Tekor Nyaris Rp 40 T, Bandara Heathrow London Ulangi Krisis Era 1970-an

Bandara Heathrow, London melaporkan kerugian 2 miliar poundsterling atau Rp 39,9 triliun selama pandemi Covid-19. Mengulang buruknya nasib keuangan di era 1970-an.

Tahun 2020 merupakan tahun terpahit dalam sejarah Bandara Heathrow, yang tahun ini berusia 75 tahun.

Kerugian akibat pandemi, mencapai titik nadir. Bahkan, bandara terbesar di Inggris yang membuka penerbangan komersil sejak 31 Mei 1946, sudah mengumumkan tak akan beroperasi untuk sementara, bila jumlah penumpang pesawat masih minim.

Meski begitu, CEO Heathrow John Holland-Kaye menegaskan, bandara yang dikelolanya masih kuat secara finansial hingga 2023.

“Di musim panas ini, aktivitas liburan tampaknya mulai pulih,” ujar Holland-Kaye seperti dikutip BBC, Rabu (24/2).

Mengacu pada rencana pemerintah Inggris terhadap kebijakan lockdown yang kini diterapkan, penerbangan internasional diharapkan mulai beroperasi kembali pada Mei mendatang.

Holland-Kaye menambahkan, perjalanan menuju Inggris dari negara-negara yang berisiko rendah terhadap penyebaran Covid seperti Selandia Baru dan Singapura, tidak membutuhkan tes Covid.

Sementara pelancong yang berasal dari negara-negara berisiko sedang, tetap harus melampirkan tes Covid. Sedangkan mereka yang berasal dari negara-negara berisiko tinggi, wajib menjalani aturan pengendalian Covid yang ketat, seperti karantina. [HES]

]]> Bandara Heathrow, London melaporkan kerugian 2 miliar poundsterling atau Rp 39,9 triliun selama pandemi Covid-19. Mengulang buruknya nasib keuangan di era 1970-an.

Tahun 2020 merupakan tahun terpahit dalam sejarah Bandara Heathrow, yang tahun ini berusia 75 tahun.

Kerugian akibat pandemi, mencapai titik nadir. Bahkan, bandara terbesar di Inggris yang membuka penerbangan komersil sejak 31 Mei 1946, sudah mengumumkan tak akan beroperasi untuk sementara, bila jumlah penumpang pesawat masih minim.

Meski begitu, CEO Heathrow John Holland-Kaye menegaskan, bandara yang dikelolanya masih kuat secara finansial hingga 2023.

“Di musim panas ini, aktivitas liburan tampaknya mulai pulih,” ujar Holland-Kaye seperti dikutip BBC, Rabu (24/2).

Mengacu pada rencana pemerintah Inggris terhadap kebijakan lockdown yang kini diterapkan, penerbangan internasional diharapkan mulai beroperasi kembali pada Mei mendatang.

Holland-Kaye menambahkan, perjalanan menuju Inggris dari negara-negara yang berisiko rendah terhadap penyebaran Covid seperti Selandia Baru dan Singapura, tidak membutuhkan tes Covid.

Sementara pelancong yang berasal dari negara-negara berisiko sedang, tetap harus melampirkan tes Covid. Sedangkan mereka yang berasal dari negara-negara berisiko tinggi, wajib menjalani aturan pengendalian Covid yang ketat, seperti karantina. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories