Terima Dubes Vorobieva Bamsoet Dukung Kerja Sama Produksi Vaksin Buatan Rusia

Ketua MPR Bambang Soesatyo berharap Pemerintah Indonesia menyetujui pengadaan vaksin Covid-19 buatan Rusia. Vaksin asal Negeri Beruang Merah itu akan sangat mendukung pelaksanaan program vaksinasi secara gratis dari pelaku usaha Indonesia kepada para pekerjanya.

“Mengapa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan perlu memberi perhatian? Duta Besar Rusia menguraikan, Sputnik punya berbagai keunggulan yang diperlukan penduduk Indonesia. EpiVacCorona, misalnya, bisa digunakan untuk lansia di atas 60 tahun,” ujar Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo, usai menerima Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva di Jakarta, kemarin.

Saat ini, kata Bamsoet, Rusia sudah memproduksi dan menggunakan tiga jenis vaksin, yakni Sputnik V, EpiVacCorona dan CoviVac. Mereka juga mengembangkan vaksin Sputnik Light yang bisa digunakan untuk anakanak dengan penggunaan cukup satu kali suntikan.

“Saat ini, baru Sputnik V yang teregistrasi di BPOM untuk mendapatkan izin penggunaan darurat di Indonesia. Sementara EpiVacCorona, CoviVac dan Sputnik Light belum teregistrasi,” ungkap Ketua DPR ke20 ini.

Sputnik V yang telah teregistrasi di BPOM, sambung dia, menunggu izin edar. Vaksin tersebut memiliki keunggulan. Antara lain, memiliki efikasi 91,6 persen, mudah didistribusikan karena hanya butuh disimpan di suhu 2-8 derajat celcius. Harga juga relatif lebih murah, yakni kurang dari 10 dolar Amerika Serikat (AS).

“Vaksin Sputnik dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow, sebuah pusat penelitian yang dikelola negara. Gamaleya memproduksi vaksin dengan dukungan dari Dana Investasi Langsung Pemerintah Rusia,” jelas Bamsoet.

Menurut Bamsoet, vaksin buatan Rusia ini didasarkan pada DNA adenovirus jenis SARSCoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan, menstimulasi respons imun, dan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terkait vaksinasi.

“Mayoritas efek samping yang dilaporkan ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu dan kelelahan. Penggunaan vaksin ini sudah disetujui di Rusia, Belarusia, Serbia, Argentina, Bolivia, Aljazair, Venezuela, Paraguay, Turkmenistan, Hongaria, UEA, Iran, Guinea, Tunisia, Armenia dan wilayah Palestina,” jelasnya.

Selain menawarkan vaksin, tambah Bamsoet, Rusia juga mengajak Indonesia menjadi salah satu negara pusat produksi berbagai jenis vaksin buatan Rusia. Dengan begitu, Indonesia tak sekadar menjadi konsumen, tapi turut menjadi produsen.

“Tawaran bagus ini harus disambut dengan baik oleh pemerintah. Selain meningkatkan investasi, juga bisa dimanfaatkan untuk transfer teknologi dan pengetahuan seputar vaksin Covid-19,” harap dia.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini menerangkan, semakin banyak jenis vaksin Covid-19 yang masuk ke Indonesia, semakin bagus bagi percepatan vaksinasi terhadap berbagai kalangan penduduk. Sebab, untuk tercapainya herd immunity, vaksinasi minimal harus dilakukan kepada 181.554.465 penduduk.

“Data Satgas Covid-19 mencatat, per 21 Maret 2021, vaksinasi ke-1 dilakukan kepada 5.533.379 penduduk. Sementara vaksinasi ke-2 sudah dilakukan kepada 2.301.978. Kita menargetkan pada peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus mendatang, Indonesia sudah bebas Covid19,” tandasnya.  [ONI]

]]> Ketua MPR Bambang Soesatyo berharap Pemerintah Indonesia menyetujui pengadaan vaksin Covid-19 buatan Rusia. Vaksin asal Negeri Beruang Merah itu akan sangat mendukung pelaksanaan program vaksinasi secara gratis dari pelaku usaha Indonesia kepada para pekerjanya.

“Mengapa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan perlu memberi perhatian? Duta Besar Rusia menguraikan, Sputnik punya berbagai keunggulan yang diperlukan penduduk Indonesia. EpiVacCorona, misalnya, bisa digunakan untuk lansia di atas 60 tahun,” ujar Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo, usai menerima Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva di Jakarta, kemarin.

Saat ini, kata Bamsoet, Rusia sudah memproduksi dan menggunakan tiga jenis vaksin, yakni Sputnik V, EpiVacCorona dan CoviVac. Mereka juga mengembangkan vaksin Sputnik Light yang bisa digunakan untuk anakanak dengan penggunaan cukup satu kali suntikan.

“Saat ini, baru Sputnik V yang teregistrasi di BPOM untuk mendapatkan izin penggunaan darurat di Indonesia. Sementara EpiVacCorona, CoviVac dan Sputnik Light belum teregistrasi,” ungkap Ketua DPR ke20 ini.

Sputnik V yang telah teregistrasi di BPOM, sambung dia, menunggu izin edar. Vaksin tersebut memiliki keunggulan. Antara lain, memiliki efikasi 91,6 persen, mudah didistribusikan karena hanya butuh disimpan di suhu 2-8 derajat celcius. Harga juga relatif lebih murah, yakni kurang dari 10 dolar Amerika Serikat (AS).

“Vaksin Sputnik dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow, sebuah pusat penelitian yang dikelola negara. Gamaleya memproduksi vaksin dengan dukungan dari Dana Investasi Langsung Pemerintah Rusia,” jelas Bamsoet.

Menurut Bamsoet, vaksin buatan Rusia ini didasarkan pada DNA adenovirus jenis SARSCoV-2. Vaksin ini menggunakan virus yang telah dilemahkan, menstimulasi respons imun, dan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan terkait vaksinasi.

“Mayoritas efek samping yang dilaporkan ringan, seperti nyeri di tempat suntikan, gejala seperti flu dan kelelahan. Penggunaan vaksin ini sudah disetujui di Rusia, Belarusia, Serbia, Argentina, Bolivia, Aljazair, Venezuela, Paraguay, Turkmenistan, Hongaria, UEA, Iran, Guinea, Tunisia, Armenia dan wilayah Palestina,” jelasnya.

Selain menawarkan vaksin, tambah Bamsoet, Rusia juga mengajak Indonesia menjadi salah satu negara pusat produksi berbagai jenis vaksin buatan Rusia. Dengan begitu, Indonesia tak sekadar menjadi konsumen, tapi turut menjadi produsen.

“Tawaran bagus ini harus disambut dengan baik oleh pemerintah. Selain meningkatkan investasi, juga bisa dimanfaatkan untuk transfer teknologi dan pengetahuan seputar vaksin Covid-19,” harap dia.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini menerangkan, semakin banyak jenis vaksin Covid-19 yang masuk ke Indonesia, semakin bagus bagi percepatan vaksinasi terhadap berbagai kalangan penduduk. Sebab, untuk tercapainya herd immunity, vaksinasi minimal harus dilakukan kepada 181.554.465 penduduk.

“Data Satgas Covid-19 mencatat, per 21 Maret 2021, vaksinasi ke-1 dilakukan kepada 5.533.379 penduduk. Sementara vaksinasi ke-2 sudah dilakukan kepada 2.301.978. Kita menargetkan pada peringatan HUT ke-76 Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus mendatang, Indonesia sudah bebas Covid19,” tandasnya.  [ONI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories