Telur Dan Ayam Naik Zul Jawab Serius Dan Bercanda

Baru beres persoalan minyak goreng, kini rakyat kecil dibikin susah dengan melonjaknya harga telur ayam. Sudah 2 pekan ini, harga telur ayam menembus angka Rp 30 ribuan per kilogram, angka tertinggi dalam sejarah. Menyikapi hal itu, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan jawab serius dan bercanda. Warganet yang kecewa, meluapkan kekesalannya pada Zulhas-sapaan Mendag.

Harga telur ayam terpantau naik sejak awal Juli lalu. Perlahan tapi pasti, harga telur yang biasa dibandrol Rp 23 ribu per kilogram naik ke Rp 27 ribu per kilogram. Masuk bulan Agustus, bukanya turun, harganya makin meroket. Dalam 2 pekan terakhir, harganya sudah tembus Rp 30 ribu per kilogram.

Di Pasar Pluit Jakarta, harga telur bahkan melonjak hingga Rp 30 ribu per kilogram. Di beberapa daerah seperti di Kalimantan dan Sulawesi, harganya sudah mencapai Rp 35-37 ribu per kilogram. Merujuk dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) rata-rata nasional harga telur ayam per hari kemarin adalah Rp 30.900 per kilogram.

Meskipun harga telur ayam sudah meresahkan, Zulhas meminta hal tersebut tidak usai diributkan. Dengan nada candaan, Ketum PAN ini malah pamer nota kesepahaman perjanjian dagang yang dilakukan kementerian yang dipimpinnya dengan India. Nota perdagangan 2 negara itu mencapai 3,2 miliar dolas AS.

“Oh, itu kenaikan harga telur ayam nggak seberapa, jangan diributkan ya. Perjanjian dagang dengan India senilai US$ 3,2 miliar itu lah yang ditulis,” kata Zulkifli di Aula Kementerian Perdagangan, Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, saat blusukan ke pasar, Zulhas mengakui ada kenaikan harga telur. Ia berjanji akan menurunkan harga pangan, termasuk telur.

Dia berkesimpulan, saat ini komoditas telur ayam mengalami kelebihan pasokan (oversupply), sehingga banyak yang dimatikan ketika menetas. Hal itu lantaran pemerintah khawatir harga telur menjadi rendah. “Memang telur ada naik sedikit kemarin Rp 32.000 minggu lalu Rp 27.000 tapi sekarang Rp 29.000-30.000 per kilogram,” kata Zulhas di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menilai bercandaan Mendag tidak lucu. Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri meminta Zulhas serius dalam memberikan pernyataan dan tak bikin gaduh. Kata dia, kenaikan harga telur ini bikin emak-emak menjerit. “Sebaiknya pemerintah segera mencarikan solusinya,” kata Mansuri, dalam keterangan tertulis, tadi malam.

 

Mansuri mengatakan, kenaikan harga telur ayam sudah terjadi sejak bulan lalu. Dari Rp 27 ribu sampai sekarang Rp 32 ribu per kilogram. Menurut dia, ini kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

“Telur adalah komoditas yang cukup besar permintaannya. Jika tinggi harganya akan jadi masalah. Kami harapkan Mendag bisa menyelesaikan persoalan ini secepatnya,” ujarnya.

Di dunia maya, cara Zulhas menyikapi kenaikan harga telur ayam mendapat sorotan dari warganet. Eks mentri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti ikutan mengomentari berita terkait. Namun, Bos Susi Air ini tak mengomentari dengan kata-kata. Susi hanya memberikan ikon tertawa sebanyak 8 biji.

Follower Susi penasaran dengan tanda senyum manis itu. Menurut @yunusbara71, ikon senyum manis itu adalah sindiran terhadap respons Zulhas yang panik. “Seharusnya menteri memberi alasan kenapa naik. Minimal masyarakat dapat informasi yang menenangkan. Bukan nambah bingung. Begitu kan, Bu?,” tulisnya sambil mencolek akun @susipudjiastuti.

Warganet yang lain mengomentari dengan candaan kain. Akun @aviation603 mengaku heran dengan kenaikan harga pangan yang bergantian. Kata dia, hal tersebut bikin masyarakat bingung. “Dulu mau goreng telor minyaknya mahal, sekarang saat minyak curah mulai murah telornya mahal,” ujarnya.

“Hello pak mendag, nggak seberapa buat kalian, buat kami itu sangat tinggi pak. Telur ayam itu makanan kami kami yang tidak punya duit banyak untuk beli daging atau ayam, tolong dong pak mendag mengerti…… “, protes @lartohadi. “Ini menteri nggak punya empati ke rakyat kecil,” timpal @Ajie14500881. ■

]]> Baru beres persoalan minyak goreng, kini rakyat kecil dibikin susah dengan melonjaknya harga telur ayam. Sudah 2 pekan ini, harga telur ayam menembus angka Rp 30 ribuan per kilogram, angka tertinggi dalam sejarah. Menyikapi hal itu, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan jawab serius dan bercanda. Warganet yang kecewa, meluapkan kekesalannya pada Zulhas-sapaan Mendag.

Harga telur ayam terpantau naik sejak awal Juli lalu. Perlahan tapi pasti, harga telur yang biasa dibandrol Rp 23 ribu per kilogram naik ke Rp 27 ribu per kilogram. Masuk bulan Agustus, bukanya turun, harganya makin meroket. Dalam 2 pekan terakhir, harganya sudah tembus Rp 30 ribu per kilogram.

Di Pasar Pluit Jakarta, harga telur bahkan melonjak hingga Rp 30 ribu per kilogram. Di beberapa daerah seperti di Kalimantan dan Sulawesi, harganya sudah mencapai Rp 35-37 ribu per kilogram. Merujuk dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) rata-rata nasional harga telur ayam per hari kemarin adalah Rp 30.900 per kilogram.

Meskipun harga telur ayam sudah meresahkan, Zulhas meminta hal tersebut tidak usai diributkan. Dengan nada candaan, Ketum PAN ini malah pamer nota kesepahaman perjanjian dagang yang dilakukan kementerian yang dipimpinnya dengan India. Nota perdagangan 2 negara itu mencapai 3,2 miliar dolas AS.

“Oh, itu kenaikan harga telur ayam nggak seberapa, jangan diributkan ya. Perjanjian dagang dengan India senilai US$ 3,2 miliar itu lah yang ditulis,” kata Zulkifli di Aula Kementerian Perdagangan, Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, saat blusukan ke pasar, Zulhas mengakui ada kenaikan harga telur. Ia berjanji akan menurunkan harga pangan, termasuk telur.

Dia berkesimpulan, saat ini komoditas telur ayam mengalami kelebihan pasokan (oversupply), sehingga banyak yang dimatikan ketika menetas. Hal itu lantaran pemerintah khawatir harga telur menjadi rendah. “Memang telur ada naik sedikit kemarin Rp 32.000 minggu lalu Rp 27.000 tapi sekarang Rp 29.000-30.000 per kilogram,” kata Zulhas di Pasar Tomang Barat, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menilai bercandaan Mendag tidak lucu. Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri meminta Zulhas serius dalam memberikan pernyataan dan tak bikin gaduh. Kata dia, kenaikan harga telur ini bikin emak-emak menjerit. “Sebaiknya pemerintah segera mencarikan solusinya,” kata Mansuri, dalam keterangan tertulis, tadi malam.

 

Mansuri mengatakan, kenaikan harga telur ayam sudah terjadi sejak bulan lalu. Dari Rp 27 ribu sampai sekarang Rp 32 ribu per kilogram. Menurut dia, ini kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

“Telur adalah komoditas yang cukup besar permintaannya. Jika tinggi harganya akan jadi masalah. Kami harapkan Mendag bisa menyelesaikan persoalan ini secepatnya,” ujarnya.

Di dunia maya, cara Zulhas menyikapi kenaikan harga telur ayam mendapat sorotan dari warganet. Eks mentri kelautan dan perikanan Susi Pudjiastuti ikutan mengomentari berita terkait. Namun, Bos Susi Air ini tak mengomentari dengan kata-kata. Susi hanya memberikan ikon tertawa sebanyak 8 biji.

Follower Susi penasaran dengan tanda senyum manis itu. Menurut @yunusbara71, ikon senyum manis itu adalah sindiran terhadap respons Zulhas yang panik. “Seharusnya menteri memberi alasan kenapa naik. Minimal masyarakat dapat informasi yang menenangkan. Bukan nambah bingung. Begitu kan, Bu?,” tulisnya sambil mencolek akun @susipudjiastuti.

Warganet yang lain mengomentari dengan candaan kain. Akun @aviation603 mengaku heran dengan kenaikan harga pangan yang bergantian. Kata dia, hal tersebut bikin masyarakat bingung. “Dulu mau goreng telor minyaknya mahal, sekarang saat minyak curah mulai murah telornya mahal,” ujarnya.

“Hello pak mendag, nggak seberapa buat kalian, buat kami itu sangat tinggi pak. Telur ayam itu makanan kami kami yang tidak punya duit banyak untuk beli daging atau ayam, tolong dong pak mendag mengerti…… “, protes @lartohadi. “Ini menteri nggak punya empati ke rakyat kecil,” timpal @Ajie14500881. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories