memiliki sejuta warisan budaya peninggalan dari nenek moyang sehingga dijuluki sebagai kota seni dan budaya. Menurutnya, DIY penuh dengan warisan budaya yang intangible (nonfisik), contohnya batik, merupakan hasil kreativitas masyarakat yang wajib diperkenalkan kepada dunia luar. “Literasi adalah kemampuan memproduksi dan literasi adalah percaturan global,” ungkapnya.

Sementara itu, di tengah tantangan yang masih menghantui DIY akan tingginya tingkat kemiskinan dan ketimpangan wilayah, peningkatan literasi diyakini dapat mendukung pencapaian kesejahteraan masyarakat. Hal ini termaktub dalam sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang dibacakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY, Monika Nur Lastiyani.

Nota kesepakatan yang terjalin di antara Perpusnas dan Pemkab Sleman diharapkan menjadi awal kebangkitan literasi di seluruh wilayah di DIY. “Peningkatan literasi di perpustakaan bisa menjadi salah satu solusi dalam mendukung pencapaian kesejateraan masyarakat melalui basis kemandirian, dalam prinsip pembelajaran sepanjang hayat,” ujar Monika.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi menambahkan, Perpusnas sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian memiliki tugas pemerintahan di bidang perpustakaan. Untuk mengoptimalkan pemberian hak informasi kepada masyarakat, peran dari Perpusnas berkaitan dengan sinergitas dan kolaborasi yang terjalin dengan seluruh pihak.

“Kalau kita melihat Pasal 5 Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, hak terhadap informasi dijamin oleh Undang-Undang, di antaranya melalui perpustakaan. Sehingga dipastikan perpustakaan dan lembaga informasi lainnya harus tersedia di pelosok tanah air. Jadi ini adalah tugas kita bersama,” ucapnya.

Kegiatan PILM Kabupaten Sleman juga dirangkaikan dengan penyerahan mobil perpustakaan keliling secara simbolis dari Perpusnas kepada Pemkab Sleman.■

]]> Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Pemerintah Kabupaten Sleman menjalin kerja sama pada bidang pengembangan perpustakaan. Penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara kedua institusi dilakukan Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, dalam kegiatan talk show Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) Kabupaten Sleman, Senin (4/7).

Bupati Kustini menerangkan, Kabupaten Sleman adalah kota pelajar, karena memiliki mahasiswa sekitar 300 ribu orang dari sekitar 60 perguruan tinggi. Kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan literasi di Kabupaten Sleman, sekaligus mengembangkan kualitas sumber daya manusia melalui pelaksanaan pelatihan di perpustakaan.

Pada kesempatan tersebut, Kustini dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kabupaten Sleman. Amanah yang diterimanya ini menjadi motivasi dan semangat dalam meningkatkan literasi masyarakat, khususnya di Kabupaten Sleman.

Literasi menjadi faktor esensial dalam upaya membangun masyarakat yang berpengetahuan, inovatif, kreatif, dan berkarakter. Hal ini sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Sleman yakni “Terwujudnya Sleman sebagai rumah bersama yang cerdas, sejahtera, berdaya saing, menghargai perbedaan, dan memiliki jiwa gotong royong”.

“Berdaya saing ialah masyarakat memiliki keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan di masa datang. Sehingga kemampuan literasi yang baik menjadi salah satu modal menjadi masyarakat unggul,” jelas Kustini.

Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengapresiasi semangat Kustini untuk menjadi role model dalam merangsang kegemaran membaca di Kabupaten Sleman. Menurut Syarif, sejatinya Bunda Literasi mengemban tugas penting untuk mempromosikan serta meningkatkan kegemaran membaca di satuan keluarga, pendidikan, dan masyarakat demi membangun kepedulian terhadap perpustakaan.

Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah di DIY. DIY dikenal sebagai kota yang memiliki sejuta warisan budaya peninggalan dari nenek moyang sehingga dijuluki sebagai kota seni dan budaya. Menurutnya, DIY penuh dengan warisan budaya yang intangible (nonfisik), contohnya batik, merupakan hasil kreativitas masyarakat yang wajib diperkenalkan kepada dunia luar. “Literasi adalah kemampuan memproduksi dan literasi adalah percaturan global,” ungkapnya.

Sementara itu, di tengah tantangan yang masih menghantui DIY akan tingginya tingkat kemiskinan dan ketimpangan wilayah, peningkatan literasi diyakini dapat mendukung pencapaian kesejahteraan masyarakat. Hal ini termaktub dalam sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang dibacakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY, Monika Nur Lastiyani.

Nota kesepakatan yang terjalin di antara Perpusnas dan Pemkab Sleman diharapkan menjadi awal kebangkitan literasi di seluruh wilayah di DIY. “Peningkatan literasi di perpustakaan bisa menjadi salah satu solusi dalam mendukung pencapaian kesejateraan masyarakat melalui basis kemandirian, dalam prinsip pembelajaran sepanjang hayat,” ujar Monika.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi menambahkan, Perpusnas sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian memiliki tugas pemerintahan di bidang perpustakaan. Untuk mengoptimalkan pemberian hak informasi kepada masyarakat, peran dari Perpusnas berkaitan dengan sinergitas dan kolaborasi yang terjalin dengan seluruh pihak.

“Kalau kita melihat Pasal 5 Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, hak terhadap informasi dijamin oleh Undang-Undang, di antaranya melalui perpustakaan. Sehingga dipastikan perpustakaan dan lembaga informasi lainnya harus tersedia di pelosok tanah air. Jadi ini adalah tugas kita bersama,” ucapnya.

Kegiatan PILM Kabupaten Sleman juga dirangkaikan dengan penyerahan mobil perpustakaan keliling secara simbolis dari Perpusnas kepada Pemkab Sleman.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories