Tantangan Global Umat Masa Depan (1) Agama Semakin Berjarak Dengan Para Pemeluknya

Tantangan umat masa depan dengan semakin berkem­bangnya sains dan teknologi, ditambah dengan semakin mobile-nya masyarakat ialah munculnya jarak antara agama dan pemeluknya. Hal ini bukan hanya masalah satu agama, tetapi semua agama dan kepercayaan lainnya.

Jika agama berjarak dengan pemeluknya, sudah pasti akan muncul persoalan kemanusiaan yang komplit. Agama hadir untuk memanusiakan manusia, sekaligus melanggengkan nilai-nilai kemanusiaan itu.

Adalah tanggung jawab kita semua, khususnya pemimpin umat beragama untuk memikirkan, agar agama tidak berse­berang jalan dengan pemeluknya.

Agama harus dipertahankan sebagai pandangan hidup (way of life) bagi pemeluknya. Apakah masih bisa disebut agama jika tanpa pemeluk? Atau, masih bisakah disebut manusia, tanpa agama? Agama tanpa pemeluk bisa berubah menjadi mitos, dan manusia tanpa agama, bisa berubah menjadi monster.

Jika hipotesis agama dan pemeluknya semakin berjarak maka langkah-langkah strategis apa yang seharusnya dilaku­kan? Ukuran untuk melihat kecenderungan ini bisa kita lihat pada kenyataan ril diri sendiri atau melalui keluarga kita. Apa kata agama dan apa yang kita lakukaan?

Jawabannya sangat jelas, bahwa kita memang sedang teralienasi dari ajaran agama kita secara utuh. Kita mengikuti sebagian ajaran agama, tetapi bagian lain dari ajaran agama kita sudah tinggalkan dengan berbagai alasan.

Lingkungan pacu kita sebagai umat beragama semakin teruji (untuk tidak mengatakan semakin rusak). Sebaliknya, agama juga terkesan tidak lagi simetris dengan lingkungan pacunya sendiri.

Salah satu faktornya ialah masa depan datang lebih awal melampaui kecepatan kita menyiapkan diri. Mestinya, masa depan itu datang 50 atau 100 tahun lagi, tetapi sudah terlanjur masuk dalam kamar-kamar, bahkan dalam saku kita. Apa jadin­ya jika masa depan datang lebih awal dari perkiraan kita?

Pertanyaan ini dianalisis lebih cermat oleh Prof Clifford Geertz dalam bukunya The Observed. Geertz membayang­kan suatu masyarakat yang akan mengalami apa yang disebut dengan kepribadian ganda (split personality).

 

Sayang sekali, Geertz, ahli antropologi agama senior dari Amerika Serikat yang melakukan penelitian doktornya di Indonesia ini, keburu wafat sebelum menyaksikan predik­sinya menjelma menjadi suatu kenyataan.

Apa yang pernah diprediksi Geertz kini banyak melanda umat beragama. Antara konsep ajaran dan realitas sosial semakin berjarak, sehingga tidak jarang kita temukan orang mengalami disorientasi dan kepribadian ganda dalam ke­hidupan beragama.

Ada suasana hipokrit dan antagonistik yang dialami banyak orang dewasa ini. Dari satu sisi ia harus berpegang teguh terhadap ajaran agamanya, tetapi pada sisi lain, realitas sosial kehidupannya begitu banyak berubah dengan cepat, sehingga terjadi jarak yang semakin melebar antara agama dan para pemeluknya.

Sebagai seorang yang beragama di abad metaverse ini, kita sering mengesankan agama itu terlalu normatif, lebih bersifat dogmatis, doktrinal, membatasi, lebih berorientasi masa lampau, terkesan konservatif, statis, terlalu tekstual, emosional, lebih bersifat kualitatif dan pendekatannya lebih bersifat deduktif.

Sementara dalam kehidupan ril, masyarakat sedemikian rasionalnya, bahkan cenderung liberal, membebaskan, lebih berorientasi masa depan, lebih dinamis dan mobile, sofisticated, lebih bersifat kuantitatif dan pendekatannya lebih bersifat induktif.

Tentu saja memecahkan persoalan ini tidak mudah, karena dimensinya sangat kompleks. Yang pasti, uamt beragama ditun­tut sesegera mungkin melakukan penyerasian antara tuntunan agama dan tuntutan kehidupan ril dalam masyarakat.

Laju perkembangan globalisasi yang dipicu oleh perkem­bangan sains dan teknologi serta media informasi, teleko­munikasi, dan transportasi yang begitu canggih. Akibat perkembangan yang sedemikian cepat ini, melahirkan multiple shock, kekagetan multi dimensi dalam masyarakat, bukan saja cultural shock seperti yang pernah diprediksi Alfin Toffler di tahun 1980-an. ■

]]> Tantangan umat masa depan dengan semakin berkem­bangnya sains dan teknologi, ditambah dengan semakin mobile-nya masyarakat ialah munculnya jarak antara agama dan pemeluknya. Hal ini bukan hanya masalah satu agama, tetapi semua agama dan kepercayaan lainnya.

Jika agama berjarak dengan pemeluknya, sudah pasti akan muncul persoalan kemanusiaan yang komplit. Agama hadir untuk memanusiakan manusia, sekaligus melanggengkan nilai-nilai kemanusiaan itu.

Adalah tanggung jawab kita semua, khususnya pemimpin umat beragama untuk memikirkan, agar agama tidak berse­berang jalan dengan pemeluknya.

Agama harus dipertahankan sebagai pandangan hidup (way of life) bagi pemeluknya. Apakah masih bisa disebut agama jika tanpa pemeluk? Atau, masih bisakah disebut manusia, tanpa agama? Agama tanpa pemeluk bisa berubah menjadi mitos, dan manusia tanpa agama, bisa berubah menjadi monster.

Jika hipotesis agama dan pemeluknya semakin berjarak maka langkah-langkah strategis apa yang seharusnya dilaku­kan? Ukuran untuk melihat kecenderungan ini bisa kita lihat pada kenyataan ril diri sendiri atau melalui keluarga kita. Apa kata agama dan apa yang kita lakukaan?

Jawabannya sangat jelas, bahwa kita memang sedang teralienasi dari ajaran agama kita secara utuh. Kita mengikuti sebagian ajaran agama, tetapi bagian lain dari ajaran agama kita sudah tinggalkan dengan berbagai alasan.

Lingkungan pacu kita sebagai umat beragama semakin teruji (untuk tidak mengatakan semakin rusak). Sebaliknya, agama juga terkesan tidak lagi simetris dengan lingkungan pacunya sendiri.

Salah satu faktornya ialah masa depan datang lebih awal melampaui kecepatan kita menyiapkan diri. Mestinya, masa depan itu datang 50 atau 100 tahun lagi, tetapi sudah terlanjur masuk dalam kamar-kamar, bahkan dalam saku kita. Apa jadin­ya jika masa depan datang lebih awal dari perkiraan kita?

Pertanyaan ini dianalisis lebih cermat oleh Prof Clifford Geertz dalam bukunya The Observed. Geertz membayang­kan suatu masyarakat yang akan mengalami apa yang disebut dengan kepribadian ganda (split personality).

 

Sayang sekali, Geertz, ahli antropologi agama senior dari Amerika Serikat yang melakukan penelitian doktornya di Indonesia ini, keburu wafat sebelum menyaksikan predik­sinya menjelma menjadi suatu kenyataan.

Apa yang pernah diprediksi Geertz kini banyak melanda umat beragama. Antara konsep ajaran dan realitas sosial semakin berjarak, sehingga tidak jarang kita temukan orang mengalami disorientasi dan kepribadian ganda dalam ke­hidupan beragama.

Ada suasana hipokrit dan antagonistik yang dialami banyak orang dewasa ini. Dari satu sisi ia harus berpegang teguh terhadap ajaran agamanya, tetapi pada sisi lain, realitas sosial kehidupannya begitu banyak berubah dengan cepat, sehingga terjadi jarak yang semakin melebar antara agama dan para pemeluknya.

Sebagai seorang yang beragama di abad metaverse ini, kita sering mengesankan agama itu terlalu normatif, lebih bersifat dogmatis, doktrinal, membatasi, lebih berorientasi masa lampau, terkesan konservatif, statis, terlalu tekstual, emosional, lebih bersifat kualitatif dan pendekatannya lebih bersifat deduktif.

Sementara dalam kehidupan ril, masyarakat sedemikian rasionalnya, bahkan cenderung liberal, membebaskan, lebih berorientasi masa depan, lebih dinamis dan mobile, sofisticated, lebih bersifat kuantitatif dan pendekatannya lebih bersifat induktif.

Tentu saja memecahkan persoalan ini tidak mudah, karena dimensinya sangat kompleks. Yang pasti, uamt beragama ditun­tut sesegera mungkin melakukan penyerasian antara tuntunan agama dan tuntutan kehidupan ril dalam masyarakat.

Laju perkembangan globalisasi yang dipicu oleh perkem­bangan sains dan teknologi serta media informasi, teleko­munikasi, dan transportasi yang begitu canggih. Akibat perkembangan yang sedemikian cepat ini, melahirkan multiple shock, kekagetan multi dimensi dalam masyarakat, bukan saja cultural shock seperti yang pernah diprediksi Alfin Toffler di tahun 1980-an. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories