Terorisme Bangkit Lagi Golkar Usul Aktifkan Program Tamu Wajib Lapor 1 Kali 24 Jam

Partai Golkar menyarankan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dalam menghadapi tindak pidana terorisme. Hal ini menyusul aksi bom bunuh diri di Makassar dan penyusupan ke Markas Besar Polri.

“Terorisme itu kejahatan luar biasa. Harus dihadapi dengan langkah-langkah luar biasa,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Lodewijk F Paulus, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Anggota Komisi I DPR ini menjelaskan, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab aparat keamanan dalam menangani masalah terorisme. Khususnya, dalam memberikan early warning system alias peringatan dini atas ancaman terorisme. Namun, ketika serangan sudah terjadi, mesti melibatkan pihak keamanan, khususnya bidang intelejen.

Letnan Jenderal TNI purnawirawan ini pun menyarankan, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, baik itu di lingkungan tempat tinggal, hingga ruang publik. Misalnya, membangkitkan lagi program tamu 1 x 24 jam wajib lapor.

“Saya mengimbau unsur-unsur Mabes TNI, Polri dan lainnya untuk meningkatkan pengamanan di ruang publik. Meningkatkan pengecekan,” terangnya.

Menurutnya, kejahatan terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata, karena tidak membedakan sasaran atau target saat melakukan aksi. Masyarakat harus selalu tetap waspada dan mawas diri. Jangan terlalu takut. Namun, sigap melaporkan kepada pihak berwajib bila melihat sesuatu yang mencurigakan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Apa yang bisa kita pelajari dari dua kasus ini, teroris itu tidak akan berhenti. Mereka secara klandestin (diam-diam) bergerak di bawah tanah, terus melaksanakan aksinya,” ucapnya, mengingatkan.

Lodewijk menganalisa, dua aksi terorisme ini merupakan balasan atas terdesaknya sel-sel teroris yang terus ditangkapoleh kepolisian. Dia juga mengapresiasi langkah kepolisian melakukan tindakan tegas terhadap kelompok teroris.

Dijelaskan, ada dua tindakan kelompok teroris yang semakin terdesakoleh kepolisian. Ada yang melarikan diri, namun ada yang memberikan perlawanan.

“Saya tahu, para aparat sudah melakukan patroli bersama antara TNI dengan Polri. Harapannya, intelejen juga bisa membongkar sel-sel yang tadinya dianggap sudah tidur,” katanya.

Mantan anggota Detasemen 81 Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus ini menilai, dua peristiwa terorisme yang terjadi belakangan ini kecolongan. Dalam hal ini, karena aparat menerima dengan sopan masyarakat di ruang pelayanan publik.

Seperti diketahui, rentetan aksi terorisme terjadi belakangan ini. Pertama, aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3). Dua pelaku pasangan suami istri tewas. Kemudian, aksi penyusupan wanita di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3). Pelaku tewas setelah dilumpuhkan Polri. [BSH]

]]> Partai Golkar menyarankan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dalam menghadapi tindak pidana terorisme. Hal ini menyusul aksi bom bunuh diri di Makassar dan penyusupan ke Markas Besar Polri.

“Terorisme itu kejahatan luar biasa. Harus dihadapi dengan langkah-langkah luar biasa,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar, Lodewijk F Paulus, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Anggota Komisi I DPR ini menjelaskan, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab aparat keamanan dalam menangani masalah terorisme. Khususnya, dalam memberikan early warning system alias peringatan dini atas ancaman terorisme. Namun, ketika serangan sudah terjadi, mesti melibatkan pihak keamanan, khususnya bidang intelejen.

Letnan Jenderal TNI purnawirawan ini pun menyarankan, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, baik itu di lingkungan tempat tinggal, hingga ruang publik. Misalnya, membangkitkan lagi program tamu 1 x 24 jam wajib lapor.

“Saya mengimbau unsur-unsur Mabes TNI, Polri dan lainnya untuk meningkatkan pengamanan di ruang publik. Meningkatkan pengecekan,” terangnya.

Menurutnya, kejahatan terorisme tidak bisa dipandang sebelah mata, karena tidak membedakan sasaran atau target saat melakukan aksi. Masyarakat harus selalu tetap waspada dan mawas diri. Jangan terlalu takut. Namun, sigap melaporkan kepada pihak berwajib bila melihat sesuatu yang mencurigakan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Apa yang bisa kita pelajari dari dua kasus ini, teroris itu tidak akan berhenti. Mereka secara klandestin (diam-diam) bergerak di bawah tanah, terus melaksanakan aksinya,” ucapnya, mengingatkan.

Lodewijk menganalisa, dua aksi terorisme ini merupakan balasan atas terdesaknya sel-sel teroris yang terus ditangkapoleh kepolisian. Dia juga mengapresiasi langkah kepolisian melakukan tindakan tegas terhadap kelompok teroris.

Dijelaskan, ada dua tindakan kelompok teroris yang semakin terdesakoleh kepolisian. Ada yang melarikan diri, namun ada yang memberikan perlawanan.

“Saya tahu, para aparat sudah melakukan patroli bersama antara TNI dengan Polri. Harapannya, intelejen juga bisa membongkar sel-sel yang tadinya dianggap sudah tidur,” katanya.

Mantan anggota Detasemen 81 Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus ini menilai, dua peristiwa terorisme yang terjadi belakangan ini kecolongan. Dalam hal ini, karena aparat menerima dengan sopan masyarakat di ruang pelayanan publik.

Seperti diketahui, rentetan aksi terorisme terjadi belakangan ini. Pertama, aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3). Dua pelaku pasangan suami istri tewas. Kemudian, aksi penyusupan wanita di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3). Pelaku tewas setelah dilumpuhkan Polri. [BSH]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories