Tingkatkan Kualitas SDM, Literasi Bukan Sekadar Membaca

Kunci daya saing bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya. Yaitu SDM yang unggul, yang menguasai pengetahuan, teknologi, berjiwa kreatif, dan selalu melakukan hal-hal baru (inovatif). Kata kunci untuk menghasilkan SDM berdaya saing adalah kemampuan literasi. 

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando, dalam kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan Pengukuhan Bunda Literasi Kota Medan Kahiyang Ayu, Kamis (24/6). “Perpustakaan memainkan peran penting sebagai supporting pembangunan di semua lini, apalagi untuk membangun sumber daya manusia unggul,” ujarnya, seperti keterangan yang diterima redaksi.

Syarif menerangkan, literasi berbanding lurus dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan manusia. Literasi merupakan pondasi penting bagi pembangunan yang bermartabat. 

Ketua Dewan Perpustakaan Sumatera Utara (Sumut) Hasyim Purba mengatakan, Medan adalah etalasenya Sumut. Makanya, dia berharap, perhatian dan dukungan Pemda terhadap pengembangan literasi tidak main-main. 

“Giatkan penulis lokal untuk menulis kekhasan daerah. Kembangkan perpustakaan digital. Desain perpustakaan menjadi tempat menyenangkan seperti di café. Bangun pojok-pojok baca di seluruh Kota Medan,” sarannya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi X DPR Sofyan Tan menyatakan, literasi bukan hanya membaca. Tetapi perlu kedalaman menelaah informasi. Tanpa pemahaman informasi yang utuh, kondisi negara bisa menjadi ‘horor’. Makanya, masyarakat harus diberikan pemahaman demikian. 

 

Seperti kondisi yang terjadi belakangan ini, saat bangsa sedang berjibaku menangani Corona, ada sebagian pihak yang kurang beretika menyebarkan ragam informasi yang menakuti masyarakat. Bukan sebaliknya, yakni bagaimana mencegah penyebaran Corona agar tidak meluas.

“Padahal, ketika informasi negatif diterima dan menjadi pikiran, malah bisa berdampak pada penurunan imunitas. Ini juga yang mesti diperhatikan,” urai Sofyan Tan. 

Terkait dengan pembangunan perpustakaan di Indonesia, Komisi X DPR selalu memberikan dukungan kepada Perpusnas untuk memaksimalkan pemanfaatan dana alokasi khusus (DAK) demi kemajuan perpustakaan dan dunia literasi Tanah Air. “Seluruh anggota Komisi X DPR sepakat mendorong kenaikan anggaran untuk mendukung indeks literasi nasional,” tambah Tan. 

Penadangan menarik disampaikan Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman. Ia menyarankan, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak sebatas dipakai untuk keperluan belajar mengajar tetapi bisa digunakan memenuhi aspek perpustakaan sekolah. Dana kelurahan/desa juga bisa digunakan untuk pembangunan taman-taman literasi. 

“Kebijakan penting yang menyangkut masa depan bangsa jangan dipikirkan secara parsial melainkan di kolaborasikan. Sebagai pemimpin, tidak perlu takut melahirkan kebijakan meski hal tersebut bukan berada zona nyamannya,” cetus Aulia. [USU]

]]> Kunci daya saing bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya. Yaitu SDM yang unggul, yang menguasai pengetahuan, teknologi, berjiwa kreatif, dan selalu melakukan hal-hal baru (inovatif). Kata kunci untuk menghasilkan SDM berdaya saing adalah kemampuan literasi. 

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando, dalam kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) dan Pengukuhan Bunda Literasi Kota Medan Kahiyang Ayu, Kamis (24/6). “Perpustakaan memainkan peran penting sebagai supporting pembangunan di semua lini, apalagi untuk membangun sumber daya manusia unggul,” ujarnya, seperti keterangan yang diterima redaksi.

Syarif menerangkan, literasi berbanding lurus dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesejahteraan manusia. Literasi merupakan pondasi penting bagi pembangunan yang bermartabat. 

Ketua Dewan Perpustakaan Sumatera Utara (Sumut) Hasyim Purba mengatakan, Medan adalah etalasenya Sumut. Makanya, dia berharap, perhatian dan dukungan Pemda terhadap pengembangan literasi tidak main-main. 

“Giatkan penulis lokal untuk menulis kekhasan daerah. Kembangkan perpustakaan digital. Desain perpustakaan menjadi tempat menyenangkan seperti di café. Bangun pojok-pojok baca di seluruh Kota Medan,” sarannya.

Di tempat yang sama, Anggota Komisi X DPR Sofyan Tan menyatakan, literasi bukan hanya membaca. Tetapi perlu kedalaman menelaah informasi. Tanpa pemahaman informasi yang utuh, kondisi negara bisa menjadi ‘horor’. Makanya, masyarakat harus diberikan pemahaman demikian. 

 

Seperti kondisi yang terjadi belakangan ini, saat bangsa sedang berjibaku menangani Corona, ada sebagian pihak yang kurang beretika menyebarkan ragam informasi yang menakuti masyarakat. Bukan sebaliknya, yakni bagaimana mencegah penyebaran Corona agar tidak meluas.

“Padahal, ketika informasi negatif diterima dan menjadi pikiran, malah bisa berdampak pada penurunan imunitas. Ini juga yang mesti diperhatikan,” urai Sofyan Tan. 

Terkait dengan pembangunan perpustakaan di Indonesia, Komisi X DPR selalu memberikan dukungan kepada Perpusnas untuk memaksimalkan pemanfaatan dana alokasi khusus (DAK) demi kemajuan perpustakaan dan dunia literasi Tanah Air. “Seluruh anggota Komisi X DPR sepakat mendorong kenaikan anggaran untuk mendukung indeks literasi nasional,” tambah Tan. 

Penadangan menarik disampaikan Wakil Wali Kota Medan Aulia Rachman. Ia menyarankan, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak sebatas dipakai untuk keperluan belajar mengajar tetapi bisa digunakan memenuhi aspek perpustakaan sekolah. Dana kelurahan/desa juga bisa digunakan untuk pembangunan taman-taman literasi. 

“Kebijakan penting yang menyangkut masa depan bangsa jangan dipikirkan secara parsial melainkan di kolaborasikan. Sebagai pemimpin, tidak perlu takut melahirkan kebijakan meski hal tersebut bukan berada zona nyamannya,” cetus Aulia. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories