Tertekan Sentimen The Fed, Rupiah Ambles Lagi

Setelah menguat kemarin, pagi ini rupiah kembali loyo. Nilai tukar rupiah hari ini dibuka Rp 14.270 per dolar AS atau melemah 0,02 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.266 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia terhadap dolar juga melemah pagi ini. Won Korea Selatan turun 0,36 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, yen Jepang turun 0,15 persen, ringgit Malaysia minus 0,14 persen, peso Filipina turun 0,1 persen, dan dolar Singapura melemah 0,1 persen. 

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya, merosot 0,2 persen menjadi 93,802. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menurun 0,39 persen ke level Rp 16.545, terhadap poundsterling Inggris minus 0,36 persen ke level Rp 19.388, dan terhadap dolar Australia juga minus 0,20 persen ke level Rp 10.369.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi melihat, melemahnya dolar lantaran komentar pejabat Bank Sentral AS bahwa The Fed sepertinya membutuhkan satu tahun atau lebih lama sebelum dapat menaikkan suku bunga.

Gubernur Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan pada Jumat bahwa kondisi kenaikan suku bunga dapat dipenuhi pada akhir 2022, dengan inflasi diperkirakan akan kembali ke target Fed pada 2022.

“Pasar mengantisipasi keputusan The Fed tersebut. Tak hanya itu, sentimen global antara AS dan China kembali mengemuka juga melemahkan mayoritas mata uang Asia,” katanya, Selasa (5/10).

Dari dalam negeri, optimisme pelaku pasar terhadap data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 yang masih positif walau tak setinggi realisasi kuartal II/2021 dinilai menambah daya rupiah.

Ia memproyeksi pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi hari ini dengan kecenderungan ditutup menguat lagi pada rentang Rp 14.250 – Rp 14.290 per dolar AS. [DWI]

]]> Setelah menguat kemarin, pagi ini rupiah kembali loyo. Nilai tukar rupiah hari ini dibuka Rp 14.270 per dolar AS atau melemah 0,02 persen dibandingkan perdagangan kemarin di level Rp 14.266 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia terhadap dolar juga melemah pagi ini. Won Korea Selatan turun 0,36 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, yen Jepang turun 0,15 persen, ringgit Malaysia minus 0,14 persen, peso Filipina turun 0,1 persen, dan dolar Singapura melemah 0,1 persen. 

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya, merosot 0,2 persen menjadi 93,802. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro menurun 0,39 persen ke level Rp 16.545, terhadap poundsterling Inggris minus 0,36 persen ke level Rp 19.388, dan terhadap dolar Australia juga minus 0,20 persen ke level Rp 10.369.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi melihat, melemahnya dolar lantaran komentar pejabat Bank Sentral AS bahwa The Fed sepertinya membutuhkan satu tahun atau lebih lama sebelum dapat menaikkan suku bunga.

Gubernur Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan pada Jumat bahwa kondisi kenaikan suku bunga dapat dipenuhi pada akhir 2022, dengan inflasi diperkirakan akan kembali ke target Fed pada 2022.

“Pasar mengantisipasi keputusan The Fed tersebut. Tak hanya itu, sentimen global antara AS dan China kembali mengemuka juga melemahkan mayoritas mata uang Asia,” katanya, Selasa (5/10).

Dari dalam negeri, optimisme pelaku pasar terhadap data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021 yang masih positif walau tak setinggi realisasi kuartal II/2021 dinilai menambah daya rupiah.

Ia memproyeksi pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi hari ini dengan kecenderungan ditutup menguat lagi pada rentang Rp 14.250 – Rp 14.290 per dolar AS. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories