Tiga Warga Myanmar Tewas Didor Aparat Militer Junta Makin Beringas

Kondisi politik di Myanmar semakin tidak menentu. Junta semakin beringas menghadapi demonstran yang menentang kudeta militer. Setidaknya, sudah ada tiga orang warga di negeri itu tewas didor.

Junta mengharapkan tewasnya tiga warga sipil bisa meredam kondisi keamanan di Myanmar. Tapi fakta bicara lain, aksi unjuk rasa makin membesar. Kemarin, ribuan warga menolak kudeta militer, kembali turun ke jalan. Mereka berkumpul di Yangon, kota terbesar Myanmar. Junta menutup akses jalan di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yangon. Di kawasan itu, 20 truk militer dengan polisi antihuru-hara berjaga-jaga.

Militer juga mengerahkan kendaraan lapis baja di Yangon. Aksi mogok massal, kemarin, digerakan kelompok Civil Dis­obedience Movement. Mereka menyebut aksi gerakan itu Spring Revolution atau Revolusi Musim Semi.

Sebelumnya, Minggu (21/2) malam, junta memperingatkan, warga agar tidak unjuk rasa. Se­bab, berisiko ditembak mati.

Peringatan keras itu diumum­kan lewat tv nasional MRTV setelah demo besar akhir pekan lalu di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar. Demo itu diwarnai penembakan polisi terhadap para demonstran. Dua orang tewas dalam unjuk rasa itu.

“Para pengunjuk rasa seka­rang menghasut rakyat, terutama remaja dan pemuda yang emo­sional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan kehilangan nyawa,” ungkap Dewan Ad­ministrasi Negara, nama junta militer yang sekarang mengon­trol Myanmar.

Junta menuding, pengunjuk rasa melakukan kekerasan, sehingga terpaksa aparat keaman­an membalasnya. Padahal, tidak ada peserta unjuk rasa melaku­kan kekerasan. Mereka hanya sesekali terlibat aksi saling dorong dengan aparat.

 

Sejauh ini sudah tiga pengun­juk rasa yang ditembak mati. Pada Minggu pagi (21/2), kerumunan di Ibu Kota Myanmar menghadiri pemakaman wanita muda yang merupakan orang pertama yang dipastikan tewas dalam aksi demo. Sementara para pengunjuk rasa lain juga berduka atas dua pengunjuk rasa yang ditembak mati pada Sabtu (20/2).

Stop Kekerasan

Amerika Serikat kembali menyampaikan dukungan untuk rakyat Myanmar.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan, AS akan mengambil tindakan tegas ter­hadap mereka yang melakukan kekerasan terhadap rakyat yang menuntut pemulihan pemerintah yang dipilih secara demokratis.

“Kami menyerukan kepada militer untuk menghentikan kekerasan, membebaskan se­mua yang ditahan secara tak adil, menghentikan serangan terhadap jurnalis dan aktivis, dan menghormati keinginan rakyat,” kata juru bicara Ned Price di Twitter, dikutip Associ­ated Press, kemarin.

Junta melakukan kudeta 1 Februari lalu, dengan mengklaim bahwa pemilihan November 2020, yang dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi, dino­dai kecurangan. Komisi Pemilihan telah membantah adanya kecurangan. Sejak kudeta, 640 orang telah ditangkap. Sekitar 593 orang masih ditahan, ter­masuk Pemimpin de facto Suu Kyi dan Presiden Win Myint, masih dalam penahanan. [DAY]

]]> Kondisi politik di Myanmar semakin tidak menentu. Junta semakin beringas menghadapi demonstran yang menentang kudeta militer. Setidaknya, sudah ada tiga orang warga di negeri itu tewas didor.

Junta mengharapkan tewasnya tiga warga sipil bisa meredam kondisi keamanan di Myanmar. Tapi fakta bicara lain, aksi unjuk rasa makin membesar. Kemarin, ribuan warga menolak kudeta militer, kembali turun ke jalan. Mereka berkumpul di Yangon, kota terbesar Myanmar. Junta menutup akses jalan di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yangon. Di kawasan itu, 20 truk militer dengan polisi antihuru-hara berjaga-jaga.

Militer juga mengerahkan kendaraan lapis baja di Yangon. Aksi mogok massal, kemarin, digerakan kelompok Civil Dis­obedience Movement. Mereka menyebut aksi gerakan itu Spring Revolution atau Revolusi Musim Semi.

Sebelumnya, Minggu (21/2) malam, junta memperingatkan, warga agar tidak unjuk rasa. Se­bab, berisiko ditembak mati.

Peringatan keras itu diumum­kan lewat tv nasional MRTV setelah demo besar akhir pekan lalu di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar. Demo itu diwarnai penembakan polisi terhadap para demonstran. Dua orang tewas dalam unjuk rasa itu.

“Para pengunjuk rasa seka­rang menghasut rakyat, terutama remaja dan pemuda yang emo­sional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan kehilangan nyawa,” ungkap Dewan Ad­ministrasi Negara, nama junta militer yang sekarang mengon­trol Myanmar.

Junta menuding, pengunjuk rasa melakukan kekerasan, sehingga terpaksa aparat keaman­an membalasnya. Padahal, tidak ada peserta unjuk rasa melaku­kan kekerasan. Mereka hanya sesekali terlibat aksi saling dorong dengan aparat.

 

Sejauh ini sudah tiga pengun­juk rasa yang ditembak mati. Pada Minggu pagi (21/2), kerumunan di Ibu Kota Myanmar menghadiri pemakaman wanita muda yang merupakan orang pertama yang dipastikan tewas dalam aksi demo. Sementara para pengunjuk rasa lain juga berduka atas dua pengunjuk rasa yang ditembak mati pada Sabtu (20/2).

Stop Kekerasan

Amerika Serikat kembali menyampaikan dukungan untuk rakyat Myanmar.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan, AS akan mengambil tindakan tegas ter­hadap mereka yang melakukan kekerasan terhadap rakyat yang menuntut pemulihan pemerintah yang dipilih secara demokratis.

“Kami menyerukan kepada militer untuk menghentikan kekerasan, membebaskan se­mua yang ditahan secara tak adil, menghentikan serangan terhadap jurnalis dan aktivis, dan menghormati keinginan rakyat,” kata juru bicara Ned Price di Twitter, dikutip Associ­ated Press, kemarin.

Junta melakukan kudeta 1 Februari lalu, dengan mengklaim bahwa pemilihan November 2020, yang dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi, dino­dai kecurangan. Komisi Pemilihan telah membantah adanya kecurangan. Sejak kudeta, 640 orang telah ditangkap. Sekitar 593 orang masih ditahan, ter­masuk Pemimpin de facto Suu Kyi dan Presiden Win Myint, masih dalam penahanan. [DAY]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories