Tax Amnesty Jilid II Bikin Rupiah Perkasa

Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka menguat. Rupiah menguat 0,24 persen ke level Rp 14.340 per dolar AS, dibanding penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.375 per dolar AS.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,48 persen menjadi 89,810.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah tipis 0,07 persen ke level Rp 17.574, terhadap poundsterling Inggris menguat 0,04 persen ke level Rp 20.367, dan terhadap dolar Australia juga melonjak 0,15 persen ke level Rp 11.147.

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi memprediksi, rupiah di pasar spot bakal bergerak fluktuatif, dan cenderung melemah. Ini dikarenakan hasil risalah pertemuan Federal Reserve yang dirilis Rabu (19/5) waktu AS, yang membicarakan rencana pengurangan pembelian obligasi dari bank sentral AS tersebut.

Dalam risalah itu disebut, The Fed mulai diskusi tentang pengurangan laju pembelian aset, jika pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam mendapatkan momentum.

Menurutnya, hal ini mengejutkan investor, mengingat Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan, tepat setelah pertemuan bulan lalu bahwa belum waktunya untuk mulai membahas perubahan kebijakan apa pun.

“Di sisi lain, rupiah juga mendapat sentimen internal terkait rencana pemerintah memberikan tax amnesty,” imbuhnya dalam riset, Jumat (21/5).

Hal tersebut dilakukan karena pemerintah sedang membutuhkan dana cukup besar, dan pada tax amnesty sebelumnya masih banyak pelaku usaha yang belum melaporkan kekayaannya.

Terutama di kota-kota besar di luar DKI Jakarta dan Surabaya. Kalau seandainya semua pengusaha di Indonesia secara suka rela melakukan tax amnesty, tentu negara akan mendapatkan dana yang cukup besar bahkan bisa menutupi defisit anggaran selama ini.

“Walau begitu, rupiah diproyeksi kembali ditutup melemah, dalam rentang Rp 14.360-14.450 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]

]]> Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka menguat. Rupiah menguat 0,24 persen ke level Rp 14.340 per dolar AS, dibanding penutupan perdagangan kemarin di level Rp 14.375 per dolar AS.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,48 persen menjadi 89,810.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah tipis 0,07 persen ke level Rp 17.574, terhadap poundsterling Inggris menguat 0,04 persen ke level Rp 20.367, dan terhadap dolar Australia juga melonjak 0,15 persen ke level Rp 11.147.

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi memprediksi, rupiah di pasar spot bakal bergerak fluktuatif, dan cenderung melemah. Ini dikarenakan hasil risalah pertemuan Federal Reserve yang dirilis Rabu (19/5) waktu AS, yang membicarakan rencana pengurangan pembelian obligasi dari bank sentral AS tersebut.

Dalam risalah itu disebut, The Fed mulai diskusi tentang pengurangan laju pembelian aset, jika pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam mendapatkan momentum.

Menurutnya, hal ini mengejutkan investor, mengingat Ketua The Fed, Jerome Powell mengatakan, tepat setelah pertemuan bulan lalu bahwa belum waktunya untuk mulai membahas perubahan kebijakan apa pun.

“Di sisi lain, rupiah juga mendapat sentimen internal terkait rencana pemerintah memberikan tax amnesty,” imbuhnya dalam riset, Jumat (21/5).

Hal tersebut dilakukan karena pemerintah sedang membutuhkan dana cukup besar, dan pada tax amnesty sebelumnya masih banyak pelaku usaha yang belum melaporkan kekayaannya.

Terutama di kota-kota besar di luar DKI Jakarta dan Surabaya. Kalau seandainya semua pengusaha di Indonesia secara suka rela melakukan tax amnesty, tentu negara akan mendapatkan dana yang cukup besar bahkan bisa menutupi defisit anggaran selama ini.

“Walau begitu, rupiah diproyeksi kembali ditutup melemah, dalam rentang Rp 14.360-14.450 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories