The Fed Mau Naikkan Suku Bunga, Rupiah Loyo Lagi

Rupiah pagi ini loyo lagi. Rupiah dibuka Rp 14.295 per dolar AS atau melemah 0,4 persen dibandingkan penutupan kemarin, Rp 14.238 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah, mata uang Asia lain ikutan melemah. Won Korea Selatan melemah 1,02 persen, peso Filipina minus 0,57 persen, yuan China minus 0,4 persen, ringgit Malaysia minus 0,38 persen, dan baht Thailand minus 0,05 persen. 

Sementara dolar Singapura menguat 0,13 persen. Yen Jepang minus 0,05 persen dan dolar Hong Kong stagnan.

Sedangkan mata uang negara maju justru menguat dari dolar AS. Dolar Australia menguat 0,32 persen, rubel Rusia 0,16 persen, franc Swiss 0,09 persen, dan euro Eropa 0,04 persen. Sementara, poundsterling Inggris yang melemah 0,34 persen dan dolar Kanada minus 0,02 persen.

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra mengatakan, rupiah melemah karena perubahan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Bank sentral AS mempercepat proyeksi kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed yang terlihat berpotensi naik 50 basis poin di 2023.

“Padahal sebelumnya The Fed memperkirakan baru akan terjadi kenaikan di 2024,” ujar Ariston. 

Selain itu, The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi AS pada 2021 menjadi 3,1 persen. Sebelumnya, asumsi bank sentral hanya 2,2 persen. Hal ini turut menguatkan tingkat imbal hasil obligasi di AS dan dolar AS. 

Di sisi lain, kenaikan jumlah kasus Covid-19 di dalam negeri yang terus meningkat juga menekan rupiah. “Rupiah berpotensi melemah ke arah Rp14.270 dengan potensi support di kisaran Rp14.200 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]

]]> Rupiah pagi ini loyo lagi. Rupiah dibuka Rp 14.295 per dolar AS atau melemah 0,4 persen dibandingkan penutupan kemarin, Rp 14.238 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah, mata uang Asia lain ikutan melemah. Won Korea Selatan melemah 1,02 persen, peso Filipina minus 0,57 persen, yuan China minus 0,4 persen, ringgit Malaysia minus 0,38 persen, dan baht Thailand minus 0,05 persen. 

Sementara dolar Singapura menguat 0,13 persen. Yen Jepang minus 0,05 persen dan dolar Hong Kong stagnan.

Sedangkan mata uang negara maju justru menguat dari dolar AS. Dolar Australia menguat 0,32 persen, rubel Rusia 0,16 persen, franc Swiss 0,09 persen, dan euro Eropa 0,04 persen. Sementara, poundsterling Inggris yang melemah 0,34 persen dan dolar Kanada minus 0,02 persen.

Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra mengatakan, rupiah melemah karena perubahan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Bank sentral AS mempercepat proyeksi kenaikan tingkat suku bunga acuan The Fed yang terlihat berpotensi naik 50 basis poin di 2023.

“Padahal sebelumnya The Fed memperkirakan baru akan terjadi kenaikan di 2024,” ujar Ariston. 

Selain itu, The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi AS pada 2021 menjadi 3,1 persen. Sebelumnya, asumsi bank sentral hanya 2,2 persen. Hal ini turut menguatkan tingkat imbal hasil obligasi di AS dan dolar AS. 

Di sisi lain, kenaikan jumlah kasus Covid-19 di dalam negeri yang terus meningkat juga menekan rupiah. “Rupiah berpotensi melemah ke arah Rp14.270 dengan potensi support di kisaran Rp14.200 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories